Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

FREKUENSI



Kita terlahir memang berbeda
Pada ruang dan waktu yang tak sama
Dalam gugus bintang yang berlainan
Dan jarak menjaga kita
entah berapa lama
Tak peduli musim terus berganti
entah berapa kali
Tinta pertemuan telah mengering
Tertulis nama kita untuk saling bersanding
Tak lama lagi

Maka kamu yang disana
Tak perlu risau mencari dan tergesa
Usah kau bersedih menunggu lama

Kelak saat kita bertemu
Ku kan mudah mengenalimu
Suaramu…
Yang mampu menggetarkan hatiku hanya
Senyummu…
Sebab jantung ini berdegup lebih lama
Dan tutur sikapmu
Telah lama aku mengenalnya
Karena kita pernah bertemu sebelumnya
Jiwa kita saling mengenal sejak lama
Hati kita telah terpaut oleh janji untuk saling bersama
Dihadapan-Nya

Maka getar itu
Aku mengenalinya


Karna frekuensi kita sama.


oleh Brianzenict

selesai ditulis
14122016

Sourcephoto:Unsplash.com

BATAS



Bergantinya daun-daun hijau
Walaupun belum musimnya semi
Bermekar bunga-bunga di surga
Meski tak ada hujan menepi
Dan pagi yang berganti senja
Berharap tak lagi ada jeda
Antara kamu dan aku

Namun biru langit yang teduh
Adanya keikhlasan untuk saling jauh
Dan bulan terlihat indah bercahaya
Adalah jarak untuk saling percaya
Dan spasi diantara kita
Berharap menjadi bait-bait cinta
Untuk saling pasrah dan menerima

Ketika hati dihujan rindu
Sedangkan suara masih kelu
Dan asa ingin bersama
Pada janji yang terpisah waktu
Sungguh tak ada batas paling indah
Hanya doa tempat kita bertemu

Jadi izinkan aku menyapamu
Sebatas aksara dalam prosa
Disetiap jeda kata dalam doa

Batas kita.


oleh Brianzenict

selesai ditulis
29112016

wahai hati, bersabarlah



Wahai hati, bersabarlah
Kuncup bunga pasti mekar pada musimnya
Dan air,
Tak kan salah memilih jalannya
Ia hanya akan mengalir ke muara

Wahai hati, bersabarlah
Allah sudah menuliskannya
Bahkan jauh sebelum kita terlahir ke dunia
Maka,
Masih adakah sangsi dilangkahmu pada-Nya?

Wahai kamu, penyimpan rindu
Bahkan rindupun bukan milikmu
Allah lebih berhak akan itu
Maka tatkala rindu semakin deras menghujanimu
Kamu tak perlu payung untuk berlindung
Biarkan setiap tetesnya menjadi nikmat menuju taat
Kepada Allah kamu semakin dekat

Maka ketika itu,
Bisikkan setiap bait-bait cintamu
Agar Allah mencabut reda hujan rindu

Untukmu, penyimpan cinta
Jangan lalai terhadap rasa
Bahkan cinta itu lebih pantas bersanding dengan-Nya
Bukan aku, yang hanya seorang hamba

Namun ketika tertulis namaku
Disela-sela cintamu untuk-Nya
Maka diamlah dulu kamu disana, sementara
Sedangkan aku akan tetap disini
Biarlah jarak menjadi prosa kita dalam berbenah diri
Tak perlu ada sapa, tak perlu
Bagiku, lewat doa suaramu terdengar merdu

Aku akan tetap disini, tak akan kemana
Sedang kamu, disitu saja
Biarkan air tetap mengalir,
dan kuncup bunga mekar pada musimnya

Jangan terlena pada cinta yang prematur
Bahkan Allah tak menyukai tergesa-gesa
Maka ketika waktu membuka tabir lembaran langit
Tak ada kata terluka yang menyesaki hati
Hanyalah syukur yang berlipat berkali-kali

Maka tetaplah kamu disana,
dan aku disini

Wahai hati.


oleh Brianzenict
menunggu pagi.


#Rindu23092016


Potongan yang usang



Setiap kali pulang,
potongan-potongan kenangan itu kembali membayang
di jalanan yang berlubang,
pada setapak jalan di pematang,
bangku-bangku sekolah yang usang,
di tepian tanah yang lapang,
beringin yang lebat menjulang,
aku biasa bersandar disana, saat siang.
menunggu bel masuk kelas berdentang.
lagi dan lagi,
kulewati jalanan yang dulu pernah kuberlari
terlambat sekolah sesekali
dan selalu beruntung guru tidak mengetahui
menyelinap, masuk, saat kelas sedang sepi
sekali lagi potongan itu kembali
aku selalu tersenyum, sendiri
hingga aku sampai dititik ini, berdiri
Bukankah terlalu naif dan dusta besar bila semua ini
kuanggap sebagai kebetulan yang memabukkan
kita boleh mabuk, asal selalu sadar bahwa
Allah selalu punya cerita untuk kita
Allah selalu ada, melihat, mendengarkan

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

#Saat pulang
#SebuahPerjalanan

Tentang Kamu



Ingin ku hapus semua warna
yang pernah menjadi pelangi di langit hati
Dan berbagai rasa yang pernah singgah disana
Tak hanya senja
juga bintang gemintang di langit mayapada
Tapi sayang,
Aku tak punya penghapus ajaib itu

Dan kamu,
Masih saja duduk menunggu

Aku akan pergi,
Tak ingin ku menoleh lagi
Tak ingin lagi kembali
Tapi,
Kau buat buntu setiap jalan yang kutemui


Kenapa kamu masih saja menunggu?




ditulis 3 Juni 2016
Sourcephoto: http://justais.blogspot.co.id/2011_11_01_archive.html

(Dia)m



“HP kamu ya?”celetuknya tiba-tiba. Aku menoleh.

“Oh iya, nemu dimana?” aku tersenyum padanya. Kemudian mengambil HP itu dari pelukan tangannya.

“Serambi Mushola,”jawabnya singkat, datar.

“makasih ya,”lanjutku agak kaku.

“Tak usah,”jawabnya ketus. Lantas berbalik dan bergegas pergi.

“Eh tunggu, kenapa?”tanyaku lagi, langkahnya terhenti.

“Tak apa,”dia membalikkan badannya, tertunduk wajahnya.

“Afwan,”ucapku memecah sunyi yang sangat tak mengenakkan hati.

“Sekali lagi, cukup berkata makasih ataupun minta maaf padaku,” ucapnya tegas, ia berbalik bergegas, khimarnya berkibar tersapu angin sore. Aku tersenyum, mencoba menerka – terka makna senja yang berpantul di wajahnya.

Maaf, aku tak ingin banyak berharap, cukup Allah bagiku berserah diri gumam hatiku.

Maka izinkan aku untuk lebih banyak diam, daripada bicara, apalagi bertatap muka. Dan aku tak berharap kamu untuk paham, diamlah sebanyak yang kamu bisa. Aku pun juga sama.

Jika di hatimu ada getar rasa, aku pun sama.
Maka diamlah, dan rasakan detaknya.

Berdo’alah agar detak itu tidak berhenti ditelan waktu.
Aku pun begitu.



 ditulis kala malam
30 april 2016


sourcePhoto: https://arnityani.wordpress.com/

Alone




Bukan sakit tubuhku. Bahkan luka pun tak ada, atau menggores disana. Kalau engkau melihat fisik ku, maka akan kau dapati, aku baik-baik saja. Namun tidakkah kamu mau menengok jiwaku yang sembab oleh tangisannya?

Aku sedang sakit, hatiku, jiwaku, perih oleh kesendirian yang mengiris bak sembilu. Luka menganga di jiwa, dan air nestapa tumpah menambah perih luka. Tahukah kamu kesendirian ini menikamku begitu lama. Hingga ku tergolek futur tak berdaya.

Aku melangkah seorang diri dalam kesunyian yang entah itu sebuah keputusan, kepasrahan atau kebodohan. Aku bisa melangkah cepat, berlari, tapi lelah tidak pernah bosan membuntuti, dan tenagaku terkuras habis tak bersisa. Aku jatuh ke lembah yang bernama putus asa.

Aku sedang sakit. Tak tahu berbuat apa. Sedangkan kalian hanya diam, dan aku yang bodoh ini tak lagi punya kekuatan. Aku terbaring bersama luka kesendirian. Tak ada kawan, jauh dari tujuan.

Dan aku tak ingin menambah luka ini dengan luka baru: penyesalan.
Cukup Allah yang tahu.


di tengah sore
14 April 2016

Sourcephoto: http://kerstyne.com/2015/08/24/ratacire/

Cinta (1)



Jangan kau tanyakan, kenapa aku mencintaimu.
Karna cinta datang tak membawa pesan,
Bagaimana mungkin aku bisa memberimu sebuah alasan.

