Kisah tak Selalu Sempurna
Kisah tak selalu sempurna.
Karena cerita tentang kehidupan tak selalu seperti apa yang kamu tuliskan. Ada kalanya sengaja Allah belokkan. Agar jadi sebuah pelajaran, bahwa akhir sebuah cerita tetap tersimpan di ujung pena tinta-Nya.
Dia terdiam hampir sejam
lamanya. Wajahnya lebih dingin daripada udara di musim salju. Tatapannya sendu.
Pandangannya terkunci pada jalanan yang sepi. Entah apa yang dipikirkannya saat
ini. Malam semakin sunyi dan salju terus berjatuhan di luar jendela kaca tiada
henti. Kurasa malam ini akan jadi malam yang panjang di Divan Yolu Cad Café.
Beberapa pengunjungpun masih menikmati obrolan mereka. Namun teh sage milikku
sudah habis sejak tadi. Bahkan novel yang kubaca sudah sampai setengah
perjalanan. Dia masih diam.
“Al, sudah kuputuskan. Aku
tak akan datang.” Ujarnya tiba-tiba memecah sepi.
Tatapannya masih tertuju
ke luar jendela. Terlihat salju mulai menutupi setiap ruas jalan yang tak
bernyawa. Ada rasa kecewa dan penyesalan tergambar di raut wajahnya.
“Kamu mencoba menghindar
dari kenyataan?”balasku. Dia menoleh ke arahku. Kutandai letak akhir bacaanku.
Kututup buku itu dan kuletakkan di atas meja bundar, di depanku. Kini terlihat
jelas di wajahnya, ada genangan rasa perih yang coba dia tahan.
“Kamu tahu sendiri Al. Aku
sekuat tenaga menahan perasaaan ini dan berjuang sampai dititik sekarang aku
berusaha…” suaranya terhenti. “hanya
untuk dia...”suaranya semakin lirih. Ada setetes buliran air jatuh di pipinya.
Segera dia mengusapnya dan kembali menoleh ke luar jendela.
“Tapi memenuhi undangan
adalah salah satu hak seorang muslim, El. Kamu tahu itu.”
Dia masih diam.
“Aku selalu mengagumimu
kawan. Kemandirianmu, perjuanganmu, prestasimu, dan keteguhan prinsipmu. Kamu sahabat
terbaikku yang pernah ada. Namun El, dengarkanlah sekali saja nasihat dari
sahabatmu ini”
Entah apa yang membuat dia
betah melihat jalanan yang sepi dan bersalju. Mungkin hatinya sama sepinya
dengan jalanan itu. Atau memang dia merasa bahwa hatinya lebih dingin daripada
hujan salju di luar sana. Dia masih diam beku.
“Aku tahu kamu tipe lelaki
yang setia. Tidak sedikit wanita yang mencoba mendekatimu, namun kamu tetap
memilih dia untuk berada di hatimu. Meski jarak dan waktu memisahkan kalian berdua,
namun tak mengubah sedikitpun perasaanmu padanya. Namun El, kamu harus tahu
satu hal. Jangan jadi orang egois. Emang dia punya rasa yang sama sepertimu? Akhir
sebuah cerita tetaplah mutlak berada di ujung pena-Nya.”
Dia menoleh kembali ke
arahku.
“Apa kamu pikir aku salah
jika mencintainya Al? Apakah langkah yang kutempuh ini salah Al? Apakah
seharusnya kukatakan saja sebelumnya bahwa aku menyukainya, agar dia tahu bahwa
ada lelaki yang masih berjuang untuk menghalalkannya.” Suaranya mulai serak.
Wajahnya masih sendu sedingin salju.
“Tidak Al, jalanmu sudah
benar. Tak perlu kamu ragukan sedikitpun. Karena itulah aku mengagumimu”
Aku sangat tahu persis
tentang sahabatku, El Kindi Jauzi. Kita berteman sejak kecil, dan terus berada
disatu sekolah yang sama sampai saat ini. Perjuangan ini demi melihat senyum
bahagia di wajah orangtua kita. Atas izin Allah, kini kita bisa sampai studi Sarjana
di kampus Eropa, tepatnya di Turki. Aku sangat tahu gadis itu. Gadis yang
meculik hatinya sejak kali pertama bertemu. Aku menjadi saksi senyumnya setiap
kali berpapasan di lorong sekolah, atau kadang bertemu di perpustakaan,
sesekali berjumpa di kantin saat makan siang. Senyum yang tak wajar, bagiku.
Namun dia hanya diam dengan segala perasaan yang membuncah di hatinya. Dan aku
satu-satu sahabatnya tempat bercurah cerita.
Dan pertemuan dengan gadis
itu berakhir di ujung wisuda SMA. El tak lagi bertemu dengannya, namun dia tahu
pasti dimana gadis itu tinggal. Dan El berjanji dalam hatinya akan mendatangi
kedua orangtuanya saat purna Sarjana. Namun saat waktu yang dinanti itu tiba.
Ketika seminggu lagi kita wisuda. Undangan itu datang bak halilintar
menghanguskan semua kisah yang telah lama dia tuliskan. Gadis itu, Fatma akan
menikah.
“El, dengarlah. Tak ada
yang salah dengan cinta. Bahkan hidup kita ini adalah bentuk dari cinta-Nya.
Merasakan cinta itu fitrah setiap manusia El. Dan prinsipmu itu benar El. Cinta
sejati hanya hadir atas ridlo-Nya. Ingatlah, seorang mukmin itu beriman kepada
takdir Allah, baik ataupun buruk. Dan sesungguhnya takdir Allah itu selalu
terbaik untuk makhluk-Nya. Bisa jadi di belahan bumi yang tak pernah kamu
ketahui, ada seorang bidadari yang setiap malamnya mendoakanmu.”
Dia terdiam.
“Kamu benar Al..,”ucapnya akhirnya.
"Aku seorang muslim," wajahnya menengadah ke atas bersandar pada kursi. Matanya terpejam, dia tarik
nafas pelan-pelan. Sepertinya kebekuan itu mulai mencair secara perlahan.
“Satu hal yang kurang
benar darimu..El” aku diam sesaat. Dia mengerutkan kening, menatapku.
“Kamu telah membuat Allah
cemburu,”lanjutku.
“Maksudnya?”kini wajahnya
penuh tanya.
“Kamu penuhi hatimu dengan
nama Fatma, bahkan kamu tancapkan harapanmu padanya. Meskipun kamu tak lagi
bertemu dengannya, namun pikiranmu selalu untuknya. Ingat El, semakin banyak kita
bergantung pada selain Allah, maka semakin banyak tunas-tunas kekecewaan yang
kita tumbuhkan.”
“Aku tahu itu Al. Aku tahu
teori itu, namun praktiknya…almost zero. Aku tak sekuat yang kamu kira.
Aku terlalu rapuh urusan cinta.” Suaranya pelan. Kini pandangannya kembali
tertuju pada jalanan yang memutih sempurna.
“Excusme. A cup of sage
tea, Sir.” Seorang pelayan meletakkan secangkir teh sage di meja depanku.
Dia mengambil cangkir yang sudah tak lagi berisi. Meletakkannya di atas nampan
kayu yang unik.
“There more can I help
you, Sir?” lanjutnya penuh keramahan.
“Enough. Thanks,”balasku
tersenyum menyambut keramahannya.
“your welcome,”pelayan
itu tersenyum dan berbalik menyisakan kami berdua.
Aku menyeruput teh itu.
Masih hangat.
“Tidak El, kamu orang
super kuat. Kamu kuat El. Hanya saja, ini ujian perdana kamu soal cinta. Jika
kamu menyerah sekarang, maka esok ataupun lusa, Allah akan menguji dengan hal
yang serupa sampai kamu lulus dan wisuda dari ujian-Nya. Hadapilah kenyataan
sekarang El. Move up ! Ini adalah pelajaran buat kamu, buatku juga, buat
semua lelaki di seluruh dunia. Mencintai wanita itu sah-sah saja, asal harapan
tetap disandarkan pada sang Pemilik hati. Bagaimanapun, sebuah cerita endingnya
sesuka sang penulis cerita.”
“Terus aku harus bagaimana Al?
apa aku harus datang ke pernikahannya, mengucapkan selamat. Sedangkan hatiku
merasakan sakit yang teramat.”
“Masih ada waktu 2 minggu.
Obati rasa sakit itu dengan keikhlasan dan penuh penerimaan. Kamu lebih tahu
apa yang harus kamu lakukan El. Curahkanlah semuanya pada-Nya.”
“Aku akan coba,”jawabnya
singkat.
“Dan aku harap kamu
memutuskan untuk pulang ke Indonesia pasca wisuda, bersamaku. Karena aku butuh
saksi disana nanti” kembali kuseruput teh sage milikku.
“Kamu langsung menikahinya,
teman masa kecilmu?” kini kulihat cahaya senyum di wajahnya.
“Belum El. Mengkhitbah
dulu, hehehe” kubalas senyumnya sehangat teh sage eropa.
“Aku mendukungmu kawan.
Aku akan berada di garda paling depan untukmu,” ucapnya penuh semangat. Itulah
yang selalu kukagumi darimu El. Kamu selalu ikut bahagia ketika sahabatmu
bahagia.
“Oke, jadi gini
strateginya. Kamu hadapi ayahnya. Aku menculik putrinya.”
“Siap!”
Akhirnya kita bisa melepas
tawa bersama. Lihatlah, salju itu telah mencair sepenuhnya. Lelehannya mengalir
di kedua ujung matanya.
oleh brianzenict.
selesai ditulis
20161001
Sourcephoto: https://id.pinterest.com/pin/349591989799299133/










Best lahh..
BalasHapus