Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus [ 2 ]

9:35:00 PM Brian zenict 0 Comments



Sebab suatu do’a belum terkabul, bisa jadi dalam hati ini masih ada Tuhan selain Allah. Masih ada harapan kepada selain Allah. Padahal satu-satunya tempat berharap hanyalah kepada Allah Azza Wajala.

Jika kita do’a pasti dijawab Allah, pasti. Karena Allah sendiri yang menyuruh kita (hambanya) agar berdo’a. Hanya saja Allah menjawabnya lewat jalan-jalan yang sesuai dengan takaran dunia, bisa jadi lewat mimpi, atau tanda-tanda alam, bisa jadi lewat kejadian-kejadian disekitar kita. Terkadang kita kurang aware dalam menanggapi jawaban Allah.
Nah, bagaimana Allah menjawab do’a si Bapak. Mari kita tengok kembali kisah si Bapak dalam episode 1 (Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus).

Usai sholat dan do’a, si Bapak sudah putuskan mau jual tuh motor.
Keluar masjid, “Lho, kemana nih motor?”
-motor si Bapak hilang-

Bingung, resah, takut, pasti. Tapi, karena si Bapak meletakkan harapannya kepada Allah, rasa bingung itu dia kembalikan lagi ke Allah.
Setelah Allah dulu, Allah lagi, “Allah terus”

Si Bapak balik lagi ke dalam masjid, sholat dua rakaat. Dan kali ini nih, sholatnya lebih syahdu, lebih nikmat sampai meneteskan air mata.
Bapak pun berdo’a,
“Ya Allah…, bingung nih, mau bersyukur atau bersedih. Ya Allah…, tadi kurangnya 1,5 juta. Sekarang malah kurang 4 juta. Hamba berserah diri padaMu ya Rabb.”

Lihatlah, bila si Bapak meletakkan harapannya pada tuh motor, menjadikan Tuhannya itu motor. Bisa jadi dia menjadi orang yang paling gelisah karena Tuhannya telah hilang. Padahal Allah masih ada, Allah Maha Melihat.

Akhirnya si Bapak jalan tuh, pulang ke rumah.
Begitu sampai di ucap salam,”Assalamu’alaykum.”
” Wa’alaykumusalam,”dijawab sama istrinya.
Sambil senyum-senyum, dicolek tuh si Bapak, “laku berapa Pak?”

Sambil nyesek di hati tuh, sekuat tenaga si Bapak menjawab,”Alhamdulillah.”
“iya Alhamdulillah tuh laku berapa pak?” sahut sang istri tetap dengan senyumannya.

Dalam hati si Bapak, Diem Loe, Gue lagi berusaha sabar nih, diem Loe.

“InsyaaAllah, alhamdulillah laku 4 juta.” Jawab si Bapak kemudian.
“Alhamdulillah, siapa pak yang beli?” lanjut si istri.
“Allah yang beli,”mantab si Bapak menjawab.

Harapan si Bapak kan agar anaknya bisa kuliah, pakai duit atau ndak pakai duit, Allah yang menggerakkan selanjutnya.

Tiba waktu pembayaran uang kuliah, belum ada uang. Putus kuliah. Tapi, apa jawaban Allah, memang Allah sengaja tuh anak dipindahkan kuliah tidak di Indonesia, tapi di Wellington, Australia.
Wasilahnya apa? jadi tukang cuci.
Si anak ikut suatu agency, meluncur ke Australia jadi tukang cuci piring. Sambil kerja dia ngajar ngaji setiap sabtu.
Orang di tempat ngajar ngaji bilang,”sekalian kuliah aja disini.”
“tapi saya sudah kontrak kerja.”jawab si anak.
“kontrak berapa bulan?”
“3 bulan.”
“ya udah selesaikan dulu kerja 3 bulan, setelah itu ambil program Bahasa di wellington.”

Lihatlah… jalan Allah tiada disangka, cerita Allah jauh lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan (?)
Jika berkata soal ikhtiar, memang kita harus ikhtiar. Tapi, jika ikhtiar itu dijadikan Tuhan, ketahuilah bahwa Allah itu Wahdah –tidak butuh siapa-siapa.
Percayakan semuanya kepada Allah.

“Allah dulu, Allah lagi, Allah terus”


Inspired by

Ustad Yusuf Mansur

0 komentar: