Tampilkan postingan dengan label Jejak Kita. Tampilkan semua postingan

Akhirnya Push Up Juga



Alhamdulillah masih bisa menikmati segarnya pagi hari, saatnya ikhtiar menjemput rezekiNya.

“Gimana mas, siap ? Tahu jalan ke tempat brifing ?” tanyaku kepada mas yusman. Partner survey yang akan aku jalani pagi ini. Sebelum survey ada brifing pendahuluan dari Kominfo (pihak yang mengadakan survey).

“Gampanglah, sambil jalan kita cari lewat GPS. Hp ku canggih kog.”jawabnya.

“OK. Siap.” Balasku sambil tancap gas motor.

“masih lama mas?” tanyaku setelah 30 menit melaju mencari tempat yang dituju.

“200 meter lagi belok kiri. Nah itu tuh ada belokan belok kiri.” Jawab mas yusman sambil menunjuk belokan jalan di depan.

“ini kan kearah juanda mas.”

“iya betul kog. Setelah itu 200 meter lagi belok kanan.”

Langsung setelah terlihat ada penyeberangan jalan ke kanan aku ambil arah ke kanan.

“puter balik atau belok kanan lurus itu mas?” tanyaku berhenti sejenak di penyeberangan jalan.

“belok kanan itu lurus aja.”jawabnya meyakinkan.
“kog gapuranya bertuliskan MARINIR mas? Serius?” tanyaku masih mencoba meyakinkan diri.

“iya lurus aja.”

Sejurus kemudian ku tancap gas motorku lurus memasuki lokasi bertuliskan gapura MARINIR. Ku lihat ada penjaga berdiri di sebuah kiri jalan. Sepertinya penjaga itu tadi mengatakan sesuatu tapi kurang terdengar oleh ku, Ah abaikan aja pikirku. Baru beberapa meter terpaksa kami harus berhenti.

“Stop ! stop ! “,terdengar keras suara di kiri jalan seperti tempat posko. Ada 3 orang berpakaian marinir menyuruh kami turun. Mas yusman turun nyamperin tuh orang, aku tetap duduk di motor.

“Kamu tidak lihat tulisan papan di depan?” ucap salah satu orang yang berkumis paling tebal diantara yang lain dengan nada tinggi. Dia komandannya kayaknya pikirku.

Entah apa yang dikatakan mas yusman. Dia disuruh lihat papan didekat penjaga yang berdiri di depan awal kami masuk. Aku pun turun tangan, aku samperi tuh orang berkumis tebal.

“maaf pak, kominfo sebelah mana ya?”tanyaku.

“lihat ! Lihat lagi papan di depan sana ! Biarkan motornya disini. “

“emang apa pak tulisannya?”tanyaku.

“makanya lihat ke depan sana ! Biarkan motornya disini.” Ucapnya dengan nada tinggi.

“baik pak.” Ucapku mencoba tersenyum meski jujur dalam hati menyelinap rasa takut. Bukan takut orangnya. Tapi takut salah.

Aku berjalan menghampiri mas yusman,” apa tulisannya mas?”
“Harap turun.” Jawabnya.

Oh pantesan, ternyata aku memang salah. tuturku dalam hati.
Kami menghampiri komandan, “ maaf pak. Kami salah, sekali lagi mohon maaf.”

“kalian mau kemana?”Tanya seorang marinir yang agak muda.

“kami sedang mencari lokasi kominfo pak.”jawabku singkat.

“disini adalah MARINIR. KOMINFO itu apa?” jawabnya.

Eh? KOMINFO TIDAK TAHU? Tanyaku dalam hati.

“Maaf pak. Kami hanya mengikuti petunjuk pada GPS HP. Tidak tahu kalau jadinya slah alamat.” Sanggahku.

“Ok, alasan kalian aku terima. Sekarang push up 25 kali !”lanjutnya.

“Heh?”spontan terucap olehku.

“Heh ..heh. Apa kamu mau aku suruh nyemplung got (masuk selokan)?” sentaknya.

“siap pak.”jawabku kemudian tanpa kompromi lagi.

“sambil berhitung !” tambah si marinir konyol itu.

“satu..dua..tiga… lima belas”
“cukup ! kemari !” ucap si marinir.

“ini sebagai pelajaran untuk kalian. Ini bukan perumahan bisa bebas masuk seenaknya. Ini masih di marinir. Coba kalian masuk kayak gini di angkatan darat. Jauh lebih berat lagi. Sekarang minta maaf sama komandan saya” lanjut marinir muda.

“maaf pak” ucapku sambil berjabat tangan kepada semua marinir yang ada di posko tersebut. Begitu juga dengan mas yusman yang sedari tadi terdiam mencoba mencari makna maksud kejadian ini semua.

“mari pak , assalamualaykum.” Ucapku sambil menuntun motor keluar gerbang.

“Akhirnya olahraga juga mas.” Ucapku lirih kepada mas yusman.

“ternyata pengaderan di kampus taka da apa-apanya dibanding ini.”jawab mas yusman.

“oh ya mas, emang tadi sampean bilang apa ke marinir?”

“tadi aku bilang,’saya kira ini perumahan pak’.” Kata mas yusman.
Hahaha konyol mas yusman ini.

Pelajaran pagi, kejadian ini artinya Allah menegur ku yang akhir-akhir ini jarang olahraga.

“mas, aneh banget. Padahal biasanya saya push up paling kuat cuman 10 kali, ini sampai 15 kali.” Ucapku sambil mengendarai motor.

“sama. Kepepet jadi semangat. Mekso. “


Hahahahaha akhirnya push up juga.
Alhamdulillah...

Secangkir Rindu di Tepi Pantai


Masih teringat jelas beberapa bulan silam tersusun rapi sebuah rencana beserta segala pernak – perniknya tertuang dalam kertas dan ditemani secangkir kopi. Dan berujung pada secangkir rindu di dalam hati.

Perjalanan cinta kini sampai ke sebuah pantai Kondang Merak (tertulis pada papan gapura saat memasuki kawasan pantai), Malang. Perjalanan cinta bukanlah sebuah perjalanan yang mudah dan selalu menyenangkan, namun tersirat makna cinta di setiap jengkal langkahnya. Bagi yang mau memahami dan menikmati perjalanan ini. Dan akhirnya perjalanan ini dimulai dengan motivasi, just do it.

Tak kusangka aku bisa menikmati dinginnya pantai saat malam hari, menikmati makanan khas anak kemahan, nasi hitam (nasi gosong maksudnya). Pun merasakan asinnya air laut, meski ada yang bilang air laut itu tawar, orang itu hanya berusaha agar ada yang membuktikan kebenarannya (padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya). Dan yang menarik lagi aku pun melakukan pemutihan kulit, dengan  cara menggosok kulit dengan pasir di tengah terik matahari. Tak kusangka metode itu aku lakukan tanpa meneliti lebih jauh sumber jelasnya darimana. Hanya sekedar percaya dari seorang teman yang benar – benar konyol pada akhirnya. Bukan putih, yang ada malah makin gelap.

Meski banyak pengalaman asin yang aku lalui selama perjalanan ke pantai Kondang Merak. Mulai dari anggaran dana yang sangat minim saat itu, motor yang susah di ajak kompromi saat melewati jalanan terjal dan berbatu, dinginnya malam yang menusuk tulang – tulangku, dan pahitnya nasi hitam ala jomblo yang masih belajar menjadi suami teladan buat istrinya nanti. Semua pengalaman itu adalah sebuah bentuk dari cinta yang aku lalui bersama teman.

Nasi yang pahit terasa biasa saja karena banyak yang merasakan, dinginnya malam terasa hangat karena tidur yang saling berhimpitan ( 5 orang dalam 1 tenda ), beratnya perjalanan terasa ringan karena saling beriringan, bersama teman. Teman adalah sebuah perjalanan cinta yang tak terbilang harganya karena ia bersifat abstrak namun indah menelisik ke dalam dada.

Akhirnya secangkir rindu itu telah ku seruput perlahan di tepian pantai yang menyegarkan.

Lebih baik jalan dulu baru berencana daripada berencana dan tak berjalan pada akhirnya.
(Berlaku pada episode ini)


6 syawal 1436 H

Memori,




Ramadhan #17


Edisi : Masjid Ummul Mu'minin

Hari ke tujuh belas ramadhan

Seuntai taujih tarawih
oleh Ustad Syamsudin


Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa,”Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (mekkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. [QS.Ibrahim : 35]

Pelajaran dari kalamullah di atas bahwa nabi Ibrahim sangat peduli dan menginginkan generasi selanjutnya agar lebih baik. Begitu pula kita saat ini, harusnya kita juga sangat peduli dengan masa depan generasi umat selanjutnya. Dengan mendidik anak-anak kita agar menjadi generasi yang lebih baik. Lingkunganlah yang berpengaruh besar dalam mempengaruhi perkembangan buah hati. Semua bayi terlahir dalam keadaan suci, bagai kertas putih yang bersih. Orang tua, keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan yang nantinya akan memberi warna dalam kertas tersebut. Tugasnya orang tua untuk bisa mendidik dan mengarahkan agar anak tetap berada dalam lingkungan yang baik. Karena tantangan ke depan jauh lebih berat daripada tantangan yang kita hadapi saat ini, apalagi tantangan yang telah berlalu.

Ambil contoh aja di dunia pekerjaan, dulu lulusan SMK langsung bisa masuk kerja di pertamina yang merupakan perusahan cukup besar. Saat ini saja lulusan sarjana belum tentu bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan tingkat statusnya, kecuali benar – benar melalui seleksi yang ketat dan yang lolos adalah SDM yang benar – benar berkualitas. Hal itu dikarenakan kuantitas lapangan pekerjaan jauh lebih sedikit dibanding jumlah pencari pekerjaan yang makin meningkat. Nah apalagi di tahun - tahun berikutnya, maka jauh lebih berat lagi. Kita harus lebih peduli untuk membentuk generasi selanjutnya agar jauh lebih baik lagi dari segi akhlak dan intelektualnya. Hubungan sosial juga harus kita didik agar mereka generasi muda peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Pada Qur'an surat Ibrahim : 35 di atas, kenapa nabi Ibrahim berdoa agar anak cucunya tidak menyembah berhala ? padahal keturunan seorang nabi, yang sudah terbukti begitu kuat keimanannya.
Itu karena lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Menurut tafsir ulama berhala dalam hal ini yang dimaksud adalah segala hal yang membuat orang lalai dari dzikir kepada Allah. Istri, harta, anak-anak, tahta, bahkan main game juga. Semua, hal - hal yang membuat kita lalai tidak berdzikir kepada Allah. Misal main game, karena keasyikan lama tidak henti – henti sehinggga lalai tidak berdzikir kepada Allah. Lupa dengan Allah. Dia telah menjadikan game sebagai berhalanya sendiri. Jadi berhala tidak bisa lagi kita sebut secara konvensional berupa patung yang dipahat dan disembah sendiri. Sekarang di era modern berhala menjelma dalam berbagai bentuk yang juga modern rupanya.

Nah, di bulan ramadhan ini yang penuh dengan ampunan dan keberkahan mari kita semua saling memperbaiki diri. Seperti yang Allah firmankan yang artinya, “ wahai orang-orang yang beriman ! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [QS Al Baqarah : 183 ]

Puasa tidak cukup menahan keabsahan puasa saja, menahan lapar, berhubungan dengan istri, sampai terbenam matahari, tidak hanya itu. Puasa adalah juga menahan diri dari hawa nafsu, menahan agar tidak marah, menahan untuk tidak berkata kotor, menahan agar tidak mencela, menahan agar tidak berdusta, dan sebagainya. Cobalah mari kita rasakan kenikmatannya, kenikmatan tidak hanya makan kenyang setelah seharian menahan lapar dan bisa bercanda sepuasnya dengan istri di malam hari, tidak sekedar itu. Coba mari kita rasakan kenikmatan yang sifatnya abstrak, misal menahan marah padahal bisa saja kita marah-marah saat itu, nikmat rasanya. Atau dengan menahan diri dari balas dendam kepada orang yang telah mencelakakan kita sebelumnya, meski saat itu bisa saja dengan mudah melampiaskan dendam itu. Nikmat bukan ? atau misal menahan diri dari dusta meski saat itu sudah tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan kita selain berdusta, oh betapa nikmatnya.

Nah jika kita bisa merasakan betapa nikmat yang selama ini terlihat abstrak maka ramadhan ini kita bisa mencapai derajat taqwa. Semoga ramadhan ini bisa mendidik kita dan juga para generasi umat islam selanjutnya bisa jauh lebih baik lagi.

Ditulis usai sholat tarawih di dalam kos, berteman dengan sunyi.
Ramadhan #17

Keep Istiqomah.


Ramadhan #16



BangBangWetan
"Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi"

Lokasi :
Balai Pemuda Surabaya

Masih dalam keramaian malam ramadhan yang penuh dengan keberkahan, usai tarawih tiga pemuda yang berbeda asal, beda cara pandang, namun satu kos-kosan dan satu tujuan malam ini tergerak untuk tholabul ilmi. Balai pemuda surabaya tempat mereka kini berada. Maiyahan ( dari kata bahasa arab ma'a berarti bersama, ma'iyyatullah berarti kebersamaan dengan Allah) katakan aja semacam pengajian bersama secara universal. BangBangWetan adalah komunitas maiyahan yang ada di Surabaya. Ditengah - tengah keramaian malam balai pemuda, mereka para pemuda duduk manis di bawah teduhnya cahaya rembulan melantunkan sholawat nabi sambil menikmati tarian sufi. 

Sayup - sayup mulai dibuka diskusi oleh pembawa acara " Ada yang tahu makna tema malam ini? Sadumuk bathuk sanyari bumi."
Banyak dari penonton yang angkat tangan untuk unjuk bicara. Salah satu yang menarik dari ungkapan salah seorang penonton dan mengundang tawa, " Ini temanya kog seperti mengandung unsur politik ya. Sadumuk bathuk sanyari bumi seperti menggambarkan kondisi pemerintahan saat ini. Kondisi bangsa yang mulai sakit dijajah secara perlahan oleh negara asing. Arah diskusi malam ini sepertinya mengupas perihal politik dalam negeri. Ya, tidak apalah, daripada tidak ada tema lain."

Kata - kata yang terakhir dari ungkapan tadi membuat geram pembawa acara," Hanjrit...! daripada tidak ada tema lain jare.. Iki panitia mikir tema ne ae suwe cak ! Gelek sing cocok. " 

"Iya tadi sekedar intermezo aja. Biar semua yang ada disini sadar bahwa bangsa ini sedang sakit. Bangsa ini mulai diinjak-injak oleh asing. Maka sadaro ! Kehormatan bangsa telah diinjak-injak, Ayo mati-matian dibelo !" ucap pemuda yang menanggapi ucapannya di awal tadi.

Gemuruh tepuk tangan dari penonton lain diiringi tawa.

Kemudian tema dijelaskan oleh panitia bahwa bangsa ini sedang sakit. Bathuk bisa diartikan kehormatan bangsa ini, sanyari bumi yang berarti meski sejengkal tanah. Tanah air kita ibu pertiwi dan segala yang ada di dalamnya adalah milik orang indonesia. Tanah ini (bathuk ini) jika kita sebagai warga indonesia merasa memiliki seharusnya sadar dan tak rela jika harus dibeli dan diduduki oleh orang asing. Walau hanya sejengkal tanah harus kita bela mati - matian. Maslahnya apakah kita masih merasa memiliki bathuk? 

Bangsa ini sakit, dalam mengatasi ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama kesadaran diri akan rasa sakit yang diderita, kemudian dicek sakit apakah itu? selanjutnya diobati. Masalahnya apakah kita merasa sakit ? jika tidak merasa sakit, ya tidak mungkin tahu penyakit itu apa. Apalagi harus mikir untuk mengobati, tutur salah satu panitia bernama mbak Viha. Masih muda cantik pula. Beliau mbak cantik Viha juga sempat membacakan sebuah puisi yang sangat menyentuh hati.

TANAH AIRMATA

Tanah airmata tanah tumpah darahku
Mata air air mata kami
Airmata tanah air kami

Disinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami

Di balik gembur subur tanahmu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase gedung-gedungmu
Kami coba sembunyikan derita kami

Kami coba simpan nestapa kami
Kami coba kuburkan dukalara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana

Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Kemanapun melangkah
Kalian pijak airmata kami
Kemana pun terbang
Kalian kan hinggap di airmata kami
Kemanapun berlayar
Kalian  arungi airmata kami

Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman airmata kami

oleh : Sutardji Calzoum Bachri

Terceletuk statement dari salah satu penonton yang juga ikut mengomentari, Jangan menunggu pemerintahan untuk mengobati masalah ini. Mulailah dari diri sendiri. Untuk mengubah bangsa ini.
Ayo sadar diri, untuk membela tanah air kita. Jika menunggu pemerintah untuk bergerak, bisa - bisa penyakit ini sampai harus menanggung resiko untuk diamputasi.

Sebelum diskusi berlanjut diselingi dulu oleh sebuah lagu yang dibawakan oleh komunitas waiyahan dari Jombang bernama "Padhang Mbulan". Bismillah judul lagu yang berdendang merdu mengalun syahdu di malam yang mulai membuka tabir berganti hari. Jam 23.15 ketiga pemuda itu terpaksa harus kembali ke kos meski acara waiyahan belum selesai. "Besok saya kerja praktek bro. Takut bangun kesiangan nanti." celetuk salah satu dari tiga pemuda itu.

Bismillah...
Ya Allahu ya kariim...
Bismillah...
Ya rahman ya rahim...

Lantunan lagu mengiringi perjalanan mereka dan terngiang dengan sayup - sayup memecah keheningan malam. 

#Catatan malam 15 ramadhan

Ramadhan #8


Edisi : Masjid Al Falah Surabaya

Hari ke delapan ramadhan

Seperti biasa, usai kerja praktek target selanjutnya adalah masjid Al falah.
Ketentuan pembagian makanan berbuka sangat unik. Konsepnya sama seperti masjid - msjid sebelumnya yang pernah ku datangi. Jamaah masjid diberi kupon sebagai tanda pengambilan makanan berbuka. Namun dalam praktiknya, disini letak uniknya.
Usai salam sholat maghrib, panitia masjid memberi pengumuman agar jamaah tidak melakukan sholat sunnah rowatib dulu karena panitia akan membagikan kupon. Benar, mulai dari ujung barisan panitia berjalan membagikan kupon diantara shaf untuk para jamaah masjid. Hal ini baru saya jumpai di masjid Al alfalah. Unik dan berbeda, dunia tak lepas dari variasi.

***
Sebelum sholat isya' ada ceramah singkat.

Terkadang kita melihat kebaikan Allah dari sudut pandang materi saja.
Sebenarnya banyak sekali rahmat dan nikmat yang Allah berikan kepada makluknya, tak hanya berupa materi namun juga non materi. Jika kita anggap bahwa kebaikan Allah hanya berupa materi saja, apakah orang miskin tidak mendapat nikmat dan kebaikan dari Allah?
Semua makluk diberi kebaikan oleh Allah. Hanya saja kita yang masih kurang mampu melihat kebaikan - kebaikan tersebut. Jika pagi hari engkau bangun dan kau dapati jatung masih berdetak ditambah lagi badan masih sehat, itulah nikmat.

Kebaikan non materi disebutkan dalam ceramah sebagai berikut.

Jika seseorang mendapat 4 kebaikan ini, ia mendapat kebaikan dunia dan akhirat.

1. Menjadi pribadi dan jiwa yang pandai bersyukur.
Tidak semua orang bisa bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang Allah turunkan. Terkadang diberi sedikit ujian berupa kekurangan tak sedikit orang yang mengeluh bukannya sabar. Ketika diberi rezeki yang berlimpah bukannya bersyukur malah lupa dengan Allah dan tak mau sedekah. Pandai bersyukur adalah kebaikan dari Allah.

2. Walisanan dzakirrah (lisan yang selalu berdzikir).
Lisan selalu basah dengan dzikir kepada Allah, dan hati yang selalu mengingat kepada Allah.

3. Badan (fisik) yang segar untuk menghadapi cobaan.
Fisik yang sehat adalah nikmat dari Allah agar seorang hamba kuat menghadapi ujian. Karena Allah pasti akan memberikan cobaan untuk mereka makluknya. Ujian dengan sesuatu yang disukai maupun yang tidak disukai makluknya. Ujian bisa berupa Allah memberikan harta yang berlimpah, tahta yang dan juga wanita.

4. Wazaujatan sholihatan (menganugerahkan istri yang soleha).
Dibalik kesuksesan dakwah tak lain adalah dorongan dari istri yang soleha. Seperti halnya kisah siti khadijah yang mengerahkan semua jiwa, raga, dan hartanya untuk kepentingan dakwah Rosulullah SAW.

Semoga kita bisa lebih peka dan mampu mengambil hikmah agar selalu bersyukur atas segala ketentuanNya.

#Semangat Ramadhan menimba ilmu

Ramadhan #6


Edisi : Masjid Al Akbar Surabaya

Hari ke enam ramadhan,

Sore tiba, usai kerja praktek langsung meluncur ke target masjid berikutnya. Sudah 3 masjid yang saya kunjungi selama 5 hari ini. Masjid Al Akbar adalah yang ke 4 di hari yang ke enam ramadhan 1436 H. Niatnya ? jangan ditanya. Mungkin akan sedikit rumit menjelaskannya, hehehe. Mencari takjil ? bisa jadi. Sekedar ngabuburit ? emm...bisa juga. Cari jodoh ? kalo itu belum terfikirkan, mungkin bisa dimasukkan daftar niatan untuk perjalanan ke depan. hahaha. Yang jelas niat awal adalah iktikaf di masjid dengan nuansa variasi masjid yang berbeda - beda. Hari ini ku dapatkan satu pelajaran berharga setelah merenung dari kejadian yang ada.

Secuil cerita,

Sampai di Masjid Al Akbar, sedikit jepretan kamera buat dokumen sejarah kelak di hari tua. hehehe.
Saya dan teman saya sebut saja ia si A. Masuk masjid sudah disambut karpet hijau membentang panjang tersedia kurma yang sudah dalam bungkusan dan air putih berjajar rapi mengikuti bentangan karpet hijau tadi. Setelah lepas sepatu kami ambil posisi masuk masjid dan mendengarkan ceramah singkat sambil melakukan kebiasaan, dokumentasi. hehehe

Saya kasih tahu ya kawan, setiap masjid memiliki ketentuan sendiri - sendiri dalam membagikan makanan berbuka (seperangkat nasi dan lauk pauk). Ada yang sebelum sholat magrib sudah dibagikan dan ada pula yang sesudah sholat magrib. Nah, kalo masjid Al Akbar sebelum sholat magrib membatalkan puasa dengan makan takjil dan air putih. Sedangkan makanan berbuka akan dibagikan ba'da sholat magrib.

Saat saya jelaskan bahwa makanan berbuka dibagikan ba'da magrib ke temen saya tadi, iya temen saya yang barusan bareng ke Masjid Al Akbar, ia merespon," wah kalo gini sholat magribnya ndak bisa khusyuk."

"Mikirin dapat atau tidak makanan buka?" tanya ku.

"Iya bro, lihat aja yang datang ke Masjid Al Akbar kayak apa, banyak banget. Probabilitasnya kecil nih." jawabnya kemudian.

"Ya ndak usah dipikirin toh, santai. Rezeki Allah tak kan ketukar. Bila udah rezeki kita ya pasti dapat nanti."

Usai makan takjil, ambil langkah untuk sholat magrib. Sudah ambil wudlu sebelumnya bro...

Selesai sholat, balik badan menuju pintu keluar antrian sudah panjang. Para jamaah mengambil makanan. InsyaAllah dapat... gumamku dalam hati. hehehe

Benar. memang kalo udah rezeki ya pasti dapat.

Usai makan cabut pulang, bukan pulang sih ganti masjid untuk sholat tarawih.

"Lhoh, sepatu ku mana bro?" tanya temen saya si A.

"Iya ya.. kog ndak ada? coba tak bantu cari" jawabku sambil mencari sepatu.

"Wah... hilang nih", gumam si A sambil memasang wajah menyerah.

"Emm. sepatu mu terlalu mencolok bagusnya. Jadinya orang lain pun tertarik."

"Ok, coba cari lagi sebelah sana " ,tunjuk ku di barisan yang berbeda tempat meletakkan alas kaki.

"Lhoh ini sepatu ku bro..." Ucap si A dengan gembira.
"Alhamdulillah."

"Jauh banget pindahnya."

"Ya, memang itu masih rezeki mu. Kalo rezeki itu ndak bakalan ketukar." ucap ku.

"Wah, kapok aku. Lain kali ndak kesini lagi." jawab si A.

"Lhoh kenapa lho, lain kali ganti pakai sandal swallow aja. hahaha" jawab ku.

Kami melangkah meninggalkan Masjid penuh berkah dan hikmah.
Pelajaran yang kudapat.
Rezeki tidak kemana - mana. Allah yang mengaturnya. Jadi ndak perlu risau atau galau dengan ekspektasi logika yang belum tentu sama dengan yang Allah takdirkan.
Darisini,
Kalau udah rezekinya dapat makanan buka, ya pasti dapat.
Kalau sepatu itu masih rezeki kita, tak akan kemana - mana, pasti kembali.

Tinggal seberapa besar usaha kita meraihnya.

Kalo dia jodoh mu, pasti suatu saat akan bertamu.
Lho, beda topik ya ?
hehehe
Kita bahas lain kali hal itu.

#Hikmah Ramadhan 

Ramadhan #5


Ramadhan penuh berkah

"Mas, nanti mau ikut buka bersama ?" tanya mas amir, salah satu karyawan JPIP (Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi ) tempat kami kerja praktek.

"gmana har ?" tanya Alfan temen kerja praktek ku, secara spontan dan semangat.

"Em, menurut mu ?" tanya ku balik.

"Kalo aku sih ok ok aja." jawabnya sambil cengar-cengir.

"Ok. " jawab ku mengiyakan.

"Ok mas, insyaAllah ikut buka bersama.

Tak terduga, padahal rencana awal mau berbuka di masjid Al Akbar yang tak jauh juga dari tempat KP. Tapi rezeki itu memang datangnya tak disangka - sangka. Allah Tahu aja kalo perbaikan gizi sangat diperlukan bagi anak kos. 

Alhamdulillah, rencana ke Masjid Al Akbar ditunda besok aja.

***
#Alhamdulillah
... dan syukur lah yang selalu berulang - ulang ku ucapkan.