Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Wanita Mulia




"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Suatu ketika Sayyidina Ali pulang ke rumah disambut oleh sang istri tercinta, Sayyidah Fatimah Az Zahra.
Bertanya Sayyidah Fatimah kepada suami tercinta,"Dapat apakah Kanda dari Ayahanda?"
Inilah teladan bagi setiap wanita yang mencintai Sayyidah Fatimah, wanita paling mulia ahli surga. Menjemput sang suami bukan lantas bertanya perihal dapat uang berapa? dapat nafkah berapa? namun yang ditanya adalah "dapat ilmu apa saja?"
Dijawab Sayyidina Ali," saya mendapat ilmu banyak, namun ada satu pertanyaan dari Rasulullah yang tidak bisa aku jawab pun oleh para sahabat yang lainnya."
"apakah pertanyaan itu Kanda?"
"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Sayyidah Fatimah tersenyum,"Aku yang punya jawabannya."
Dibisikkanlah ditelinga Sayyidina Ali. Seketika itu Sayyidina Ali matanya berbinar-binar. Wajahnya berseri-seri.
Sayyidina Ali bahagia, dia sudah punya jawaban atas pertanyaan Rasulullah. Jadi dia bisa menjawabnya ketika Rasulullah menanyakannya kembali.
Dalam majelis ilmu Rasulullah menanyakan kembali pertanyaan yang sebelumnya belum terjawab. Dan masih belum ada yang bisa menjawab, kecuali sayyidina Ali, beliau menjawabnya," Kami punya jawabannya ya Rasulullah. Wanita yang mulia itu adalah yang tidak pernah melihat laki-laki dan tidak pernah dilihat laki-laki."
Maknanya apa?
Yakni wanita yang tidak pernah memamerkan dirinya dihadapan laki-laki. Dan tidak pernah suka, risih jika dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Malu jika diperhatikan laki-laki yang tidak halal baginya. Dia yang senantiasa menjaga dirinya dalam kesederhanaan, keluar hanya dengan mahramnya, menjaga lisan dan sikapnya. Itulah iman, itulah kemuliaan. Dialah Sayyidah Fatimah Az Zahra.
***
Kisah itu terus terngiang ditelinganya. Memenuhi setiap ruang pikirannya. Tiba-tiba hatinya mengaduh, meneteskan air mata. Dia bersimpuh, menutup malu wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air itu merembes dari celah-celah jari tangannya. Tak ada suara, hanya air mata yang menetralisir keruh jiwa.
Ya Rabb, ampuni hamba atas segala dosa. Mohon bimbingan-Mu. Hamba ingin berubah, hamba ingin hijrah. Sungguh Engkau sebaik-baik pemberi petunjuk. Ya Allah, Ya Fatah Ya Alim.

“Oke Zahra, kamu harus berubah. Menjadi sosok wanita mulia seperti Bunda Fatimah Az Zahra. Bukankah nama kamu sama. Kamu pasti bisa. Fight!!”
“Mulai sekarang tak ada lagi lirik sana-sini. Tak ada lagi tebar pesona, meski kamu memang cantik. Harus jaga diri dari semua jenis laki-laki. Siap!!”

Hatinya kini mantap. Ia lipat kembali mukenah dan sajadah pada tempatnya. Dia bangkit dan mengepalkan tangan di dada. Dia melangkah keluar meninggalkan mushola kampus yang sepi. Hanya dia seorang dan kicauan burung di dahan. Lima langkah berjalan tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
“Mbak.”
Dia menoleh.
“Maaf Mbak, tadi polpen mbak terjatuh di depan mushola. Saya tak sengaja melihat dan mengambilnya.”
Seorang mahasiswa tampan berwajah cerah, secerah pagi yang membawa kehangatan untuk penduduk bumi. Laki-laki yang dikaguminya secara sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba wajah Zahra memerah, hatinya bergetar, jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Lidahnya kelu tiba-tiba. Pandangannya tertunduk seketika. Ya Allah, secepat inikah Engkau menguji hamba.,,hatinya protes.
“Buat kamu aja,”dia menjawab sekenanya. Kemudian lari meninggalkan laki-laki itu yang dipenuhi tanda tanya.



oleh brianzenict

selesai ditulis:
28112016

Kisah tak Selalu Sempurna



Kisah tak selalu sempurna.
Karena cerita tentang kehidupan tak selalu seperti apa yang kamu tuliskan. Ada kalanya sengaja Allah belokkan. Agar jadi sebuah pelajaran, bahwa akhir sebuah cerita tetap tersimpan di ujung pena tinta-Nya.


Dia terdiam hampir sejam lamanya. Wajahnya lebih dingin daripada udara di musim salju. Tatapannya sendu. Pandangannya terkunci pada jalanan yang sepi. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Malam semakin sunyi dan salju terus berjatuhan di luar jendela kaca tiada henti. Kurasa malam ini akan jadi malam yang panjang di Divan Yolu Cad Café. Beberapa pengunjungpun masih menikmati obrolan mereka. Namun teh sage milikku sudah habis sejak tadi. Bahkan novel yang kubaca sudah sampai setengah perjalanan. Dia masih diam.

“Al, sudah kuputuskan. Aku tak akan datang.” Ujarnya tiba-tiba memecah sepi.

Tatapannya masih tertuju ke luar jendela. Terlihat salju mulai menutupi setiap ruas jalan yang tak bernyawa. Ada rasa kecewa dan penyesalan tergambar di raut wajahnya.

“Kamu mencoba menghindar dari kenyataan?”balasku. Dia menoleh ke arahku. Kutandai letak akhir bacaanku. Kututup buku itu dan kuletakkan di atas meja bundar, di depanku. Kini terlihat jelas di wajahnya, ada genangan rasa perih yang coba dia tahan.

“Kamu tahu sendiri Al. Aku sekuat tenaga menahan perasaaan ini dan berjuang sampai dititik sekarang aku berusaha…” suaranya terhenti.  “hanya untuk dia...”suaranya semakin lirih. Ada setetes buliran air jatuh di pipinya. Segera dia mengusapnya dan kembali menoleh ke luar jendela.

“Tapi memenuhi undangan adalah salah satu hak seorang muslim, El. Kamu tahu itu.”

Dia masih diam.

“Aku selalu mengagumimu kawan. Kemandirianmu, perjuanganmu, prestasimu, dan keteguhan prinsipmu. Kamu sahabat terbaikku yang pernah ada. Namun El, dengarkanlah sekali saja nasihat dari sahabatmu ini”

Entah apa yang membuat dia betah melihat jalanan yang sepi dan bersalju. Mungkin hatinya sama sepinya dengan jalanan itu. Atau memang dia merasa bahwa hatinya lebih dingin daripada hujan salju di luar sana. Dia masih diam beku.

“Aku tahu kamu tipe lelaki yang setia. Tidak sedikit wanita yang mencoba mendekatimu, namun kamu tetap memilih dia untuk berada di hatimu. Meski jarak dan waktu memisahkan kalian berdua, namun tak mengubah sedikitpun perasaanmu padanya. Namun El, kamu harus tahu satu hal. Jangan jadi orang egois. Emang dia punya rasa yang sama sepertimu? Akhir sebuah cerita tetaplah mutlak berada di ujung pena-Nya.”

Dia menoleh kembali ke arahku.

“Apa kamu pikir aku salah jika mencintainya Al? Apakah langkah yang kutempuh ini salah Al? Apakah seharusnya kukatakan saja sebelumnya bahwa aku menyukainya, agar dia tahu bahwa ada lelaki yang masih berjuang untuk menghalalkannya.” Suaranya mulai serak. Wajahnya masih sendu sedingin salju.

“Tidak Al, jalanmu sudah benar. Tak perlu kamu ragukan sedikitpun. Karena itulah aku mengagumimu”

Aku sangat tahu persis tentang sahabatku, El Kindi Jauzi. Kita berteman sejak kecil, dan terus berada disatu sekolah yang sama sampai saat ini. Perjuangan ini demi melihat senyum bahagia di wajah orangtua kita. Atas izin Allah, kini kita bisa sampai studi Sarjana di kampus Eropa, tepatnya di Turki. Aku sangat tahu gadis itu. Gadis yang meculik hatinya sejak kali pertama bertemu. Aku menjadi saksi senyumnya setiap kali berpapasan di lorong sekolah, atau kadang bertemu di perpustakaan, sesekali berjumpa di kantin saat makan siang. Senyum yang tak wajar, bagiku. Namun dia hanya diam dengan segala perasaan yang membuncah di hatinya. Dan aku satu-satu sahabatnya tempat bercurah cerita.

Dan pertemuan dengan gadis itu berakhir di ujung wisuda SMA. El tak lagi bertemu dengannya, namun dia tahu pasti dimana gadis itu tinggal. Dan El berjanji dalam hatinya akan mendatangi kedua orangtuanya saat purna Sarjana. Namun saat waktu yang dinanti itu tiba. Ketika seminggu lagi kita wisuda. Undangan itu datang bak halilintar menghanguskan semua kisah yang telah lama dia tuliskan. Gadis itu, Fatma akan menikah.

“El, dengarlah. Tak ada yang salah dengan cinta. Bahkan hidup kita ini adalah bentuk dari cinta-Nya. Merasakan cinta itu fitrah setiap manusia El. Dan prinsipmu itu benar El. Cinta sejati hanya hadir atas ridlo-Nya. Ingatlah, seorang mukmin itu beriman kepada takdir Allah, baik ataupun buruk. Dan sesungguhnya takdir Allah itu selalu terbaik untuk makhluk-Nya. Bisa jadi di belahan bumi yang tak pernah kamu ketahui, ada seorang bidadari yang setiap malamnya mendoakanmu.”

Dia terdiam. 

“Kamu benar Al..,”ucapnya akhirnya. 

"Aku seorang muslim," wajahnya menengadah ke atas bersandar pada kursi. Matanya terpejam, dia tarik nafas pelan-pelan. Sepertinya kebekuan itu mulai mencair secara perlahan.

“Satu hal yang kurang benar darimu..El” aku diam sesaat. Dia mengerutkan kening, menatapku.

“Kamu telah membuat Allah cemburu,”lanjutku.

“Maksudnya?”kini wajahnya penuh tanya.

“Kamu penuhi hatimu dengan nama Fatma, bahkan kamu tancapkan harapanmu padanya. Meskipun kamu tak lagi bertemu dengannya, namun pikiranmu selalu untuknya. Ingat El, semakin banyak kita bergantung pada selain Allah, maka semakin banyak tunas-tunas kekecewaan yang kita tumbuhkan.”

“Aku tahu itu Al. Aku tahu teori itu, namun praktiknya…almost zero. Aku tak sekuat yang kamu kira. Aku terlalu rapuh urusan cinta.” Suaranya pelan. Kini pandangannya kembali tertuju pada jalanan yang memutih sempurna.

Excusme. A cup of sage tea, Sir.” Seorang pelayan meletakkan secangkir teh sage di meja depanku. Dia mengambil cangkir yang sudah tak lagi berisi. Meletakkannya di atas nampan kayu yang unik.

There more can I help you, Sir?” lanjutnya penuh keramahan.

Enough. Thanks,”balasku tersenyum menyambut keramahannya.

your welcome,”pelayan itu tersenyum dan berbalik menyisakan kami berdua.

Aku menyeruput teh itu. Masih hangat.

“Tidak El, kamu orang super kuat. Kamu kuat El. Hanya saja, ini ujian perdana kamu soal cinta. Jika kamu menyerah sekarang, maka esok ataupun lusa, Allah akan menguji dengan hal yang serupa sampai kamu lulus dan wisuda dari ujian-Nya. Hadapilah kenyataan sekarang El. Move up ! Ini adalah pelajaran buat kamu, buatku juga, buat semua lelaki di seluruh dunia. Mencintai wanita itu sah-sah saja, asal harapan tetap disandarkan pada sang Pemilik hati. Bagaimanapun, sebuah cerita endingnya sesuka sang penulis cerita.”

“Terus aku harus bagaimana Al? apa aku harus datang ke pernikahannya, mengucapkan selamat. Sedangkan hatiku merasakan sakit yang teramat.”

“Masih ada waktu 2 minggu. Obati rasa sakit itu dengan keikhlasan dan penuh penerimaan. Kamu lebih tahu apa yang harus kamu lakukan El. Curahkanlah semuanya pada-Nya.”

“Aku akan coba,”jawabnya singkat.

“Dan aku harap kamu memutuskan untuk pulang ke Indonesia pasca wisuda, bersamaku. Karena aku butuh saksi disana nanti” kembali kuseruput teh sage milikku.

“Kamu langsung menikahinya, teman masa kecilmu?” kini kulihat cahaya senyum di wajahnya.

“Belum El. Mengkhitbah dulu, hehehe” kubalas senyumnya sehangat teh sage eropa.

“Aku mendukungmu kawan. Aku akan berada di garda paling depan untukmu,” ucapnya penuh semangat. Itulah yang selalu kukagumi darimu El. Kamu selalu ikut bahagia ketika sahabatmu bahagia.

“Oke, jadi gini strateginya. Kamu hadapi ayahnya. Aku menculik putrinya.”

“Siap!”

Akhirnya kita bisa melepas tawa bersama. Lihatlah, salju itu telah mencair sepenuhnya. Lelehannya mengalir di kedua ujung matanya.



oleh brianzenict.

selesai ditulis
20161001


Sourcephoto: https://id.pinterest.com/pin/349591989799299133/ 

Cerita Semesta


 serial cerita berkelanjutan puzzle ke tiga
serial pertama: Wajah Hujan
serial kedua: Kunci Hati
 
“Dekatilah Allah, maka dunia seisinya akan mengikutimu. Termasuk bait-bait yang tertulis dalam doamu, bahkan apa yang tak kamu minta sekalipun. Allah Maha Tahu, sedang kita masih fakir ilmu. Jangan mengejar dunia, apalagi pada apa-apa yang Allah sudah menjaminnya. Namun kejarlah akhirat, karena tak ada yang bisa menjamin dimana kita kelak akan bertempat,” secarik kertas tulismu dalam bilik buku pengantar mimpi.

Tiga tahun sudah aku mendiami tempat ini. Berjalan disisi lain dari bumi, yang dalam sekali waktu aku bisa terhubung pada dua benua, Asia - Eropa. Benar. Jembatan Galata, Turki, aku telah sampai disini. Allah mengindahkan satu diantara mimpi-mimpiku dengan cara seindah-seindahnya pengharapan dan penerimaan. Aku memperoleh beasiswa S2 salah satu universitas di Istanbul dengan mengambil jurusan yang tidak jauh beda dari sebelumnya. Tahun ini, mungkin akan menjadi tahun penghabisan untuk tugas akhirku. Kerinduan akan Indonesia sudah tak mampu kubendung, sering mewek jika ingat keluarga.

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzdzibaan. Rengekan syahdu menderu terdengar merdu, seakan ada hajad besar yang hendak ia haturkan pada Pemilik rindu pun dirinya.

Suara itu menyentuh lembut daun telingaku. Aku mengusap mata dan berdoa, syukurlah aku masih terbangun untuk menghirup udara dunia. Seketika pandangku membidik jam berbentuk rumah yang ngamplok di dinding untuk sekedar memberi warna. Ternyata masih jam tiga pagi. Kuseret langkah yang penuh hina, basahi diri dengan segarnya air di musim semi.

Shodaqallahul’adzim. Sejurus kemudian ia menutup kitab menyudahi tilawatilnya dan membaca sesuatu yang membuat wajahnya penuh dengan ketenangan.

Kuikuti caranya bermanja, memohon ampunan-Nya, disepertiga malam kumengadu syahdu.
***
Semilir angin musim semi di tepi danau Van membuatku lebih memilih duduk berdiam di salah satu kursi. Bersama kedua sahabatku Zahra dan Bahar, aku datang ke kota Van, lebih tepatnya ikut Bahar pulang mengunjungi orang tuanya. Sejenak mengusir sepi aku melahap beberapa halaman buku, sambil menunggu Zahra dan Bahar kembali dari membeli camilan. Para wisatawan yang berlalu lalang tak membuatku terganggu. Bising memang, tapi kucipta hening lalu menikmatinya, bukankah bahagia itu sederhana.

“Assalamu’alaykum Zy.”
Aku sangat mengenal suara itu, kenapa? dengan ragu aku membalikkan badan untuk sekedar memastikan apakah benar.

“Wa’alaykumussa…lam,” melihatmu berdiri disitu membuatku kelu, sedang kau asyik menunjukkan senyum barumu yang terlihat lebih ramah tak sedingin dulu.

Adnan? apa kabar? Sudah selesaikah pendidikanmu? apakah kau menemui kesulitan selama disana? sedang apa di Turki?.....

Dia merubah posisi yang kemudian berdiri tepat di samping kursi. Angin musim semi riuh mengajari dedaunan menari-nari, tapi tidak denganku. Aku seakan kembali pada musim salju, beku.

 “Apa kabar Zy? sudah kemana saja? tempat-tempat yang ada di novel sudah kau datangi semua?,” dia mencoba mencairkan suasana dengan tiga pertanyaan sekaligus. Sedang untuknya, entah sudah berapa pertanyaan dariku dimana dia tak perlu kesulitan untuk menjawabnya. Cukuplah aku dan Dia yang tahu.

“Baik, Adnan juga apa kabar? masih disini kok,Astaghfirulloh. Baru beberapa saja,,hehehe, menyesuaikan budget ini saja ikut teman pulang kampung.”

 Dia masih saja terlihat dingin, tapi setelah kuanalisa dari senyum dan pertanyaannya, kupikir dia tak sedingin dulu.

 “Baik juga. Sebentar.” dia mengambil sesuatu dari dalam tas, sebuah bungkusan dengan solatip disana sini ala pengiriman paket.

Tanpa berani menatap aku menerima bungkusan itu, setidaknya dengan menjawab salam tadi aku sudah cukup tau. Ada yang berubah dari penampilannya, lebih rapi dan dewasa, satu hal yang masih sama, kurus. Hhhha…

“Oh sekarang jadi kurir ya?” aku tersenyum dengan gampang kata itu terlontar.

“Bisa jadi, tapi kali ini kurirnya istimewa, paket dikirim langsung dari Jepang sampai Turki tanpa perantara,” kau jawab sekenanya.

“Hahha..begitu ya.”

“Baik, sudah dulu ya Zy. Ada keperluan lain. Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumussalam.Tunggu Adnan, ini bukumu.”

“Bawa dulu, nanti di Indonesia saja. InsyaaAllah.”

Aku ingat dia pernah mengatakan meminjam itu sama dengan hutang, tapi kenapa buku satu ini tak juga pulang. Terakhir aku mau kembalikan dia sudah terbang ke Jepang. Hmmmm…

“lagi?”aku berdiri melihatnya yang terus berjalan menjauh. Kulihat dia menghampiri beberapa orang laki-laki yang sejurus kemudian terlihat senang menyambut kedatangannya.

Kami pun berpisah tanpa ada yang menjelaskan mengapa Adnan bisa sampai di Turki. Aku terlalu menikmati sepi sebab saat aku mulai merasa maka itu hanya akan menjadi ujian belaka.

Aku pernah tak sekuat itu, bahkan jatuh, sedang yang bisa menolongku hanya Dia. Setidaknya aku memperjuangkan sekaligus mengikhlaskan meski tak sepenuhnya aku mengerti bagaimana sistem kerja dari keduanya. Mengharap perjalanan yang dibersamai ridhoNya untuk takdir yang tak perlu diterka.
***
Di ruangan ini terlihat desain kamar sederhana ala mahasiswa campuran Indonesia Turki. Yah, tiga tahun sudah aku bersama dua sahabatku menghabiskan waktu bersama di tempat ini.

Pagi ini seusai menuaikan sholat subuh berjama’ah, aku membereskan koper yang belum sempat aku jamah sejak pulang dari Van, termasuk paket dari Jepang.

“Tidur jam berapa kamu Zy?”
“Em, jam dua an Zah .”

Aku meletakkan paket itu di atas meja dan melanjutkan pekerjaan lain.

“Bungkusan apa ini Zy? kenapa belum kamu buka?” Zahra terlihat penasaran.

Zahra dan Bahar, kami sudah seperti saudara. Kami akrab dengan cepat karena kecocokan itu tak perlu diukur dari banyak segi. Aku mengenalkan Lahfah pada Zahra dan Bahar meski hanya lewat media sosial. Sejak saat itu, kami berempat memutuskan untuk menjadi sahabat.

Aku terseyum, “Entahlah Zah, aku lebih tertarik melihatnya seperti itu.”

“Heleh… aku bisa lihat penasaran kamu sudah kayak gunung mau meletus kali Zy. hahahha,” ejek Zahra.

Senyumku menyatakan keberpihakanku padanya.

“Baiklah akan kubuka.”

“Eh tumben nggak bawel.”

Aku melepas solatip yang melekat kuat.

“Bukankah ini buku, tapi mengapa sampulnya begitu sederhana, bahkan aku tak menemukan satu huruf pun yang menunjukkan identitas buku ini.”
Penasaranku sudah terjawab jika bungkusan yang dia berikan berisi buku.

“Iya kah?’ Bahar yang ikut penasaran.

“Coba kalian perhatikan, tak ada nama pengarangnya.”

 “Iya Zy, aneh,” timpal Zahra.

Kling.
Hpku bergetar ada pesan WhatsApp masuk. Kuletakkan buku itu, kulihat WhatsApp dari Lahfah.

“Bangun putri ngantuk, ada yang kembali?”
 “Yeey… sudah bangun daritadi kali. Maksudnya?”
“Hmm…. cepet banget responnya. Kamu tau yang aku maksud.”
“Adnan?”
“Yups”
“Kok tau aku ketemu dia. Aku curiga.”
“Hahaha, iyakah? pengen lihat wajah Zoya waktu ketemu Adnan. Pasti lucu abis.”

Tak segera kubalas sebab aku lebih tertarik memerhatikan pemberitahuan yang menunjukkan Lahfah sedang mengetik.

Etsss dilarang suuzan loh ya, asal tebak aja kok. Kapan waktu memang dia tiba-tiba nge-WhatsApp, nanyain aktivitasmu pada tanggal itu ngapain. Yah aku bilang kamu ikut Bahar ke Van.” 
“lalu?”
“lalu ketemu sama kamu gitu.”
“Iya, tapi sedang apa Adnan di Turki. Kemarin aku sempat melihat dia menghampiri beberapa orang, mungkinkah dia sedang menyelesaikan pekerjaan disini? Tapi ini Van bukan Istanbul Fah.”
“Sudahlah Zy, Allah lebih tau tentang itu.”
“Iya Fah. Aku mengerti. Terima kasih krupuk.”
“Ihhh…. Awas aja kalok pulang.”
“Bilang aja rindu, ih… dasar krupuk.”
“Sekarang aku biarin sesuka kamu Zy, tapi ati-ati kalok di Indonesia.”
“Iya kok hati-hati. Tenang.”
“Yasudah, aku mau siap-siap sholat. Cepet pulang ya.”
“Doakan saja.”

Belum sempat aku membaca aksara-aksara itu, aku harus segera bersiap untuk menemui dosen terkait tugas akhir.
***
Musim semi, waktu bagi bunga tulip untuk merekahkan mahkotanya. Sungguh, Allah mencipta setiap hal dengan segala kebersamaannya. Menghidupkan setelah mati. Mencairkan setelah beku. Dan untuk itu, lagi, benar jika memperjuangkan atau mengikhlaskan tak harus memilih satu diantaranya tapi sudah seharusnya mereka beriringan.

Mataku menjelajah mencari tempat yang nyaman, ya disana. Di bawah pohon teduh ada beberapa kursi, aku duduk dan mengambil buku dari dalam tas. Kali ini aku memperhatikan lebih seksama, seharusnya aku tak perlu bertanya sebab belum satupun aksara kubaca.
apa judulnya?




Spesial tahun baru
1 Muharram 1438H

ditulis oleh Widad


Sourcephoto: http://id.tubgit.com/bunga-buku-bangku-indah-blur/

Kunci Hati

Serial cerita berkelanjutan, puzzle ke dua
Seri pertama : Wajah Hujan

Di sebuah kedai kampus berlantai dua, menghampar biru danau tepat di sisinya. Kedai itu sangat sejuk, semilir angin tepian danau bebas keluar masuk. Berisik desau angin menggesek dedaunan dan kicau burung saut menyahut riang bertengger di ranting-ranting, dedahanan. Aku menghela nafas panjang. Sudah hampir sejam aku bertahan di pojok kedai itu, menunggu. Jus apel di depanku sekarang tersisa setengah, aku mulai lelah. Kuletakkan bukuku di meja, meski belum selesai seluruhnya kubaca. Aku melempar pandang ke sisi danau. Angin sore membelai lembut memainkan khimarku. Aku mulai menyerah, sebal. Kurasa tidak seorangpun yang bersahabat dengan kata “menunggu”, termasuk aku.

Kedai sore ini semakin sepi. Hanya ada sepasang muda mudi duduk berhadapan di sudut ruangan. Saling bercengkerama tiada bosan. Apa seperti itu orang yang terbakar api asmara, ketika dua hati bertemu, seolah mereka lupa waktu. Sedangkan di sudut yang lain ada dua anak muda berhadapan menghadap papan catur, satu diantaranya memasang wajah senyum penuh kemenangan. Satunya lagi berwajah serius setengah pucat, menatap tajam bidak catur di depannya, terlihat berpikir keras tergambar dari raut wajahnya. Kurasa dia bukan tipe orang yang cepat mengalah oleh keadaan. Dan satu lagi pendatang yang sangat kukenal. Berdiri di anak tangga, mengedar pandang. Tidak sengaja tatapan kami bertemu, matanya masih sama seperti dulu, dingin. Aku segera menunduk, mengambil buku yang tergeletak di meja, pura-pura membaca.

“Assalamu’alaikum, Zy. Maaf membuatmu lama menunggu.”
Aku menurunkan sedikit buku bacaan dari wajahku,”Wa’alaikum…salam.” Aku tergagap, sama seperti sebelum-sebelumnya saat berjumpa. Lidahku selalu kelu saat bertemu dengannya.

Dia duduk di depanku. Tersenyum, seperti biasanya. Senyuman khas miliknya, dan mungkin hanya dia yang punya senyum seperti itu. Aku perlahan menurunkan buku dari wajahku dan meletakkannya dipangkuanku. Aku mencoba tersenyum, sedikit kupaksa,”tidak apa.”

Kami diam sesaat. Aku mencoba menyibukkan diri membolak balik buku, bukan untuk membaca, melainkan menunggu dia memulai bicara. Entah, aku selalu enggan untuk memulai, dan lebih nyaman menunggu. Setidaknya itu adab yang aku pelajari dari Ibuku. Meski menunggu terlalu lama membuatku kesal dan sebal.

“Lahfah dimana Zy?”akhirnya dia mulai memecah sepi.

“Oh…, tadi dia ada. Balik ke kos sebentar katanya,”jawabku.

“Oh,” balasnya singkat.
“Tadi malam tidur dimana?”

“Eh? Kenapa?”sedikit kaget, tidak biasanya dia bertanya hal-hal yang pribadi seperti itu. Kullihat raut wajahnya sesaat, dia tersenyum. Dengan cepat kuatur lensa mataku agar back focus, terlihat dua pemuda di pojok ruangan menyudahi permaianan caturnya, beranjak meninggalkan kedai.

“hehehe tidak apa, kirain tidur di emperan toko,”jawabnya, sedikit ganjil.

“saya numpang tidur di kos Lahfah. Ada apa sebenarnya Adnan?” tanyaku masih penasaran.

Nggak ada, saya hanya ingin mengembalikan buku kamu,”dia menyodorkan buku, meletakkannya di atas meja, di depanku.

“Makasih sudah mau minjemi buku catatannya,”lanjutnya.

“sama-sama,”balasku.

“seminggu lagi wisuda, jadi saya harus mengembalikan buku-buku yang pernah saya pinjam. Bukankah pinjam itu sama aja dengan hutang, dan hutang harus dibayar sebelum ditagih kelak di akhirat. Mumpung masih diberi kesempatan untuk kita bertemu,”ucapannya menyadarkanku, seolah menamparku. Masih ada beberapa tanggungan buku yang belum kukembalikan.

“iya benar Adnan, terimakasih,”pandanganku ke wajahnya, namun fokus kepada sepasang muda mudi yang tadi duduk di belakangnya. Mereka mulai beranjak meninggalkan ruangan. Bahaya! tinggal aku dan Adnan, berdua di kedai ini.

“Adnan…,”

“Iya, saya pikir cuman itu keperluanku. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum,”ucapnya sambil tersenyum, lantas beranjak meninggalkan ruangan. Dan mungkin itu senyum terakhirnya untukku. Punggungnya lenyap di pintu. Kini aku seorang diri masih menunggu. Betanya-tanya,”Hanya itu?”

***

Adnan. Dia yang selalu tahu maksud isyaratku meski tak pernah terucap kata. Dia yang sangat paham bahwa berdua dengan yang bukan mahramnya itu larangan agama. Dia yang lebih mengerti arti dari sikapku selama ini yang selalu menundukkan pandangan saat bertemu adalah semata untuk menjaga diri. Dan bahkan baru aku sadari maksud dari pertanyaannya saat itu. Dia tahu kalau kunci kamar kosku hilang, pantas dia senyum-senyum saat menanyakannya, aku tidur dimana.

Ternyata dia yang menemukannya. Dia selipkan sebuah kunci di tengah-tengah lembar buku yang dikembalikannya. Kenapa kamu seolah tahu tentangku Adnan?

Mungkin sore itu, di kedai lantai dua, saat senja merah saga, saat angin berhembus syahdu, saat-saat terakhir kita bertemu. Menjadi akhir dari senyumanmu padaku. Dan mungkin akhir dari perasaan aneh yang selalu sukses membuat lidahku kelu saat bertemu denganmu.

Adnan, apakah hanya kunci kosku yang kamu temukan? Apakah ada kunci lain yang hendak kamu sembunyikan?

***

Tiga tahun berlalu, sekarang musim semi di Turki. Kupu-kupu berkejaran menari. Bunga-bunga merekah indah. Burung-burung bercericit di dedahanan. Aku duduk hening menikmati panorama Danau Van. Ditengah keramaian para wisatawan, seolah ada suara yang sangat kukenal. Tepat dibelakang dari tempat dudukku, aku berbalik menoleh dan membalas salam,”Wa’alaikumussa…lam.”


Adnan?



11 September 2016
ditulis oleh Brianzenict

#Special Dhullhijjah


Sourcephoto: https://id.advisor.travel/poi/Danau-Van-642#photo_ex_77090

Wajah Hujan

serial cerita berkelanjutan kembali lagi nih. 
Cerita kali ini dibuka oleh goresan pena sahabat saya, Widad
-selamat membaca-


Bolehkah aku menerjemahkan hatimu? Sembunyi, meluruhkan keraguan yang  menjadi bayang-bayang keheningan. Tak sempurna kumeniti, sebab suaramu begitu lirih. Kini di salah satu potongan episode, aku telah memahami, bagaimana cara terbaik tuk menanti dan menerima. Episode cerita, tentang cinta cita.” 

Tingklung, Handphoneku bergetar. Kulihat pesan dari Lahfah, ternyata dia mengajak kembali ke kota pukul dua siang. Setengah dua aku sudah siap di rumahnya, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana. Lahfah, dialah sahabatku yang selalu siap menasehati dan melengkapi. Tak masalah dengan kejailanku dan akan tetap seperti itu.

Zoya namaku, “ceria dan penuh semangat, setidaknya itu yang mereka katakan tentangku.”

Aku dan Lahfah, mahasiswi tingkat akhir menuju mimpi yang menjadi cita. Perjalanan ini sudah biasa bagi kami, bertemu dengan kendaraan-kendaraan besar dan jalanan yang tak bersahabat. Tak jarang  kami mendapati keberuntungan, entah itu karena kesalahan sendiri ataupun pengendara lain, bersyukur.

Dalam satu bulan kami bisa pulang sekali bahkan lebih, membuat iri teman-teman yang berada jauh dari kota asal.
“ Sudah jam dua lebih Lahfah, ayo buruan,” ajakku yang mulai bosan menunggu sebab semakin membuatku ngantuk.
“Iya, selesai kok.”
Pukul dua seperempat kami berangkat, kulihat langit yang mulai menata rapi awan-awan kelabu membentuk warna hitam pekat. “Rasanya mau hujan, bagaimana nanti menghindarinya?” aku mulai khawatir karena tak membawa jas hujan.

“Kamu tidak membawa jas hujan Zy? Bukannya kamu baru beli.”
“Hehehe, ada di Hana. Minggu kemarin dia terjebak di kosku.”
“Belum kamu ambil? Yasudahlah, nanti kalok hujan berteduh.”
“Setuju.”

Benar saja, belum jauh kami meninggalkan rumah gerimis menyambut. Awalnya aku meminta Lahfah untuk terus melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya kami memilih untuk berteduh. Hujan turun sangat deras, angin pun tak mau kalah. Basah sudah meski kami berteduh, karena harus melindungi leptop  yang jelas penting untuk tugas akhir kami.

Selama menunggu, pandangku tertuju pada ibu muda yang menggendong anak kecil dan disampingnya berdiri laki-laki tinggi tegap.
 “Apakah dia ibunya, ataukah kakaknya?” timbul tanya dalam diriku hingga kutahu jika mereka adalah suami istri. Satu jam setengah kami menunggu, sepertinya langit mulai lelah menangis.
“Sudah aman semua kan?” tanyaku pada Lahfah.
“Sudah, serius ini berangkat?” Lahfah meyakinkan.
“Tentu, akan semakin gelap kalau kita terus menunggu.”
“Tapi Zy, kamu tidak pakek jas hujan.”
“Tenang, jaketku tebal kok. Ya nanti kalok deras kita berteduh lagi.”
“Baiklah.”

Kami memberanikan diri melanjutkan perjalanan. Begitupun dengan pasangan suami istri yang sedari tadi kuamati. Kulihat sang suami mencoba mengenakan jas hujan untuk istri dan buah hatinya. Sedangkan dirinya sendiri hanya memakai jaket biasa untuk melawan rintikan hujan yang tak sepenuhnya reda.
 “MasyaaAllah, suami akan selalu berusaha melindungi istri dan buah hatinya.,” bisikku dalam hati dengan senyum mengembang.
“Lihatlah Lahfah, bijaksana dan penuh tanggung jawab.”
“Hahaha… iya Zy. Membuat iri saja mereka.”
“Kamu Fah, Hahaha..”

Lahfah bercerita banyak hal untuk mengusir dingin, karena tangis langit belum benar-benar berhenti. Terlihat banyak orang yang masih berteduh di emperan-emperan toko. Aku hanya diam, Lahfah yang sedari tadi bercerita seakan bicara dengan batu. Bisu.
“Zoya…..Zoya….Zy. “
“eh iya, apa Fah?”
“Kamu ngantuk?” Lahfah sangat hafal jika aku sering mengantuk ketika perjalanan.
“Tidak Fah.”
“Kenapa diam saja?”
“Aku melihatnya kedinginan Fah.”
“Siapa yang kedinginan Zy?”
“Dia."
“Adnan?"
“Iya, dia berteduh tak jauh dari tempat kita tadi Fah, berdiri dan menatap langit.”
Tak terasa hujan semakin deras, dan langit kembali menangis. Seakan ia mengerti jika hatiku sama.
“Bagaimana Zy, kita berteduh?”
“Aku sudah basah kuyup, lanjut saja Fah.”

Terpaan angin membawa rasa. Dingin. Aku merasakannya, “inikah yang kau rasakan sekarang? lantas apa yang membuatmu bertahan disana? apakah kau pun tak mampu menghindarinya? hingga kau hanya menunggu. Ataukah perasaanmu sedingin ini sehingga langit turut menangis tiada henti.”

Tetasan air jatuh di telapak tangan, menyenangkan. Memang, tak selalu ada pelangi setelah hujan, tapi yakin jika esok kan ada mentari yang menghangatkan. Dan belum tentu esok akan hujan. Pada potongan episode, langit sore tak hadirkan senja. Bukan tuk sembunyi, hanya menumbuhkan rindu teruntukku. Sebab saat aku berdiri di sana, dia terlihat indah.

“Dan menurutmu, apakah senja itu menghilang?”





4 Juli 2016
ditulis oleh -Widad-

#spesial Ramadhan


Sourcephoto: http://haiineola.com/kehidupan/mengapa-menunggu-hujan-reda-biarlah-hujan-yang-lelah-dan-putus-asa/