Tampilkan postingan dengan label Surat Cinta. Tampilkan semua postingan

BATAS



Bergantinya daun-daun hijau
Walaupun belum musimnya semi
Bermekar bunga-bunga di surga
Meski tak ada hujan menepi
Dan pagi yang berganti senja
Berharap tak lagi ada jeda
Antara kamu dan aku

Namun biru langit yang teduh
Adanya keikhlasan untuk saling jauh
Dan bulan terlihat indah bercahaya
Adalah jarak untuk saling percaya
Dan spasi diantara kita
Berharap menjadi bait-bait cinta
Untuk saling pasrah dan menerima

Ketika hati dihujan rindu
Sedangkan suara masih kelu
Dan asa ingin bersama
Pada janji yang terpisah waktu
Sungguh tak ada batas paling indah
Hanya doa tempat kita bertemu

Jadi izinkan aku menyapamu
Sebatas aksara dalam prosa
Disetiap jeda kata dalam doa

Batas kita.


oleh Brianzenict

selesai ditulis
29112016

Sepucuk Surat, Setangkai Rasa



Untuk Dewi,
di balik dinding kaca bertabir sunyi

Maaf, aku menuliskan ini untukmu
Jika kamu tak berkenan, kamu bisa membuangnya,
tak usah kamu lanjutkan membaca
Namun jika kamu tak tega, tolong bacalah…
Meski sedikit saja, tak lama

Ini tentang rasa
Tentang pergulatan pikiran di ujung pena
Tentang suara yang beresonansi di hati
Tentang malu yang menyelinap tiba-tiba
Tentang rindu yang singgah tanpa permisi
Tentang kamu,
yang membuat gagu lisanku

Disinilah tempatku berdiam
Di deretan kata-kata yang bisu
Diantara frasa yang terbungkam
Hanyalah pena, kertas dan secangkir diksi
Untuk menyapamu.

Adakah rasa yang sama disitu?
Tepat di hatimu.

Ku biarkan tabir itu menutup jiwaku
Izinkanku melihatmu di seberang rindu

Salam sahabat,

Riyan

cuplikan dari naskah cerita "Balasan"
Nantikan episodenya, pekan depan.

selesai ditulis 
26 Maret 2016

source photo: https://tabirjodoh.wordpress.com/category/puisi-jodoh/

Cinta Secara Sederhana


Aku ingin mencintaimu secara sederhana. Bukan dengan memaksa namun memberi. Mengerti kebutuhanmu, memberi segala yang kamu perlu. Bukan memaksamu untuk mengerti namun memaksa diriku sendiri untuk bisa memahami.

Belajar dari prinsip pertanian. Sebelum mendapatkan hasil panen, terlebih dahulu menanam. Setelah menanam apakah bisa langsung dipanen? Ada jeda waktu dan hal – hal yang perlu dilakukan setelah menanam. Proses yang dilakukan petani adalah terus memberi segala kebutuhan tanaman. Memberi pupuk, menyiram, merawat dan menjaga tanaman dari hama. Butuh proses yang cukup lama, perjuangan yang besar, dan kesabaran yang tinggi.

Sederhana, hanya memberi. Memberi dengan setulus hati. Memberi tak hanya materi, memberi sesuai dengan bahasa kasih yang kamu miliki. Ada lima bahasa kasih pada setiap orang sejauh yang aku pahami.

Aku akan jadi yang pertama memberikan setangkai kata – kata indah untuk mengharumkan dan menguatkan hatimu. Tangan ini akan selalu hadir untuk menggandengmu melangkah ke jannahNya dan memberikan pelukan hangat disaat kamu butuh tempat untuk berteduh dari segala keletihan mengurus rumah tangga. Akan aku siapkan diri ini untuk menemanimu belanja berbagai kebutuhan rumah kita, dan akan ku siapkan sarapan saat kamu sedang sibuk mengurus buah hati kita. Jika kamu suka dengan hadiah, sesering mungkin akan aku berikan berbagai kejutan hadiah untuk menghangatkan cintamu padaku. Sebisa mungkin akan aku buatkan momen – momen indah bersamamu, makan malam bersama, menikmati senja di tepian pantai, nonton berdua, dan tak akan aku lupa saat – saat itu. Semua itu adalah bahasa kasih yang ingin coba aku pahami darimu.

Sederhana, ya. Pada akhirnya tak sesederhana menjalankannya. Butuh perjuangan dan kesabaran. Dan aku akan berjuang untuk bertahan, istiqomah melangkah meski tak mudah. Setiap orang pasti ingin dimengerti, begitu pun dengan aku. Cukup bagiku untuk memberi, melihatmu bahagia. Aku yakin kelak ketika waktunya tiba aku akan menikmati hasil panen dari cinta yang aku tanam di hatimu. Aku yakin pada Allah, aku percaya.


Aku hanya ingin mencintaimu secara sederhana.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat di ucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadaikannya tiada.

( Sapardi DJoko Damono, 1989,Aku ingin )


Teruntuk Calon Istriku

"Surat tak bersuara, namun memiliki rasa"

Teruntuk calon istriku, yang selalu ku rindu. 

Telah ku siapkan sebuah ruang indah dan megah dalam hatiku sebagai tempat tinggal cintamu. Masih tertutup rapat ruang itu dan tak ada yang mampu membukanya karena kamu yang memegang kunci pintu hatiku.

Telah ku bangun pula sebuah bahtera cinta untuk mengarungi kehidupan rumah tangga bersamamu. Karena kamulah penguat imanku ketika badai ujian dan gelombang menghantam silih berganti.

Telah ku rangkai canda- canda kecil agar aku selalu bisa menatap senyum indah dari ronamu. Memang aku tak pandai melawak pun tak pandai berucap kata, namun aku pastikan akulah nanti yang pertama membuatmu tersenyum bahagia.

Dan ku siapkan pula diri ini untuk menjadi pendengar yang baik, yang setia mendengar celotehmu saat mengadu segala urusan dan kebutuhan serta keluh kesah yang menyiksa batinmu. Karena aku ingin kamu bahagia bersamaku menghabiskan sisa hidup di dunia. Dan ingin ku bangun cinta bersamamu sampai di surga nanti.

Di kala rindu seperti saat ini yang bisa ku lakukan hanyalah menyelipkan namamu dalam setiap do’a. Dan aku yakin kamupun melakukan hal yang sama. Ya, do’a adalah media komunikasi bait – bait rindu untuk ku saat ini. Karena Allah Maha Mengetahui dalamnya hati dan kelak cinta ini bermuara.


            Salam rindu tiada tara,