Cinta, hadir seperti angin tak berwarna. Bagaikan wangi tak berupa.
Namun aku merasakannya, segarnya. Menghirupnya lama-lama.

Cinta terkadang laksana badai dahsyat, menghantam karang hati dengan kuat.
Aku pun berlari, sembunyi. Takut mendekatinya acap kali.

Namun ketika cinta datang mengetuk pintu hati,
Haruskah aku menjadi tuan rumah yang tak tahu diri?

Kenapa kamu masih membawa tanya, tak mengerti.
Aku tak punya sederet tafsir untuk mengurainya.
Bukankah penting pembuktian diri,

daripada banyak kata ?


ditulis di tepian malam sunyi
12 April 2016

SourcePhoto: http://www.ummi-online.com/10-tips-agar-cinta-tak-memudar.html

Sepucuk Surat, Setangkai Rasa



Untuk Dewi,
di balik dinding kaca bertabir sunyi

Maaf, aku menuliskan ini untukmu
Jika kamu tak berkenan, kamu bisa membuangnya,
tak usah kamu lanjutkan membaca
Namun jika kamu tak tega, tolong bacalah…
Meski sedikit saja, tak lama

Ini tentang rasa
Tentang pergulatan pikiran di ujung pena
Tentang suara yang beresonansi di hati
Tentang malu yang menyelinap tiba-tiba
Tentang rindu yang singgah tanpa permisi
Tentang kamu,
yang membuat gagu lisanku

Disinilah tempatku berdiam
Di deretan kata-kata yang bisu
Diantara frasa yang terbungkam
Hanyalah pena, kertas dan secangkir diksi
Untuk menyapamu.

Adakah rasa yang sama disitu?
Tepat di hatimu.

Ku biarkan tabir itu menutup jiwaku
Izinkanku melihatmu di seberang rindu

Salam sahabat,

Riyan

cuplikan dari naskah cerita "Balasan"
Nantikan episodenya, pekan depan.

selesai ditulis 
26 Maret 2016

source photo: https://tabirjodoh.wordpress.com/category/puisi-jodoh/

Celoteh Hati



Aku bergeser beberapa senti
dari persinggahan hati malam ini
Kopi semakin dingin tersaji
terhanyut arus sang waktu
menunggu, suaramu

Seakan hening bermuka masam
Bosan menatap kita saling diam
Aku diam menunggu
Kamu pun begitu
Tak ada yang mau mengalah untuk memulai bicara
Kita berdua seakan berlomba 
menenggelamkan diri dalam diam lama-lama

Aku menjadi jengah akhirnya
Posisiku disini sebagai laki-laki 
yang harus memulai dulu, biasanya
Ku ambil secangkir kopi itu
yang tlah lama menungguku
Aku ingin menyerah, dan bicara
Tak bisa…
Aku kembali diam, bisu

Lagi-lagi aku kehilangan kata untuk mencipta suara
Lidah ini kelu, Aku gagu

Sepi tak pernah jenuh menunggu
Namun malam semakin bosan dengan tingkah kita
Entah sampai kapan bertahan
Cerita tentang diam
Dua orang yang saling menunggu
Tiada bosan

Ketika mata mulai terpejam
Masihkah kamu disitu?
Menunggu…





 ditulis 17 Maret 2016
malam dan sepi berkonspirasi

Cerita Hujan



Malam ini hujan kembali menyapa
Ia datang tergesa-gesa tanpa malu-malu
Aku berlari dengan terburu
Mencoba menghindari tangan-tangan dinginnya
Dengan cepat ia menangkapku
Mendekapku tanpa ragu
Aku menyerah,
Ku sapa ia dengan senyum ramah
Apa kabarmu, lama tak bersua ya?
Ku pelankan langkah ini
Ia tersenyum namun wajahnya basah
Dengan manja, ia mendekapku lama-lama
Ku tanya,
Apa yang coba ingin kau katakan?
Aku disini mendengarkan.

Langkahku semakin pelan, berjalan
Tubuhku sepenuhnya basah
Ku lihat ia menangis sesenggukan
Hei, apa ada yang salah?
tanyaku
Aku menunggu..., lama
ucapnya kemudian

Aku juga menanti mu
Sampai dahaga mengeringkan rinduku
Namun apadaya,
Aku hanya seorang hamba
Patuh pada titah Tuannya
Saat jarak itu tercipta
Aku membenamkan diri dalam do’a
Ketika Allah setuju
Bukankah kita akhirnya bertemu
Jawabku.

Senyumnya kembali,
Aku ingin berlama-lama
disisimu…
ungkapnya.

Dan aku tak akan kemana-mana
Menemanimu





 ditulis 11 maret 2016
Kala hujan membasahi tubuhku

Gerhana dan Cerita Kita



Ada tiba sebuah masa bahwa jarak dan waktu atas seizinNya berkonspirasi untuk mencipta temu, setelah sekian lama terpisah dalam ruang hampa dan gelap bernama rindu. Adalah aku dan kamu yang selalu sibuk dengan urusan masing-masing, soal hati yang lama tak jumpa dan seakan menjadi asing. Ketika tabir tersingkap dan menjelma sebuah pertemuan yang singkat, meski hanya 3 menit waktu sua, apa yang bisa kita lakukan untuk menggores cerita? Ku yakin tak ada, 3 menit itu hanya akan melukiskan sebuah makna dari dua orang lugu yang terbelenggu oleh rasa, saling pandang, terdiam, tak ada suara. Karena aku masih belum siap dan entah sampai kapan aku lancar berbicara saat pertemuan itu tiba. Tidak lagi gagu. Tidak lagi bisu. Dan kamu, kenapa harus sama denganku? Masihkah ada kesempatan antara jarak dan waktu kembali berkonspirasi mencipta temu? Berapa lama lagi aku dan kamu menunggu di ruang rindu, setelah semua ini berlalu.

Setelah semua ini berlalu.
Ketika pagi dan malam menjadi satu, bertemu.
Apakah rasa ini yang kumiliki dan mungkin juga milikmu, berakhir sesingkat itu?
Sesingkat gerhana matahari dan harus menunggu ratusan tahun lagi.
Apakah aku mampu. Kembali, terbenam di ruang rindu. Pagi dan malam tak lagi bertemu. Karena disana terbentang tabir senja yang membentang menjadi jarak diantara kita.

Apadaya ku punya. Ku rasa senja begitu indah bukan, karenanya kemulian cinta terjaga. Mungkin pada akhirnya aku hanya mampu memandangmu di perbatasan senja. Membisikkan kata cinta melalui angin yang berkelana. Menikmati rindu ini sesekali, saat ini. sampai tiba waktunya. Waktu untuk kita bersatu, atau memang sekedar cerita masa lalu. Apakah gerhana akan kembali sepanjang usia ini, atau ku berakhir sebelum itu kembali terjadi. Lagi-lagi aku tak punya kuasa menuliskan akhir dari cerita ini.

Yang pasti, gerhana memiliki cerita.
Kenapa kita harus bertemu, saat ini.
Sesingkat ini.

Dan mungkin aku harus menjemputmu ke bumi
Bisik sang mentari.


terinspirasi olehnya
kuputuskan untuk menuliskannya
 ba'da subuh
10 Maret 2016

Senja itu kamu (?)


Akhir-akhir ini aku seolah mencari
Sesuatu yang raib dari pandanganku berhari-hari
Keindahannya yang ku tunggu disetiap pergantian waktu
Parasnya yang selalu memahatkan rindu
Seakan memudar secara perlahan dari bilik-bilik hati
Ingin coba ku tahan, tunggu sebentar
Secepat inikah kau memudar
Tunggu sampai ku menemukanmu

Apakah engkau senja?
Yang ku cari-cari dan kurindui setiap hari.

Seminggu ini tak kutemui dikau disana,
tempat biasa kau menyapa
Tak kujumpai paras indahmu disana,
Di perbatasan cakrawala
Apakah engkau enggan dengan pertemuan?
Ataukah ada sesuatu yang coba kau sembunyikan
Apakah itu kiranya
Sehingga kau buat aku rindu merana
Tolong katakan, apa saja
Meski hanya sepatah kata

Hanyalah wajah muram di langit kelam
Dan rintikan kesedihan oleh hujan
Mengisi hari-hariku di perbatasan waktu
Basah sudah seluruh tubuh bercampur peluh
Begitu pula hatiku, basah oleh rindu

Dan engkau senja
Dimanakah engkau selama itu?
Apakah rindu ini milikmu?
Mungkinkah pencarianku ini dirimu
Tak bolehkah aku sebentar saja
Sekedar memandangmu dibalik kaca

Ataukah itu kamu?
Gadis berkerudung biru
Di tepian malam tempat kita bertemu.



Tulisan hati
3 maret 2016

disalin oleh pena
5 maret 2016