Nyayian malam dan pertemuan
Aku pun hanya tenggelam dalam diam
Menepi ke ruang sunyi, sendiri
Aku ingin bersembunyi
Dari sepasang mata yang kau miliki
Dari rasa yang menyusup ke bilik hati
Aku tak berdaya, tak bernyali
Untuk bersua walau sekedar sapa
Ketika kamu tertawa, tersenyum dengan
mereka,
Aku bisa apa?
Pada akhirnya aku bukan siapa – siapa
Yang ku bisa hanya melihatmu di seberang
rindu
Kamu tak perlu tahu…
Senja memasang wajahnya di hamparan langit
mayapada. Terlihat kawanan burung terbang pulang menemui anak-anaknya. Dan mentari
pun bersiap-siap kembali kepangkuan bumi melepas lelah, setelah seharian
menebarkan kehangatan tanpa ada keluh kesah. Sebelum malam membuka tirai, untuk
mengganti wajah senja menjadi gelap gulita, kandil – kandil mulai dinyalakan di
setiap ruas jalan dan di sepanjang lorong sekolahan, tempatku kini berada.
Malam ini adalah malam perkemahan untuk siswa baru.
“Yan, yok sholat dulu. Ntar dilanjut
lagi,”ajak Arif yang sedari tadi ngeGame lewat HP duduk di sebelahku.
“ok. Kamu juga stop dulu ngeGame-nya,” ku
tutup bukuku. Kami mulai beranjak dari kursi di lorong itu, menuju mushola
sekolah untuk berwudhu.
Kami sholat maghrib berjamaah di pusat
lapangan yang sudah tersedia alas karpet dan terpal. Aku bawa sajadah sendiri.
Takbir di mulai, sejenak hening, alam membisu, menyaksikan, mendengar,
kebesaran dan keagungan Penciptanya melalui sujud – sujud hambaNya. Dan di
dalam sujud yang panjang itu, aku bercengkerama melalui do’a. Memohon ampun
atas dosa – dosa yang pernah mengisi lembaran hidupku di sepanjang usia.
Memohon ampun akan rasa yang tak semestinya menguasai hati ini, sehingga
membutakanku dari melihat kasih dan cintaNya. Wahai Engkau dzat yang mampu
membolak-balikan hati setiap yang bernyawa. Sampai kapankah Engkau uji aku
dengan perasaaan yang tak ku kenali siapa empunya? Kepada siapakah di sekian
banyak anak manusia tempat kembalinya?
***
Api unggun dimulai, semua kelompok
meninggalkan tenda mereka untuk kemudian melingkari api yang telah
menyala-nyala. Sesuai janji yang dibuat – bukan janji sih sebenarnya, melainkan
aturan panitia yang memaksa - setiap kelompok harus menampilkan sesuatu untuk
malam ini. Ada yang menampilkan drama, ada yang main sulap ala anak TK,
sebagian main gitar dan dilanjut menyanyi, ada pula yang melafalkan puisi, tak
terkecuali kelompokku, tapi bukan aku yang membacanya. Tugasku hanya mencipta
puisi, sedangkan Bagus yang mengurai lewat lisannya, diiringi musik akustik
yang dimainkan Arif. Irama merdu mengalun syahdu mengiringi pencarianku akan
keberadaanmu, dimanakah kamu dewi? Ku edarkan pandangan mengeja satu per
satu di setiap barisan untuk mencarimu. Ya, hanya sekedar memastikan bahwa kamu
baik-baik saja, atau itu hanya alasan bagiku yang lama tertawan rindu. Kenapa
tak kutemui disekian banyak anak manusia ini, apakah jarak kita semakin jauh
hingga pandanganku tak lagi mampu menempuh, haruskah ku berlari mengejarmu?
Bahkan kamu tak sedikitpun memberi tanda kepadaku yang kini menikmati menjadi tawanan
rindu.
Penampilan setiap kelompok berakhir,
menyisakan senyum dan tawa di wajah-wajah mereka, sedangkan aku, tak tahu harus
tersenyum karena apa. Bahkan tak ku temu bayangmu.
Selanjutnya permainan dari panitia untuk
semua kelompok. Masing – masing kelompok harus diwakili satu anak untuk maju
bermain yaitu anak yang belum pernah tampil sama sekali. Arif, Bagus, Bagas,
Gilang, Sigit, Agung, Yudi, serempak menatapku. “apa maksudnya ini?”tanyaku
pada mereka, anggota kelompokku.
“Yan, kamu sendiri disini yang belum
maju,”jawab mereka hampir bersamaan.
“eh, tunggu – tunggu….bukan aku aja yang
belum maju, masih ada Asmi dan Dito kan,” balasku mencoba cari-cari alasan.
“dimana emang mereka sekarang?” tanya Arif.
“Sek, bentar. Tak carikan mereka
dulu,”kilahku. Aku mencoba berlari. Mereka bersamaan menangkapku, menarikku,
meyeretku maju.
“udah kamu aja yang maju, mencari mereka
keburu selesai permainannya,”ujar Agung.
“hei rek, aku ndak bisa. Gantilah.”
Pintaku.
“wong cuman main-main aja ae lho Yan, wes
nikmati ae,”ujar Sigit.
Mereka senyum-senyum, lantas kemudian
tertawa. Ah, apanya yang lucu. Sial.
Terlihat ada 18 belas anak berdiri di depan
melingkari api unggun, termasuk aku. Ketika mata ini mengedarkan pandangan, aku
mendadak kaku. Tubuh ini beku meski ada api unggun di depanku. Aku tak berkutik
seketika, hati ini mulai memainkan nada yang tak ku mengerti syairnya. Bumi
seolah berhenti. Lagi – lagi aku bertanya, entah pada malam, atau bulan yang
mengintipku sejak tadi di balik awan, konspirasi macam apa lagi ini? aku
kembali menemukannya, Dewi. Dan kini dia pun menemukanku –eh emang dia
mencariku.
Tempo lalu aku dipertemukan dengannya oleh
hujan senja, dan kini…aku mellihat mu untuk yang kedua kali sejak itu, kini di
malam purnama. Oh malam, syair apakah yang hendak kau mainkan padaku kali ini.
Apakah engkau merasakan bahwa rindumu kepada sang pagi begitu menyakitkan
sehingga kau coba obati aku dalam sebuah pertemuan. Padahal aku menikmatinya
sesekali, rindu itu. Karena memang aku tak punya cukup tenaga untuk mencipta
temu. Dan sekarang, mungkinkah aku bisa bersembunyi lagi dari sepasang mata
yang dia miliki?
Panitia membagikan balon yang di dalamnya
ada sebuah jebakan, yaitu gulungan kertas yang bertuliskan hal-hal yang iseng
dan menjebak bagi siapa saja yang memiliki balon itu, tapi tak semua, hanya
beberapa yang lagi beruntung saja. Tahukah kamu, Dewi. Bukankah kita dulu
pernah memainkan permainan ini. Dan tahu kah kamu sekali lagi, ketika kamu yang
akhirnya terperangkap dalam jebakan waktu itu, aku menjadi pengecut lantas
melarikan diri. Entah karena apa, ada luka yang tercipta, sesak di dada. Ketika
giliranmu harus meletuskan balon yang kau pegang dan disuruh membacakan isi kertas
dalam gulungan. “Ungkapkanlah cintamu kepada orang yang memegang balon biru”
ucapmu kala itu, dan kamu mencari balon warna biru, ternyata dibawa oleh
seorang laki-laki yang tak asing lagi, bagimu pun bagiku. Kau pun gugup, malu –
malu. Setelah itu, entah apa yang kau lakukan, aku tak tahu. Aku menepi dari
keramaian, sembunyi di dalam jubah sang malam. Karena aku tak punya tenaga
untuk melihatmu, dada ini terasa sesak sekedar mendengar suaramu. Aku, menepi
ke lembah sunyi di bibir danau tak berpenghuni, seorang diri.
Sesaat aku tenggelam dalam lamunan, tak
mengindahkan instruktur panitia. Aku mencoba menerka permainan macam apa ini
nantinya, apakah sama? akhirnya kuputuskan, “Doorr” balon milikku sengaja ku
letuskan lebih dulu.
“Maaf mas panitia, balon ku tiba-tiba
meletus, sepertinya aku tak bisa ikut permainan,” ucapku setengah teriak, sambil
sedikit melempar senyuman.
“Doorr” sejurus kemudian terdengar pula
letusan balon yang kedua. Aku mencari si empunya.
“Maaf mas, balon punyaku juga meletus”
suara itu sangat ku kenal, ternyata Dewi.
Mas panitia –Bagus namanya- tersenyum,”Ok. Kita
sudah ada dua peserta yang mulai main duluan. Sini mendekat, bawa pula gulungan
kertas yang jatuh.”
“Heh…lho mas, kog bisa”, aku mencoba
mengelak. Jantung ini semakin bergetar tak beraturan, aku cemas, gugup, takut,
malu, lega, senang, entah perasaan mana yang mewakili, aku benar-benar tak
megerti.
Semua anak berteriak, sorak-sorak, ketawa. Ada
pula yang menggoda dan meledek dengan leluconnya,” cie, akhirnya ketemu.” Itu si
Arif.
Aku masih bingung cari jalan keluar dari
situasi yang pelik ini. Bukan maksud hati ingin mencipta suasana seperti ini,
bahkan sebenarnya aku ingin sekali berlari. Tapi kog malah jadi begini. Sang malam
seolah tersenyum geli, menyaksikan wajahku menjadi pucat pasi.
“Ayo dhek, mendekat kesini. Kalau ndak mau,
satu kelompok kena hukuman,”ancam mas Bagus kemudian. Sebenarnya dia juga
senyum-senyum mengucapkannya.
Bagaimana ini, kulihat Dewi mulai melangkah
ke arah mas Bagus dengan ekspresi yang sangat ku kenali seperti dulu. Aku,
masih terpaku, tak bergeser sejengkalpun.
“ayo Yan, jalani aja. Kesempatan,” si Arif
lagi.
“Yan, tega yo kamu, kelompok kita dapat
hukuman,”yang ini Gilang.
Bagus, Bagas, Sigit, Agung, Yudi tertawa
cekikikan.
Bismillah, aku mulai menguatkan diri. Aku tak
ingin menjadi pengecut lagi. Aku mulai melangkah maju, ke arah mas Bagus yang
telah menunggu. Setiap langkah ku lalui dengan gelisah dan cemas,
bertanya-tanya dalam hati kejutan apa lagi akan terjadi setelah ini. Aku belum
tahu isi gulungan kertas yang akan menjebakku.
Aku mendekat, dan jarak diantara kita
seakan tidak bersekat. Aku menunduk, semua seakan hening. Teriakan dan sorak
teman-teman seakan tenggelam dalam riuhnya gemuruh hatiku yang bertalu-talu. Ruang
seperti dihuni oleh aku dan kamu seorang, juga bulan dan bintang gemintang. Dan
mas bagus yang tadi ku lihat berdiri diantara kita seakan raib entah kemana. Ya,
hanya kita berdua, dalam kebisuan kata.
Aku mulai mencuri pandang, menatapmu. Padahal
ku tahu mencuri adalah dosa, namun tak sedikit orang yang mencuri pandang kepada
orang yang bukan mahramnya, dan dianggap biasa. Apakah demikian adanya? Aku
rasa tidak. Allah Maha Adil seadil-adilnya. Aku tak ingin mengotori hati ini,
dengan menatapmu berlama-lama. Padahal aku mencoba untuk sejenak sembunyi darimu.
Menyudahi pencarianku. Namun sungguh bohong bila ku tak ingin bertemu,
bagaimana mungkin aku tertawan oleh rindu di setiap hari-hariku bila bukan
karena jarak yang mencipta sebuah rasa untuk ingin jumpa dan mendengar suaramu.
Sungguh dusta bila ku tak peduli, bahkan sampai kini aku selalu mencoba
memahami dirimu yang selalu saja tak bisa ku mengerti.
Di ruang yang bernama sepi aku slalu
mencari, bayangmu yang biasa singgah di bilik hati. Namun ketika pencarian itu
berhenti dan jarak hanya terhitung beberapa senti, kamu dan aku, disini. Kita
seolah menjadi patung yang serasi, aku dengan diamku dan kamu yang lugu
membisu. Aku sibuk dengan irama hati yang makin tak menentu, sedangkan kamu,
entah apa yang membuat semu merah itu terlukis di wajahmu. Pada akhirnya kita
adalah dua orang lugu yang saling menunggu?
Bukankah nyanyian malam begitu syahdu?
*fiksi
diakhiri 27 februari 2016
kala hujan berhenti










0 komentar: