Surat yang tak sampai (Ku kira)
Sebuah kisah bermula dari hal –hal yang
biasa. Sebuah pertemuan yang biasa. Di ruang kelas yang biasa. Di sebuah
sekolah yang biasa – biasa saja. Tidak ada rasa yang istimewa, semua berjalan
apa adanya. Begitu hening, bening, putih tanpa noda putus asa. Ya, pertemuan
itu bermula seperti tak berbekas, kapan kita bertemu, apa yang kita katakan,
bahkan sejak kapan kita bisa saling kenal dan tahu nama satu sama lainnya. Aku
lupa. Karena teramat biasa untuk ku tuliskan disini, atau memang aku tidak
memiliki kenangan itu, pertama kita bertemu (?)
Di sebuah kelas yang berukuran 5x6 meter
(kayaknya) yang berisi 32 siswa (kurang lebih) di deretan bangku depan pojok
kiri tempat duduk kesukaanku (seingatku). Hari – hariku ku lalui bersama buku,
membaca dan menuliskan aksara – aksara matematika. Fokus di titik itu, tidak
berpindah, tidak bergeser sedikitpun dari tempat itu, kecuali satu hal,
bermain. Ya, aku tidak pernah memikirkan hal lain, atau bahkan bisa dibilang
aku tidak peduli atau memang aku tidak tahu. Entahlah yang mana yang benar.
Tapi, sebagai seorang murid, aku merasa jalan itu sudah benar, fokus belajar.
Ku lalui hari-hariku dengan 4 hal, belajar, belajar, belajar, dan bermain.
Hehehe ingat ya, ini tidak sama dengan hadist Rasulullah (ibu, ibu, ibu, ayah).
Masih ingat?
Dunia pergaulanpun terbatas bagiku untuk
mengenalnya. Setahuku berteman hanya dalam hal belajar… dan bermain. Mungkin
itu pula yang membuatku tidak merasa, membuatku tidak peka. Akhirnya aku
berurusan dengan yang namanya teman hanya sebatas membahas tugas belajar (PR),
mengerjakan algoritma matematika yang rumit, atau menghafal nama – nama latin
biologi yang melelahkan, diskusi tata bahasa Indonesia sesuai kaidah EYD yang
membosankan, dan satu hal lagi, apalagi kalau bukan tentang bermain.
“Assalamu’alaykum Tad, lagi dzikir ya?”
sapa Arif yang sukses membuyarkan lamunanku.
“Wa’alaykumusalam, Ah kamu memakai
panggilan itu lagi. sudah aku bilang, hentikan. Aku bukan anak ustad,” balasku.
“ngapain?” tanyanya singkat.
“terserah,” jawabku tak kalah singkat.
“ngelamun apa?” tanya lagi.
“kamu perlu apa?” balasku.
“aku tanya malah dijawab tanya. Tuh anak –
anak di kelas lagi gaduh, entah main apa mereka. Kamu ndak ikutan? Biasanya
kamu suka ikut main.”
“karena gaduh di kelas makanya aku keluar.
Lagi bosan.”
“Ah bidadari kelas kita selalu aja dijailin
sama anak – anak cowok.”
“siapa yang kamu maksud?” ganti aku yang
bertanya, sebenarnya sekedar memastikan.
“si dewi, siapa lagi. kamu ndak bisa
melihat cewek cantik ya,” jawabnya santai.
“diapakan dia?”responku seketika. Mencoba menahan
rasa penasaran.
“ciyee… sejak kapan kamu mulai peduli?
Hayo… apa yang kamu sembunyikan dariku sahabatku?” sekarang dia mulai
bertingkah, cengar cengir.
“bego, seharusnya kamu ketua kelas bisa
menangani hal kecil semacam itu. Ah lupakan,” kembali aku menatap rerumputan di
hamparan lapangan sepak bola. Aku mencoba untuk tidak peduli, hanya saja hati
ini merespon dengan cepat tanpa aba-aba, tanpa ku suruh pula.
“jangan – jangan dari tadi kamu ngelamunin
dia ya? Jujur aja. Masak anak pondok suka bo’ong..” kembali Arif bertingkah
seenaknya.
Aku bergeser tempat untuk duduk, kembali
menatap lapangan bola.
“sejak aku duduk disini, yang ku lakukan
hanya menatap lapangan bola, serius. Dan ngobrol denganmu barusan.”jawabku
kemudian.
“hemm, cerdas.” Kata Arif lagi.
“tidak terasa tiga tahun terlewati, ujian selesai,
terus wisuda, terus cabut dari sekolah, terus emm, ngapain lagi ya?” lanjut si
Arif.
“lihat dulu ntar nilai ujianmu, iya kalau
lulus ujian, kalau tidak?” timpalku sambil tersenyum.
“sialan kamu.”jawabnya sambil menghajarku,
bukan pukulan serius sih, pukulan pertemanan. Karena sakit juga tidak.
“udah – udah, ayo masuk kelas dulu, bentar
lagi bu guru datang,” aku berdiri menuju kelas, diikuti si Arif.
Di depan pintu kelas
Sesaat berpapasan dengannya, Dewi. Dia
tersenyum, entah pada siapa.
Langkahku terhenti, aku terdiam, tertunduk,
waktu pun ikut-ikutan bisu. Angin menerpa rambutku, jantungku kini berdetak
makin tak menentu, ku menyerah, tak berdaya.
Apakah dia sudah membacanya?
***
Tiga tahun terlewat tanpa ada rasa yang
berarti, biasa saja. Tapi entah kenapa akhir – akhir ini aku merasa berbeda. Apakah
gerangan yang mengusik batinku? Mengetuk – ketuk pintu hatiku? Sejak kapan dia
ada disana? Di serambi hatiku. Aku bahkan tak mengundangnya, dan kenapa pula
tiba – tiba ada taman bunga yang merekah di halaman hati, tak bisa ku mengerti.
Atau aku memang yang tak peka.
Setiap kali ku jumpa dengannya biasa –
biasa saja, dia senyum, aku pun juga. Tak ada rasa yang tercipta, ku rasa. Belakangan
ini kenapa aku menjadi gagu, kala jumpa denganmu. Ketika itu kau bertanya, aku
bingung harus jawab apa. Bukan tak tahu jawaban yang kau tanyakan, bukan. Aku jadi
lupa cara bicara di hadapanmu. Kala kau tersenyum menyapaku seperti biasa, aku
tak kuasa membalasnya. Hanya tertunduk bisu. Menyedihkan bukan. Aku saat ini
seperti tak ku kenali diriku sendiri. Aku raib oleh rasa yang tak ku mengerti. Aku
pun tak bisa menyebutnya sebagai cinta. Sejak kapan pula aku mengenalnya.
Di akhir ujian itu, sengaja ku selipkan
sepucuk surat untukmu. Ku taruhnya di selokan bangku yang biasa kamu duduki. Hanya
sepucuk surat yang ku tak yakin pula apa isinya. Aku juga tak mengerti kenapa
pula harus menuliskannya padamu. Apa kiranya yang kucari darimu (?) yang ku
tahu, aku menjadi gagu di dekatmu, makanya aku berkata – kata melalui kertas
dan pena.
Seminggu berlalu. Tiga hari surat itu masih
di tempatnya, seminggu kini pun tetap sama.
Apakah kau sudah membacanya?
***
Sehari sebelum wisuda.
Sore itu selepas sekolah, ketika kelas
mulai hening, hanya tinggal aku dan hembusan angin senja. Aku melepas segala
rasa. Ku hampiri bangkumu, ku ambil kembali surat itu, yang masih tersusun rapi
tak bergeserpun dari tempatnya.
Mungkin suatu saat nanti jika kita
berjumpa, aku lebih bisa menata hati. Dan tak ku butuhkan lagi tulisan pena
untuk mengungkap rasa. Ketika itu tiba, jadilah teman hidupku sampai senja. Gumamku.
***
Pasca wisuda.
Sehari setelahnya, ada sms masuk.
“Aku sudah membacanya, hehehe.”
Aku tidak paham apa maksudnya. No kontak
tak bernama.
Aku duduk terdiam di bawah pohon depan
rumah. Kembali mencari berkas – berkas ingatan yang tersimpan. Mungkinkah…?
Segera ku telpon no baru itu.
Maaf no yang anda hubungi tidak aktif
Jika itu kamu, semoga kelak Allah
mengizinkan kita kembali bertemu.
*fiksi
ditulis 17 februari 2016










0 komentar: