Ramadhan #6

10:53:00 AM Brian zenict 0 Comments


Edisi : Masjid Al Akbar Surabaya

Hari ke enam ramadhan,

Sore tiba, usai kerja praktek langsung meluncur ke target masjid berikutnya. Sudah 3 masjid yang saya kunjungi selama 5 hari ini. Masjid Al Akbar adalah yang ke 4 di hari yang ke enam ramadhan 1436 H. Niatnya ? jangan ditanya. Mungkin akan sedikit rumit menjelaskannya, hehehe. Mencari takjil ? bisa jadi. Sekedar ngabuburit ? emm...bisa juga. Cari jodoh ? kalo itu belum terfikirkan, mungkin bisa dimasukkan daftar niatan untuk perjalanan ke depan. hahaha. Yang jelas niat awal adalah iktikaf di masjid dengan nuansa variasi masjid yang berbeda - beda. Hari ini ku dapatkan satu pelajaran berharga setelah merenung dari kejadian yang ada.

Secuil cerita,

Sampai di Masjid Al Akbar, sedikit jepretan kamera buat dokumen sejarah kelak di hari tua. hehehe.
Saya dan teman saya sebut saja ia si A. Masuk masjid sudah disambut karpet hijau membentang panjang tersedia kurma yang sudah dalam bungkusan dan air putih berjajar rapi mengikuti bentangan karpet hijau tadi. Setelah lepas sepatu kami ambil posisi masuk masjid dan mendengarkan ceramah singkat sambil melakukan kebiasaan, dokumentasi. hehehe

Saya kasih tahu ya kawan, setiap masjid memiliki ketentuan sendiri - sendiri dalam membagikan makanan berbuka (seperangkat nasi dan lauk pauk). Ada yang sebelum sholat magrib sudah dibagikan dan ada pula yang sesudah sholat magrib. Nah, kalo masjid Al Akbar sebelum sholat magrib membatalkan puasa dengan makan takjil dan air putih. Sedangkan makanan berbuka akan dibagikan ba'da sholat magrib.

Saat saya jelaskan bahwa makanan berbuka dibagikan ba'da magrib ke temen saya tadi, iya temen saya yang barusan bareng ke Masjid Al Akbar, ia merespon," wah kalo gini sholat magribnya ndak bisa khusyuk."

"Mikirin dapat atau tidak makanan buka?" tanya ku.

"Iya bro, lihat aja yang datang ke Masjid Al Akbar kayak apa, banyak banget. Probabilitasnya kecil nih." jawabnya kemudian.

"Ya ndak usah dipikirin toh, santai. Rezeki Allah tak kan ketukar. Bila udah rezeki kita ya pasti dapat nanti."

Usai makan takjil, ambil langkah untuk sholat magrib. Sudah ambil wudlu sebelumnya bro...

Selesai sholat, balik badan menuju pintu keluar antrian sudah panjang. Para jamaah mengambil makanan. InsyaAllah dapat... gumamku dalam hati. hehehe

Benar. memang kalo udah rezeki ya pasti dapat.

Usai makan cabut pulang, bukan pulang sih ganti masjid untuk sholat tarawih.

"Lhoh, sepatu ku mana bro?" tanya temen saya si A.

"Iya ya.. kog ndak ada? coba tak bantu cari" jawabku sambil mencari sepatu.

"Wah... hilang nih", gumam si A sambil memasang wajah menyerah.

"Emm. sepatu mu terlalu mencolok bagusnya. Jadinya orang lain pun tertarik."

"Ok, coba cari lagi sebelah sana " ,tunjuk ku di barisan yang berbeda tempat meletakkan alas kaki.

"Lhoh ini sepatu ku bro..." Ucap si A dengan gembira.
"Alhamdulillah."

"Jauh banget pindahnya."

"Ya, memang itu masih rezeki mu. Kalo rezeki itu ndak bakalan ketukar." ucap ku.

"Wah, kapok aku. Lain kali ndak kesini lagi." jawab si A.

"Lhoh kenapa lho, lain kali ganti pakai sandal swallow aja. hahaha" jawab ku.

Kami melangkah meninggalkan Masjid penuh berkah dan hikmah.
Pelajaran yang kudapat.
Rezeki tidak kemana - mana. Allah yang mengaturnya. Jadi ndak perlu risau atau galau dengan ekspektasi logika yang belum tentu sama dengan yang Allah takdirkan.
Darisini,
Kalau udah rezekinya dapat makanan buka, ya pasti dapat.
Kalau sepatu itu masih rezeki kita, tak akan kemana - mana, pasti kembali.

Tinggal seberapa besar usaha kita meraihnya.

Kalo dia jodoh mu, pasti suatu saat akan bertamu.
Lho, beda topik ya ?
hehehe
Kita bahas lain kali hal itu.

#Hikmah Ramadhan 

0 komentar: