Allah Dulu, Allah Lagi, Allah Terus [ 2 ]
Sebab suatu do’a belum terkabul, bisa jadi dalam hati
ini masih ada Tuhan selain Allah. Masih ada harapan kepada selain Allah.
Padahal satu-satunya tempat berharap hanyalah kepada Allah Azza Wajala.
Jika kita do’a pasti dijawab Allah, pasti. Karena
Allah sendiri yang menyuruh kita (hambanya) agar berdo’a. Hanya saja Allah
menjawabnya lewat jalan-jalan yang sesuai dengan takaran dunia, bisa jadi lewat
mimpi, atau tanda-tanda alam, bisa jadi lewat kejadian-kejadian disekitar kita.
Terkadang kita kurang aware dalam menanggapi jawaban Allah.
Nah, bagaimana Allah menjawab do’a si Bapak. Mari kita
tengok kembali kisah si Bapak dalam episode 1 (Allah Dulu, Allah Lagi, Allah
Terus).
Usai sholat dan do’a, si Bapak sudah putuskan mau jual
tuh motor.
Keluar masjid, “Lho, kemana nih motor?”
-motor si Bapak hilang-
Bingung, resah, takut, pasti. Tapi, karena si Bapak
meletakkan harapannya kepada Allah, rasa bingung itu dia kembalikan lagi ke
Allah.
Setelah Allah dulu, Allah lagi, “Allah terus”
Si Bapak balik lagi ke dalam masjid, sholat dua rakaat.
Dan kali ini nih, sholatnya lebih syahdu, lebih nikmat sampai meneteskan air
mata.
Bapak pun berdo’a,
“Ya Allah…, bingung nih, mau bersyukur atau bersedih.
Ya Allah…, tadi kurangnya 1,5 juta. Sekarang malah kurang 4 juta. Hamba
berserah diri padaMu ya Rabb.”
Lihatlah, bila si Bapak meletakkan harapannya pada tuh
motor, menjadikan Tuhannya itu motor. Bisa jadi dia menjadi orang yang paling
gelisah karena Tuhannya telah hilang. Padahal Allah masih ada, Allah Maha
Melihat.
Akhirnya si Bapak jalan tuh, pulang ke rumah.
Begitu sampai di ucap salam,”Assalamu’alaykum.”
” Wa’alaykumusalam,”dijawab sama istrinya.
Sambil senyum-senyum, dicolek tuh si Bapak, “laku
berapa Pak?”
Sambil nyesek di hati tuh, sekuat tenaga si Bapak
menjawab,”Alhamdulillah.”
“iya Alhamdulillah tuh laku berapa pak?” sahut sang
istri tetap dengan senyumannya.
Dalam hati si Bapak, Diem Loe, Gue lagi berusaha sabar
nih, diem Loe.
“InsyaaAllah, alhamdulillah laku 4 juta.” Jawab si
Bapak kemudian.
“Alhamdulillah, siapa pak yang beli?” lanjut si istri.
“Allah yang beli,”mantab si Bapak menjawab.
Harapan si Bapak kan agar anaknya bisa kuliah, pakai
duit atau ndak pakai duit, Allah yang menggerakkan selanjutnya.
Tiba waktu pembayaran uang kuliah, belum ada uang.
Putus kuliah. Tapi, apa jawaban Allah, memang Allah sengaja tuh anak
dipindahkan kuliah tidak di Indonesia, tapi di Wellington, Australia.
Wasilahnya apa? jadi tukang cuci.
Si anak ikut suatu agency, meluncur ke Australia jadi
tukang cuci piring. Sambil kerja dia ngajar ngaji setiap sabtu.
Orang di tempat ngajar ngaji bilang,”sekalian kuliah
aja disini.”
“tapi saya sudah kontrak kerja.”jawab si anak.
“kontrak berapa bulan?”
“3 bulan.”
“ya udah selesaikan dulu kerja 3 bulan, setelah itu
ambil program Bahasa di wellington.”
Lihatlah… jalan Allah tiada disangka, cerita Allah
jauh lebih indah dari apa yang kita rencanakan. Maka nikmat Tuhanmu manakah
yang kamu dustakan (?)
Jika berkata soal ikhtiar, memang kita harus ikhtiar.
Tapi, jika ikhtiar itu dijadikan Tuhan, ketahuilah bahwa Allah itu Wahdah –tidak
butuh siapa-siapa.
Percayakan semuanya kepada Allah.
“Allah
dulu, Allah lagi, Allah terus”
Inspired
by
Ustad
Yusuf Mansur










0 komentar: