Uang Bukan Tuhan
Uang bukanlah Tuhan,
Uang bukanlah segalanya,
Segalanya tak harus dengan uang.
Inilah kisahku, menapaki keyakinan. Alasan dari kata-kataku barusan.
Lembar pertama.
Dimulai dari rumah (kos), perbekalan –buku-buku, laptop, dompet- sudah
siap. Saatnya ngampus.
Motor, helm, siap! Start…cckckkckk
Kog ndak jalan nih motor? gumamku dalam hati.
Asumsi pertama, bensin habis –sense statistic ku muncul.
Eh ternyata benar, tangki bensin kosong momplong.
Terpaksa dah, harus jadi lelaki kuat –dorong motor.
Sekitar 500 meter tempat kos sampai jalan raya. Maklum, kos perumahan.
Hehehe
Keringat bercucuran udah, nafas ngos-ngosan juga udah, toleh kanan –
kiri. Ndak ada tanda-tanda kehidupan buat nih motor.
“Pak, mau tanya. Sekitar sini ada yang jual bensin eceran atau tidak
ya?” tanyaku pada seorang tukang becak dekat pertokoan.
“ndak ada sekitar sini jualan bensin. Masnya jalan dulu mengikuti jalan
raya ini sekitar 500 meter. Nanti akan ada pom bensin.”
Heh ? 500 meter lagi? gumamku dalam hati.
“eh… matur suwun pak, mari.”
Bisa –bisa aku harus mandi keringat di pagi setengah siang ini.
Sial, padahal aku ada uang. Kenapa tetap harus sengsara gini gara-gara
motor kehabisan bensin. Ya memang sih, motor ndak bisa di suap pakai uang agar
mau jalan.
Mungkin nih motor lagi nge-tawa-in aku, Cukuplah bensin bagiku.
Ternyata uang memang bukan segalanya, tetap saja motor butuh bensin
bukan uang. Meski ada setumpuk uang, kalau ndak ada bensin, ya kayak gini.
Jadinya malah jalan-jalan sama motor, bukannya sama pasangan. Eh…emang udah
punya.
Lembar kedua.
Malang nian nasibku kali ini.
Usai tertekan survey yang harus kelar hari ini, alhasil aku harus
men-tamat-kan survey sampai larut malam. Inilah tim survey Kediri, aku dan tiga
kawan beda umur jauh dariku. Aku paling muda diantara mereka bertiga, ah bukan
ini intinya aku cerita. Ok lanjut.
Waktu menunjukkan angka yang mengerikan, 00.00.
Kami berempat menyusuri jalanan Kediri menuju tempat kembali, Surabaya.
Ada dua motor, jadi sudah pasti boncengan.
Sial pertama, aku harus nge-bonceng temen ku yang gen**t. Skok motorku
sampai tiada hentinya manggut-manggut. Jalanan sepi. Melewati belantara hutan
yang berpenghuni. Baru sepertiga perjalanan, tiba-tiba…cesss.
Sial yang kedua, ban motor bocor,
Wah, gimana ini? Jalanan sepi lagi. Mana ada tambal ban malam-malam
gini, gumamku dalam hati.
“Si Kha**b dan Hab**ah tadi kemana ton?” tanya temen semotorku.
“udah duluan kayaknya,”jawabku.
Sial ketiga, aku ditinggal oleh dua temenku.
Ditelpon ndak bisa, di sms ndak diangkat. Kurang ajar benar.
“wah terpaksa dah, dorong motor,”ucapku kemudian.
“itu tuh ada tambal ban, yah tutup,”celoteh temen semotorku.
Aku diam saja, menikmati malam sambil jalan-jalan sama motor tercinta.
Capek juga ternyata. Sampai kapan penderitaan ini akan tertebus oleh kehadiran
tukang tambal ban. Malam – malam gini juga, mana ada pula. Haruskah aku jalan
sampai Surabaya (?)
Padahal aku ada uang di dompet. Kenapa uang tidak bisa membungkam nih
motor agar bisa jalan (?) kenapa nih uang tak berguna sama sekali disaat – saat
genting seperti ini (?) Dimana orang yang dulu pernah berkata tentang uang -uang
bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang- perlu diluruskan akidahnya.
Memang uang bukan segalanya, dan ternyata segalanya pun tidak butuh uang.
Seperti saat ini, uang tidak punya daya maupun kuasa. Ia pengecut yang hanya
berdiam diri dalam dompet.
Pada akhirnya aku harus jalan kaki dan kembali… kepada Tuhan yang
hakiki, Allah SWT.
Dia tegak berdiri mengawasi, dan Dia Maha Mendengar Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang berserah diri.
Sekitar 700 meter ku lalui, dan teman semotorku yang sedari tadi hanya
menyemangati, malang nian nasibku kali ini.
Ada tulisan di pojok jalan bertikung, TAMBAL BAN. Ada secercah kehidupan
di malam buta ini. Aku bergegas, belok kanan, parkir motor, tanya orang.
“Pak, tambal ban (?)”ucapku, atau lebih tepatnya bertanya.
“Bukan.”
Deng…sial.
“coba tanya di rumah depan itu, dia yang biasa tambal ban,”lanjut tuh
bapak kemudian
“Baik Pak.” (semangat)
“Kalau orangnya belum tidur,”lanjut si bapak lagi.
Heh…? (Lemes)
Sampek depan rumah, si punya rumah keluar.
“Tambal ban nak?”tanya beliau.
“iya Pak, alhamdulilah.”jawabku.
Sambil nunggu tambal ban, dua orang yang kukenal datang.
“lapo Ton?”tanya si Kha**b.
“ngopi !”jawabku sekenanya.
Hahaha…
Perlu kalian ketahui, ini adalah campur tangan Tuhan.
Seakan Tuhan bertanya, ‘Sekarang lihatlah, apa sesungguhnya yang kau
butuhkan (?)’
Ku jawab,’aku butuh Tukang Tambal Ban…, tentu atas seizin-Mu’
Allah Tuhanku.
Siapakah Tuhanmu?
Lembar ketiga.
Masih dalam pengalaman seorang surveyor jalanan.
Kali ini, tim survey Kota Malang ada dua orang, dia adalah aku dan temen
seperjuanganku, Kha**b. Selama tiga hari ku lalui, target survey belum juga
terpenuhi. Bayaran aja belum, nih saldo di ATM mulai angkat tangan, dompet juga
mulai dilanda kekeringan.
Waktu menjelang malam, adzan magrib pun berkumandang. Begitu syahdu,
mengiringi nasibku malam ini tanpa uang.
Usai sholat, “Ton, makan yuk.” Ajak si Kha**b.
“Ok, makan dimana?”jawabku mengulur waktu.
“udah, jalan dulu.”
“ok.”jawabku, sambil mengirim sms ke salah satu sahabat jauhku.
Akh, bisa pinjam uangnya? Tolong transfer ke rekening saya ya –sms.
Ya Rabb, meski aku pinjam uang, jika tanpa ridlo-Mu, tak mungkin pula
aku dapat pinjaman uang, meski dia sahabatku sendiri. Aku berserah diri pada-Mu,
gumamku saat itu.
“makan disitu aja gimana?”tanya si Kha**b.
Ditunjuknya warung bertuliskan, SATE AYAM DAN KAMBING.
“Ok lah,”jawabku. Sambil ngecek inbox, pesan masuk.
Bisa akh, no rekeningnya? –sms.
Alhamdulillah.
Ini 14*******. Syukron akh. Kalau udah terkirim tolong kabari lagi ya –
sms.
Tak perlu lagi ku tengok inbox, yang ku butuhkan saat ini adalah
tawakal. Semoga uang transfernya tidak salah sasaran. Dan juga harus makan,
karena dua porsi sate ayam sudah dihidangkan.
“minum apa Ton?”tanya si Kha**b.
Apa aja yang paling murah,
“Es teh aja.”jawabku.
“Ok, es teh dua pak.”
Alhamdulillah bisa makan malam, kenyang udah.
“Berapa totalnya pak?”tanyaku sok-sok-an pada si penjual sate.
“36.000,- nak.”jawabnya dengan enteng.
Heh…? Gumamku dalam hati.
“Bib, ada uang?”tanyaku.
“Biar aku yang bayar.”jawabnya.
“suwun lho Bib, kamu slalu tahu maksudku,”lanjutku.
Ah betapa nikmatnya, tak perlu pakai uang buat makan aja.
Hanya perlu meminta pada-Nya. Dan Dia Maha Tahu Maha Kaya.
“gantian,”lanjut si Kha**b.
“apanya?”responku mencoba canda-in dia. Sebenarnya aku sudah tahu
maksudnya.
“bonceng motor, hahaha”
Ah, dia juga pandai bercanda juga ternyata.
Terkadang hanya sekedar makan aja, tidak harus ada uang. Yang dibutuhkan
adalah seorang teman, dan juga Tuhan, pastinya.
Ternyata uang bukanlah segalanya, dan segalanya tak harus dengan uang.
Semestinya, segalanya butuh yang namanya “kehadiran Tuhan”. Dia Maha
Kaya Maha Kuasa. Lewat apa saja rizkiNya diturunkan, salah satunya melalui
teman.
So, baik-baiklah dengan yang namanya “teman” karena Allah ta’ala. hehehe
Hadirkan Allah disetiap urusan.
Anas bin Malik berkata,”aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “siapa
yang ingin dilapangkan rezekinya dan diperpanjang umurnya, hendaknya dia
menyambung silaturrahim” –Bukhari (2067), Muslim (2557).










0 komentar: