wahai hati, bersabarlah
Wahai hati, bersabarlah
Kuncup bunga pasti mekar pada musimnya
Dan air,
Tak kan salah memilih jalannya
Ia hanya akan mengalir ke muara
Wahai hati, bersabarlah
Allah sudah menuliskannya
Bahkan jauh sebelum kita terlahir ke dunia
Maka,
Masih adakah sangsi dilangkahmu pada-Nya?
Wahai kamu, penyimpan rindu
Bahkan rindupun bukan milikmu
Allah lebih berhak akan itu
Maka tatkala rindu semakin deras menghujanimu
Kamu tak perlu payung untuk berlindung
Biarkan setiap tetesnya menjadi nikmat menuju taat
Kepada Allah kamu semakin dekat
Maka ketika itu,
Bisikkan setiap bait-bait cintamu
Agar Allah mencabut reda hujan rindu
Untukmu, penyimpan cinta
Jangan lalai terhadap rasa
Bahkan cinta itu lebih pantas bersanding dengan-Nya
Bukan aku, yang hanya seorang hamba
Namun ketika tertulis namaku
Disela-sela cintamu untuk-Nya
Maka diamlah dulu kamu disana, sementara
Sedangkan aku akan tetap disini
Biarlah jarak menjadi prosa kita dalam berbenah diri
Tak perlu ada sapa, tak perlu
Bagiku, lewat doa suaramu terdengar merdu
Aku akan tetap disini, tak akan kemana
Sedang kamu, disitu saja
Biarkan air tetap mengalir,
dan kuncup bunga mekar pada musimnya
Jangan terlena pada cinta yang prematur
Bahkan Allah tak menyukai tergesa-gesa
Maka ketika waktu membuka tabir lembaran langit
Tak ada kata terluka yang menyesaki hati
Hanyalah syukur yang berlipat berkali-kali
Maka tetaplah kamu disana,
dan aku disini
Wahai hati.
oleh Brianzenict
menunggu pagi.
#Rindu23092016










0 komentar: