Tampilkan postingan dengan label Catatan Hikmah. Tampilkan semua postingan

Wanita Mulia




"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Suatu ketika Sayyidina Ali pulang ke rumah disambut oleh sang istri tercinta, Sayyidah Fatimah Az Zahra.
Bertanya Sayyidah Fatimah kepada suami tercinta,"Dapat apakah Kanda dari Ayahanda?"
Inilah teladan bagi setiap wanita yang mencintai Sayyidah Fatimah, wanita paling mulia ahli surga. Menjemput sang suami bukan lantas bertanya perihal dapat uang berapa? dapat nafkah berapa? namun yang ditanya adalah "dapat ilmu apa saja?"
Dijawab Sayyidina Ali," saya mendapat ilmu banyak, namun ada satu pertanyaan dari Rasulullah yang tidak bisa aku jawab pun oleh para sahabat yang lainnya."
"apakah pertanyaan itu Kanda?"
"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Sayyidah Fatimah tersenyum,"Aku yang punya jawabannya."
Dibisikkanlah ditelinga Sayyidina Ali. Seketika itu Sayyidina Ali matanya berbinar-binar. Wajahnya berseri-seri.
Sayyidina Ali bahagia, dia sudah punya jawaban atas pertanyaan Rasulullah. Jadi dia bisa menjawabnya ketika Rasulullah menanyakannya kembali.
Dalam majelis ilmu Rasulullah menanyakan kembali pertanyaan yang sebelumnya belum terjawab. Dan masih belum ada yang bisa menjawab, kecuali sayyidina Ali, beliau menjawabnya," Kami punya jawabannya ya Rasulullah. Wanita yang mulia itu adalah yang tidak pernah melihat laki-laki dan tidak pernah dilihat laki-laki."
Maknanya apa?
Yakni wanita yang tidak pernah memamerkan dirinya dihadapan laki-laki. Dan tidak pernah suka, risih jika dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Malu jika diperhatikan laki-laki yang tidak halal baginya. Dia yang senantiasa menjaga dirinya dalam kesederhanaan, keluar hanya dengan mahramnya, menjaga lisan dan sikapnya. Itulah iman, itulah kemuliaan. Dialah Sayyidah Fatimah Az Zahra.
***
Kisah itu terus terngiang ditelinganya. Memenuhi setiap ruang pikirannya. Tiba-tiba hatinya mengaduh, meneteskan air mata. Dia bersimpuh, menutup malu wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air itu merembes dari celah-celah jari tangannya. Tak ada suara, hanya air mata yang menetralisir keruh jiwa.
Ya Rabb, ampuni hamba atas segala dosa. Mohon bimbingan-Mu. Hamba ingin berubah, hamba ingin hijrah. Sungguh Engkau sebaik-baik pemberi petunjuk. Ya Allah, Ya Fatah Ya Alim.

“Oke Zahra, kamu harus berubah. Menjadi sosok wanita mulia seperti Bunda Fatimah Az Zahra. Bukankah nama kamu sama. Kamu pasti bisa. Fight!!”
“Mulai sekarang tak ada lagi lirik sana-sini. Tak ada lagi tebar pesona, meski kamu memang cantik. Harus jaga diri dari semua jenis laki-laki. Siap!!”

Hatinya kini mantap. Ia lipat kembali mukenah dan sajadah pada tempatnya. Dia bangkit dan mengepalkan tangan di dada. Dia melangkah keluar meninggalkan mushola kampus yang sepi. Hanya dia seorang dan kicauan burung di dahan. Lima langkah berjalan tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
“Mbak.”
Dia menoleh.
“Maaf Mbak, tadi polpen mbak terjatuh di depan mushola. Saya tak sengaja melihat dan mengambilnya.”
Seorang mahasiswa tampan berwajah cerah, secerah pagi yang membawa kehangatan untuk penduduk bumi. Laki-laki yang dikaguminya secara sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba wajah Zahra memerah, hatinya bergetar, jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Lidahnya kelu tiba-tiba. Pandangannya tertunduk seketika. Ya Allah, secepat inikah Engkau menguji hamba.,,hatinya protes.
“Buat kamu aja,”dia menjawab sekenanya. Kemudian lari meninggalkan laki-laki itu yang dipenuhi tanda tanya.



oleh brianzenict

selesai ditulis:
28112016

Kisah tak Selalu Sempurna



Kisah tak selalu sempurna.
Karena cerita tentang kehidupan tak selalu seperti apa yang kamu tuliskan. Ada kalanya sengaja Allah belokkan. Agar jadi sebuah pelajaran, bahwa akhir sebuah cerita tetap tersimpan di ujung pena tinta-Nya.


Dia terdiam hampir sejam lamanya. Wajahnya lebih dingin daripada udara di musim salju. Tatapannya sendu. Pandangannya terkunci pada jalanan yang sepi. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Malam semakin sunyi dan salju terus berjatuhan di luar jendela kaca tiada henti. Kurasa malam ini akan jadi malam yang panjang di Divan Yolu Cad Café. Beberapa pengunjungpun masih menikmati obrolan mereka. Namun teh sage milikku sudah habis sejak tadi. Bahkan novel yang kubaca sudah sampai setengah perjalanan. Dia masih diam.

“Al, sudah kuputuskan. Aku tak akan datang.” Ujarnya tiba-tiba memecah sepi.

Tatapannya masih tertuju ke luar jendela. Terlihat salju mulai menutupi setiap ruas jalan yang tak bernyawa. Ada rasa kecewa dan penyesalan tergambar di raut wajahnya.

“Kamu mencoba menghindar dari kenyataan?”balasku. Dia menoleh ke arahku. Kutandai letak akhir bacaanku. Kututup buku itu dan kuletakkan di atas meja bundar, di depanku. Kini terlihat jelas di wajahnya, ada genangan rasa perih yang coba dia tahan.

“Kamu tahu sendiri Al. Aku sekuat tenaga menahan perasaaan ini dan berjuang sampai dititik sekarang aku berusaha…” suaranya terhenti.  “hanya untuk dia...”suaranya semakin lirih. Ada setetes buliran air jatuh di pipinya. Segera dia mengusapnya dan kembali menoleh ke luar jendela.

“Tapi memenuhi undangan adalah salah satu hak seorang muslim, El. Kamu tahu itu.”

Dia masih diam.

“Aku selalu mengagumimu kawan. Kemandirianmu, perjuanganmu, prestasimu, dan keteguhan prinsipmu. Kamu sahabat terbaikku yang pernah ada. Namun El, dengarkanlah sekali saja nasihat dari sahabatmu ini”

Entah apa yang membuat dia betah melihat jalanan yang sepi dan bersalju. Mungkin hatinya sama sepinya dengan jalanan itu. Atau memang dia merasa bahwa hatinya lebih dingin daripada hujan salju di luar sana. Dia masih diam beku.

“Aku tahu kamu tipe lelaki yang setia. Tidak sedikit wanita yang mencoba mendekatimu, namun kamu tetap memilih dia untuk berada di hatimu. Meski jarak dan waktu memisahkan kalian berdua, namun tak mengubah sedikitpun perasaanmu padanya. Namun El, kamu harus tahu satu hal. Jangan jadi orang egois. Emang dia punya rasa yang sama sepertimu? Akhir sebuah cerita tetaplah mutlak berada di ujung pena-Nya.”

Dia menoleh kembali ke arahku.

“Apa kamu pikir aku salah jika mencintainya Al? Apakah langkah yang kutempuh ini salah Al? Apakah seharusnya kukatakan saja sebelumnya bahwa aku menyukainya, agar dia tahu bahwa ada lelaki yang masih berjuang untuk menghalalkannya.” Suaranya mulai serak. Wajahnya masih sendu sedingin salju.

“Tidak Al, jalanmu sudah benar. Tak perlu kamu ragukan sedikitpun. Karena itulah aku mengagumimu”

Aku sangat tahu persis tentang sahabatku, El Kindi Jauzi. Kita berteman sejak kecil, dan terus berada disatu sekolah yang sama sampai saat ini. Perjuangan ini demi melihat senyum bahagia di wajah orangtua kita. Atas izin Allah, kini kita bisa sampai studi Sarjana di kampus Eropa, tepatnya di Turki. Aku sangat tahu gadis itu. Gadis yang meculik hatinya sejak kali pertama bertemu. Aku menjadi saksi senyumnya setiap kali berpapasan di lorong sekolah, atau kadang bertemu di perpustakaan, sesekali berjumpa di kantin saat makan siang. Senyum yang tak wajar, bagiku. Namun dia hanya diam dengan segala perasaan yang membuncah di hatinya. Dan aku satu-satu sahabatnya tempat bercurah cerita.

Dan pertemuan dengan gadis itu berakhir di ujung wisuda SMA. El tak lagi bertemu dengannya, namun dia tahu pasti dimana gadis itu tinggal. Dan El berjanji dalam hatinya akan mendatangi kedua orangtuanya saat purna Sarjana. Namun saat waktu yang dinanti itu tiba. Ketika seminggu lagi kita wisuda. Undangan itu datang bak halilintar menghanguskan semua kisah yang telah lama dia tuliskan. Gadis itu, Fatma akan menikah.

“El, dengarlah. Tak ada yang salah dengan cinta. Bahkan hidup kita ini adalah bentuk dari cinta-Nya. Merasakan cinta itu fitrah setiap manusia El. Dan prinsipmu itu benar El. Cinta sejati hanya hadir atas ridlo-Nya. Ingatlah, seorang mukmin itu beriman kepada takdir Allah, baik ataupun buruk. Dan sesungguhnya takdir Allah itu selalu terbaik untuk makhluk-Nya. Bisa jadi di belahan bumi yang tak pernah kamu ketahui, ada seorang bidadari yang setiap malamnya mendoakanmu.”

Dia terdiam. 

“Kamu benar Al..,”ucapnya akhirnya. 

"Aku seorang muslim," wajahnya menengadah ke atas bersandar pada kursi. Matanya terpejam, dia tarik nafas pelan-pelan. Sepertinya kebekuan itu mulai mencair secara perlahan.

“Satu hal yang kurang benar darimu..El” aku diam sesaat. Dia mengerutkan kening, menatapku.

“Kamu telah membuat Allah cemburu,”lanjutku.

“Maksudnya?”kini wajahnya penuh tanya.

“Kamu penuhi hatimu dengan nama Fatma, bahkan kamu tancapkan harapanmu padanya. Meskipun kamu tak lagi bertemu dengannya, namun pikiranmu selalu untuknya. Ingat El, semakin banyak kita bergantung pada selain Allah, maka semakin banyak tunas-tunas kekecewaan yang kita tumbuhkan.”

“Aku tahu itu Al. Aku tahu teori itu, namun praktiknya…almost zero. Aku tak sekuat yang kamu kira. Aku terlalu rapuh urusan cinta.” Suaranya pelan. Kini pandangannya kembali tertuju pada jalanan yang memutih sempurna.

Excusme. A cup of sage tea, Sir.” Seorang pelayan meletakkan secangkir teh sage di meja depanku. Dia mengambil cangkir yang sudah tak lagi berisi. Meletakkannya di atas nampan kayu yang unik.

There more can I help you, Sir?” lanjutnya penuh keramahan.

Enough. Thanks,”balasku tersenyum menyambut keramahannya.

your welcome,”pelayan itu tersenyum dan berbalik menyisakan kami berdua.

Aku menyeruput teh itu. Masih hangat.

“Tidak El, kamu orang super kuat. Kamu kuat El. Hanya saja, ini ujian perdana kamu soal cinta. Jika kamu menyerah sekarang, maka esok ataupun lusa, Allah akan menguji dengan hal yang serupa sampai kamu lulus dan wisuda dari ujian-Nya. Hadapilah kenyataan sekarang El. Move up ! Ini adalah pelajaran buat kamu, buatku juga, buat semua lelaki di seluruh dunia. Mencintai wanita itu sah-sah saja, asal harapan tetap disandarkan pada sang Pemilik hati. Bagaimanapun, sebuah cerita endingnya sesuka sang penulis cerita.”

“Terus aku harus bagaimana Al? apa aku harus datang ke pernikahannya, mengucapkan selamat. Sedangkan hatiku merasakan sakit yang teramat.”

“Masih ada waktu 2 minggu. Obati rasa sakit itu dengan keikhlasan dan penuh penerimaan. Kamu lebih tahu apa yang harus kamu lakukan El. Curahkanlah semuanya pada-Nya.”

“Aku akan coba,”jawabnya singkat.

“Dan aku harap kamu memutuskan untuk pulang ke Indonesia pasca wisuda, bersamaku. Karena aku butuh saksi disana nanti” kembali kuseruput teh sage milikku.

“Kamu langsung menikahinya, teman masa kecilmu?” kini kulihat cahaya senyum di wajahnya.

“Belum El. Mengkhitbah dulu, hehehe” kubalas senyumnya sehangat teh sage eropa.

“Aku mendukungmu kawan. Aku akan berada di garda paling depan untukmu,” ucapnya penuh semangat. Itulah yang selalu kukagumi darimu El. Kamu selalu ikut bahagia ketika sahabatmu bahagia.

“Oke, jadi gini strateginya. Kamu hadapi ayahnya. Aku menculik putrinya.”

“Siap!”

Akhirnya kita bisa melepas tawa bersama. Lihatlah, salju itu telah mencair sepenuhnya. Lelehannya mengalir di kedua ujung matanya.



oleh brianzenict.

selesai ditulis
20161001


Sourcephoto: https://id.pinterest.com/pin/349591989799299133/ 

Tekad



Seorang pemuda bersandar pada tiang yang berdiri kokoh menyangga langit-langit masjid. Dia tenggelam dalam lamunan malam. Dihirupnya semilir angin sejuk itu secara perlahan. Dia menghela napas panjang.
Teringat Dia pada kisah Syaikh Muhammad Abduh, Ulama terkenal di Mesir. Kata-kata Ulama besar itu terngiang di hatinya.
"Al-Islamu mahjuubun bil muslimin" Dia bergumam, memutar rekam kata-kata Ulama itu.
"Islam tertutup oleh umat Islam"
kalimat itu seolah menampar dirinya, melihat kondisi umat islam saat ini. Cahaya Islam seolah tertutup meredup oleh tingkah polah umat Islam.
Cahaya yang seharusnya memancarkan rahmat kepada semesta, terhalang oleh kebodohan-kebodohan yang menjelma menjadi awan hitam yang menutupi.
Dia kembali menghela napas panjang.
Kemudian bangkit dari duduknya, dia ikrarkan di hatinya dengan sepenuh semangat membusungkan dada.
'Jika aku tidak bisa menggeser sedikit saja awan hitam yang menutupi Cahaya itu, setidaknya aku tidak ingin menjadi bagian dari awan hitam itu.'
tekadnya.

Uang Bukan Tuhan



Uang bukanlah Tuhan,
Uang bukanlah segalanya,
Segalanya tak harus dengan uang.
Inilah kisahku, menapaki keyakinan. Alasan dari kata-kataku barusan.

Lembar pertama.
Dimulai dari rumah (kos), perbekalan –buku-buku, laptop, dompet- sudah siap. Saatnya ngampus.
Motor, helm, siap! Start…cckckkckk
Kog ndak jalan nih motor? gumamku dalam hati.
Asumsi pertama, bensin habis –sense statistic ku muncul.
Eh ternyata benar, tangki bensin kosong momplong.
Terpaksa dah, harus jadi lelaki kuat –dorong motor.
Sekitar 500 meter tempat kos sampai jalan raya. Maklum, kos perumahan. Hehehe
Keringat bercucuran udah, nafas ngos-ngosan juga udah, toleh kanan – kiri. Ndak ada tanda-tanda kehidupan buat nih motor.
“Pak, mau tanya. Sekitar sini ada yang jual bensin eceran atau tidak ya?” tanyaku pada seorang tukang becak dekat pertokoan.
“ndak ada sekitar sini jualan bensin. Masnya jalan dulu mengikuti jalan raya ini sekitar 500 meter. Nanti akan ada pom bensin.”
Heh ? 500 meter lagi? gumamku dalam hati.
“eh… matur suwun pak, mari.”
Bisa –bisa aku harus mandi keringat di pagi setengah siang ini.
Sial, padahal aku ada uang. Kenapa tetap harus sengsara gini gara-gara motor kehabisan bensin. Ya memang sih, motor ndak bisa di suap pakai uang agar mau jalan.
Mungkin nih motor lagi nge-tawa-in aku, Cukuplah bensin bagiku.
Ternyata uang memang bukan segalanya, tetap saja motor butuh bensin bukan uang. Meski ada setumpuk uang, kalau ndak ada bensin, ya kayak gini. Jadinya malah jalan-jalan sama motor, bukannya sama pasangan. Eh…emang udah punya.

Lembar kedua.
Malang nian nasibku kali ini.
Usai tertekan survey yang harus kelar hari ini, alhasil aku harus men-tamat-kan survey sampai larut malam. Inilah tim survey Kediri, aku dan tiga kawan beda umur jauh dariku. Aku paling muda diantara mereka bertiga, ah bukan ini intinya aku cerita. Ok lanjut.
Waktu menunjukkan angka yang mengerikan, 00.00.
Kami berempat menyusuri jalanan Kediri menuju tempat kembali, Surabaya. Ada dua motor, jadi sudah pasti boncengan.
Sial pertama, aku harus nge-bonceng temen ku yang gen**t. Skok motorku sampai tiada hentinya manggut-manggut. Jalanan sepi. Melewati belantara hutan yang berpenghuni. Baru sepertiga perjalanan, tiba-tiba…cesss.
Sial yang kedua, ban motor bocor,

Wah, gimana ini? Jalanan sepi lagi. Mana ada tambal ban malam-malam gini, gumamku dalam hati.
“Si Kha**b dan Hab**ah tadi kemana ton?” tanya temen semotorku.
“udah duluan kayaknya,”jawabku.

Sial ketiga, aku ditinggal oleh dua temenku.
Ditelpon ndak bisa, di sms ndak diangkat. Kurang ajar benar.

“wah terpaksa dah, dorong motor,”ucapku kemudian.
“itu tuh ada tambal ban, yah tutup,”celoteh temen semotorku.
Aku diam saja, menikmati malam sambil jalan-jalan sama motor tercinta.
Capek juga ternyata. Sampai kapan penderitaan ini akan tertebus oleh kehadiran tukang tambal ban. Malam – malam gini juga, mana ada pula. Haruskah aku jalan sampai Surabaya (?)
Padahal aku ada uang di dompet. Kenapa uang tidak bisa membungkam nih motor agar bisa jalan (?) kenapa nih uang tak berguna sama sekali disaat – saat genting seperti ini (?) Dimana orang yang dulu pernah berkata tentang uang -uang bukanlah segalanya, tapi segalanya butuh uang- perlu diluruskan akidahnya. Memang uang bukan segalanya, dan ternyata segalanya pun tidak butuh uang. Seperti saat ini, uang tidak punya daya maupun kuasa. Ia pengecut yang hanya berdiam diri dalam dompet.

Pada akhirnya aku harus jalan kaki dan kembali… kepada Tuhan yang hakiki, Allah SWT.
Dia tegak berdiri mengawasi, dan Dia Maha Mendengar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-hambaNya yang berserah diri.

Sekitar 700 meter ku lalui, dan teman semotorku yang sedari tadi hanya menyemangati, malang nian nasibku kali ini.
Ada tulisan di pojok jalan bertikung, TAMBAL BAN. Ada secercah kehidupan di malam buta ini. Aku bergegas, belok kanan, parkir motor, tanya orang.
“Pak, tambal ban (?)”ucapku, atau lebih tepatnya bertanya.
“Bukan.”
Deng…sial.
“coba tanya di rumah depan itu, dia yang biasa tambal ban,”lanjut tuh bapak kemudian
“Baik Pak.” (semangat)
“Kalau orangnya belum tidur,”lanjut si bapak lagi.
Heh…? (Lemes)
Sampek depan rumah, si punya rumah keluar.
“Tambal ban nak?”tanya beliau.
“iya Pak, alhamdulilah.”jawabku.

Sambil nunggu tambal ban, dua orang yang kukenal datang.
“lapo Ton?”tanya si Kha**b.
“ngopi !”jawabku sekenanya.
Hahaha…
Perlu kalian ketahui, ini adalah campur tangan Tuhan.
Seakan Tuhan bertanya, ‘Sekarang lihatlah, apa sesungguhnya yang kau butuhkan (?)’
Ku jawab,’aku butuh Tukang Tambal Ban…, tentu atas seizin-Mu’
Allah Tuhanku.
Siapakah Tuhanmu?

Lembar ketiga.
Masih dalam pengalaman seorang surveyor jalanan.
Kali ini, tim survey Kota Malang ada dua orang, dia adalah aku dan temen seperjuanganku, Kha**b. Selama tiga hari ku lalui, target survey belum juga terpenuhi. Bayaran aja belum, nih saldo di ATM mulai angkat tangan, dompet juga mulai dilanda kekeringan.
Waktu menjelang malam, adzan magrib pun berkumandang. Begitu syahdu, mengiringi nasibku malam ini tanpa uang.
Usai sholat, “Ton, makan yuk.” Ajak si Kha**b.
“Ok, makan dimana?”jawabku mengulur waktu.
“udah, jalan dulu.”
“ok.”jawabku, sambil mengirim sms ke salah satu sahabat jauhku.
Akh, bisa pinjam uangnya? Tolong transfer ke rekening saya ya –sms.

Ya Rabb, meski aku pinjam uang, jika tanpa ridlo-Mu, tak mungkin pula aku dapat pinjaman uang, meski dia sahabatku sendiri. Aku berserah diri pada-Mu, gumamku saat itu.

“makan disitu aja gimana?”tanya si Kha**b.
Ditunjuknya warung bertuliskan, SATE AYAM DAN KAMBING.
“Ok lah,”jawabku. Sambil ngecek inbox, pesan masuk.
Bisa akh, no rekeningnya? –sms.

Alhamdulillah.
Ini 14*******. Syukron akh. Kalau udah terkirim tolong kabari lagi ya – sms.

Tak perlu lagi ku tengok inbox, yang ku butuhkan saat ini adalah tawakal. Semoga uang transfernya tidak salah sasaran. Dan juga harus makan, karena dua porsi sate ayam sudah dihidangkan.
“minum apa Ton?”tanya si Kha**b.
Apa aja yang paling murah,

“Es teh aja.”jawabku.
“Ok, es teh dua pak.”

Alhamdulillah bisa makan malam, kenyang udah.
“Berapa totalnya pak?”tanyaku sok-sok-an pada si penjual sate.
“36.000,- nak.”jawabnya dengan enteng.
Heh…? Gumamku dalam hati.
“Bib, ada uang?”tanyaku.
“Biar aku yang bayar.”jawabnya.
“suwun lho Bib, kamu slalu tahu maksudku,”lanjutku.

Ah betapa nikmatnya, tak perlu pakai uang buat makan aja.
Hanya perlu meminta pada-Nya. Dan Dia Maha Tahu Maha Kaya.
“gantian,”lanjut si Kha**b.
“apanya?”responku mencoba canda-in dia. Sebenarnya aku sudah tahu maksudnya.
“bonceng motor, hahaha”
Ah, dia juga pandai bercanda juga ternyata.

Terkadang hanya sekedar makan aja, tidak harus ada uang. Yang dibutuhkan adalah seorang teman, dan juga Tuhan, pastinya.
Ternyata uang bukanlah segalanya, dan segalanya tak harus dengan uang.
Semestinya, segalanya butuh yang namanya “kehadiran Tuhan”. Dia Maha Kaya Maha Kuasa. Lewat apa saja rizkiNya diturunkan, salah satunya melalui teman.
So, baik-baiklah dengan yang namanya “teman” karena Allah ta’ala. hehehe
Hadirkan Allah disetiap urusan.

Anas bin Malik berkata,”aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diperpanjang umurnya, hendaknya dia menyambung silaturrahim” –Bukhari (2067), Muslim (2557).









Lakukan Kewajiban mu, Jangan banyak Menuntut




Menuntut itu tidak ada pahalanya, tapi sabar ada pahalanya.

kisah siti khadijah :
Suatu ketika wanita arab berkata kepada Siti Khadijah yang saat itu menjadi istri nabi Muhammad.

"wahai khadijah betapa senangnya engkau menikah dengan muhammad."

dijawab Siti Khadijah,"wahai saudari-saudariku selama aku menikah dengan muhammad sampai hari ini, aku tidak pernah berpikir bahwa bagaimana aku bersenang - senang dengan muhammad. Tapi yang aku pikir adalah bagaimana muhammad senang dengan aku."

Jika seseorang sama-sama memperjuangkan pasangannya yang terjadi adalah keindahan.

Kisah Rasulullah dan Siti Aisyah.
Suatu ketika beliau di suatu peperangan, punggung beliau terluka kena panah atau tombak.
sehingga beliau merasakan betapa sakit luka itu sambil mengendarai kudanya.
Tapi disaat nabi muhammad turun di halaman rumah Siti Aisyah ra.
Rasulullah seakan - kan tidak merasakan sakit, tidak ditampakkan rasa sakit di depan Siti Aisyah.
Beliau mengucapkan salam penuh wibawa, tegar tidak menggambarkan rasa sakit disitu.
dijawab salam oleh Siti Aisyah, karena istri yang soleha Rasulullah langsung dirangkul dan dibawa ke kamar.
Tiba - tiba Siti Aisyah menjerit," ya Rasulullah ada darah di punggung mu."

"ah masak iya Aisyah?" jawab Rasulullah pura-pura tidak tahu.

Bukan bohong tapi karena menghibur Aisyah agar tidak pengen Aisyah melihat Rasulullah sakit.

"iya Rasulullah, itu ada luka dipunggungmu."

"Aisyah itu memang sakit, tapi sekarang melihat kamu saya tidak merasa sakit." jawab Rasulullah dengan tersenyum.
Betapa indahnya, saling memperjuangkan pasangannya.
Melakukan sesuai kewajibannya.


Inspired by
Buya Yahya

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus [ 2 ]



Sebab suatu do’a belum terkabul, bisa jadi dalam hati ini masih ada Tuhan selain Allah. Masih ada harapan kepada selain Allah. Padahal satu-satunya tempat berharap hanyalah kepada Allah Azza Wajala.

Jika kita do’a pasti dijawab Allah, pasti. Karena Allah sendiri yang menyuruh kita (hambanya) agar berdo’a. Hanya saja Allah menjawabnya lewat jalan-jalan yang sesuai dengan takaran dunia, bisa jadi lewat mimpi, atau tanda-tanda alam, bisa jadi lewat kejadian-kejadian disekitar kita. Terkadang kita kurang aware dalam menanggapi jawaban Allah.
Nah, bagaimana Allah menjawab do’a si Bapak. Mari kita tengok kembali kisah si Bapak dalam episode 1 (Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus).

Usai sholat dan do’a, si Bapak sudah putuskan mau jual tuh motor.
Keluar masjid, “Lho, kemana nih motor?”
-motor si Bapak hilang-

Bingung, resah, takut, pasti. Tapi, karena si Bapak meletakkan harapannya kepada Allah, rasa bingung itu dia kembalikan lagi ke Allah.
Setelah Allah dulu, Allah lagi, “Allah terus”

Si Bapak balik lagi ke dalam masjid, sholat dua rakaat. Dan kali ini nih, sholatnya lebih syahdu, lebih nikmat sampai meneteskan air mata.
Bapak pun berdo’a,
“Ya Allah…, bingung nih, mau bersyukur atau bersedih. Ya Allah…, tadi kurangnya 1,5 juta. Sekarang malah kurang 4 juta. Hamba berserah diri padaMu ya Rabb.”

Lihatlah, bila si Bapak meletakkan harapannya pada tuh motor, menjadikan Tuhannya itu motor. Bisa jadi dia menjadi orang yang paling gelisah karena Tuhannya telah hilang. Padahal Allah masih ada, Allah Maha Melihat.

Akhirnya si Bapak jalan tuh, pulang ke rumah.
Begitu sampai di ucap salam,”Assalamu’alaykum.”
” Wa’alaykumusalam,”dijawab sama istrinya.
Sambil senyum-senyum, dicolek tuh si Bapak, “laku berapa Pak?”

Sambil nyesek di hati tuh, sekuat tenaga si Bapak menjawab,”Alhamdulillah.”
“iya Alhamdulillah tuh laku berapa pak?” sahut sang istri tetap dengan senyumannya.

Dalam hati si Bapak, Diem Loe, Gue lagi berusaha sabar nih, diem Loe.

“InsyaaAllah, alhamdulillah laku 4 juta.” Jawab si Bapak kemudian.
“Alhamdulillah, siapa pak yang beli?” lanjut si istri.
“Allah yang beli,”mantab si Bapak menjawab.

Harapan si Bapak kan agar anaknya bisa kuliah, pakai duit atau ndak pakai duit, Allah yang menggerakkan selanjutnya.

Tiba waktu pembayaran uang kuliah, belum ada uang. Putus kuliah. Tapi, apa jawaban Allah, memang Allah sengaja tuh anak dipindahkan kuliah tidak di Indonesia, tapi di Wellington, Australia.
Wasilahnya apa? jadi tukang cuci.
Si anak ikut suatu agency, meluncur ke Australia jadi tukang cuci piring. Sambil kerja dia ngajar ngaji setiap sabtu.
Orang di tempat ngajar ngaji bilang,”sekalian kuliah aja disini.”
“tapi saya sudah kontrak kerja.”jawab si anak.
“kontrak berapa bulan?”
“3 bulan.”
“ya udah selesaikan dulu kerja 3 bulan, setelah itu ambil program Bahasa di wellington.”

Lihatlah… jalan Allah tiada disangka, cerita Allah jauh lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (?)
Jika berkata soal ikhtiar, memang kita harus ikhtiar. Tapi, jika ikhtiar itu dijadikan Tuhan, ketahuilah bahwa Allah itu Wahdah –tidak butuh siapa-siapa.
Percayakan semuanya kepada Allah.

“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”


Inspired by

Ustad Yusuf Mansur

Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus [ 1 ]



Ceritera tentang sebuah keluarga, tentang Tauhid.
Beginilah jadinya jika seseorang tidak mengenal Allah. Mari kita simak percakapan seorang anak dan bapaknya.

“Pak, minggu depan saya harus bayar kuliah. Kalau tidak bayar minggu depan, saya tidak bisa kuliah.” Ucap sang anak.

Dari kalimat si anak ini, jika dilihat dari kacamata dunia, itu benar. Namun ketika menggunakan konsep tauhid, itu salah. Bagaimana mungkin “uang” bisa membuat seseorang kuliah dan tidak kuliah. Padahal uang, jika tidak ada yang menggerakkan, dia (uang) tidak bisa jalan sendiri ke kasir. Namun si anak ini juga bukanlah nabi Ismail dan bapaknya pun bukan nabi Ibrahim yang lebih dulu mengenal Allah, maka jawaban si Bapak menjadi tambah dungu.

“Beres nak… tuh masih ada motor. Tenang…”, jawab si Bapak.

Celaka benar. Sekarang ada berapa Tuhannya? ada dua, pertama “uang”, kedua “motor”. Bagaimana mungkin motor bisa membuat si anak kuliah. Bukankah Allah Maha Kaya, Maha Melihat. Terkadang kita nih, punya masalah ngadu-nya ke orang lain, emang pasti tuh orang bisa bantu, belum tentu. Kenapa ndak mengadu ke Allah (?)

Cerita berlanjut,
akhirnya si Bapak menuju ke showroom dealer motor.

“Pak, mau jual motor,” ucap si bapak kepada si dealer.
“Tahun berapa ?”
“Tahun 2002. Tuh di luar motornya.” Jawab si bapak.
“Mana saya lihat… wuih jelek bener tuh motor.” Ucap si dealer.
“ya memang pak. Kalau motor bagus ya tahun 2015.” Balas si bapak.
“Dijual berapa?”
“4 juta .”
“Heh… 4 juta mah harga jual pak. Harga beli ya 2 juta.” Jawab si dealer.
“Jadi berapa duit nih pak? Masak 2 juta. Anak saya butuh 4 juta buat kuliah pak.”
“Itu kan anak situ bukan anak saya.”
Akhirnya si Bapak pun ndak jadi jual tuh motor. Dia coba cari dealer lain.

Emang bandel sih. Kenapa meminta kepada orang yang tidak mampu memberi. Padahal dulu Allah yang ngasih tuh motor, kenapa tidak minta ke Allah? kenapa malah berharap kepada orang yang ndak ada urusan. Orang tuh, biasanya mau bantu kalau ada untung buat dirinya, dan satu-satunya yang membantu tanpa meminta keuntungan hanyalah Allah SWT.

Selama perjalanan si bapak teringat ilmu yang diajarkan ustad Yusuf Mansur, “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.” Sebelum ke dealer si bapak sholat dhuha dulu dua rakaat di masjid. Setelah mantab Allah dulu, jalan tuh bapak ke dealer. Nah dari sini, ikhtiarnya menjadi ibadah, tidak menjadi syirik. Karena Allah dulu. Dengan mengucap bismillah, si bapak masuk showroom.

“Assalamu’alaykum. saya mau jual motor Pak,” ucap si bapak kepada si dealer.
“Tahun berapa ?”
“Tahun 2002. Tuh di luar motornya.” Jawab si bapak.
“Mana saya lihat… wuih jelek bener tuh motor.” Ucap si dealer.
“ya memang pak. Kalau motor bagus ya tahun 2015.” Balas si bapak.
“iya juga sih, dijual berapa?”
“4 juta .”
“wuihh… 4 juta mah harga jual pak. Harga beli ya 2 juta.” Jawab si dealer.
“Masak 2 juta pak. Anak saya butuh 4 juta buat kuliah pak.”
“Itu kan anak situ bukan anak saya. Yaudah saya beli 2,5 juta. Udah mentok. Mumpung masih pagi ini, saya lagi enak hati.”

Sama. Tidak ada yang beda, memang kalau motor jelek ya jelek aja. Kalau harganya murah ya murah aja. Tapi…, setelah mendahulukan Allah dalam setiap urusan, Allah akan bantu tuh dengan cara-caranya Allah sendiri.
Prinsip selanjutnya setelah Allah dulu, “Allah lagi”.

“ya udah Pak, saya nanya dulu…?” jawab si bapak.
“ya udah sana nanya sama istri,” sahut si dealer.
“Bukan Pak. Mau nanya sama Allah.” Jawab si bapak dengan mantab.
“heh.. ini urusan motor nih, apa urusannya sama Allah (?)” ledek si dealer.
“Kagak Pak, emang prinsipnya kayak gitu.” Jawab si bapak sambil senyum.
“Ya udah tanya sama Allah tuh, kayaknya jawaban Allah sama, 2,5 juta.” balas si dealer sambil ketawa.
“ya…ya, pokonya saya mau nanya dulu lah.”

Si bapak beranjak pergi.
Si dealer nanya pada officeboy-nya.
“emang Allah kelihatan ya bisa ditanya ? terus alamatnya mana ?”
“buat orang yang beriman, Allah ada Pak. Dan buat orang yang beriman, dia pun tahu dimana Allah.” Jawab si officeboy dengan mantab.
“dimana Allah ?”Tanya si dealer lagi.
“Masjid.”

Kita tengok si Bapak yang masuk masjid, sholat lagi dua rakaat.
Dia (si bapak) pun berdo’a.
“Ya Allah, saya udah ikhtiar nih. Nih motor ditawar 2,5 juta. Kalau saya jadi jual nih motor sama tuh dealer. Yang 1,5 juta nya lagi mau tanggung jawab? Kalau mau nanggung yang 1,5 juta, saya jalan nih jadi jual motor ke dealer.”

Apakah Allah jawab do’a nya?
Dijawab, asli dijawab. Bagaimana jawabannya? kita tengok lagi cerita si Bapak. Pada episode ke 2, “Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”.