Surat yang tak sampai (Ku kira)

11:32:00 PM Brian zenict 0 Comments


Sebuah kisah bermula dari hal –hal yang biasa. Sebuah pertemuan yang biasa. Di ruang kelas yang biasa. Di sebuah sekolah yang biasa – biasa saja. Tidak ada rasa yang istimewa, semua berjalan apa adanya. Begitu hening, bening, putih tanpa noda putus asa. Ya, pertemuan itu bermula seperti tak berbekas, kapan kita bertemu, apa yang kita katakan, bahkan sejak kapan kita bisa saling kenal dan tahu nama satu sama lainnya. Aku lupa. Karena teramat biasa untuk ku tuliskan disini, atau memang aku tidak memiliki kenangan itu, pertama kita bertemu (?)

Di sebuah kelas yang berukuran 5x6 meter (kayaknya) yang berisi 32 siswa (kurang lebih) di deretan bangku depan pojok kiri tempat duduk kesukaanku (seingatku). Hari – hariku ku lalui bersama buku, membaca dan menuliskan aksara – aksara matematika. Fokus di titik itu, tidak berpindah, tidak bergeser sedikitpun dari tempat itu, kecuali satu hal, bermain. Ya, aku tidak pernah memikirkan hal lain, atau bahkan bisa dibilang aku tidak peduli atau memang aku tidak tahu. Entahlah yang mana yang benar. Tapi, sebagai seorang murid, aku merasa jalan itu sudah benar, fokus belajar. Ku lalui hari-hariku dengan 4 hal, belajar, belajar, belajar, dan bermain. Hehehe ingat ya, ini tidak sama dengan hadist Rasulullah (ibu, ibu, ibu, ayah). Masih ingat?

Dunia pergaulanpun terbatas bagiku untuk mengenalnya. Setahuku berteman hanya dalam hal belajar… dan bermain. Mungkin itu pula yang membuatku tidak merasa, membuatku tidak peka. Akhirnya aku berurusan dengan yang namanya teman hanya sebatas membahas tugas belajar (PR), mengerjakan algoritma matematika yang rumit, atau menghafal nama – nama latin biologi yang melelahkan, diskusi tata bahasa Indonesia sesuai kaidah EYD yang membosankan, dan satu hal lagi, apalagi kalau bukan tentang bermain.

“Assalamu’alaykum Tad, lagi dzikir ya?” sapa Arif yang sukses membuyarkan lamunanku.

“Wa’alaykumusalam, Ah kamu memakai panggilan itu lagi. sudah aku bilang, hentikan. Aku bukan anak ustad,” balasku.

“ngapain?” tanyanya singkat.

“terserah,” jawabku tak kalah singkat.

“ngelamun apa?” tanya lagi.

“kamu perlu apa?” balasku.

“aku tanya malah dijawab tanya. Tuh anak – anak di kelas lagi gaduh, entah main apa mereka. Kamu ndak ikutan? Biasanya kamu suka ikut main.”

“karena gaduh di kelas makanya aku keluar. Lagi bosan.”

“Ah bidadari kelas kita selalu aja dijailin sama anak – anak cowok.”

“siapa yang kamu maksud?” ganti aku yang bertanya, sebenarnya sekedar memastikan.
“si dewi, siapa lagi. kamu ndak bisa melihat cewek cantik ya,” jawabnya santai.

“diapakan dia?”responku seketika. Mencoba menahan rasa penasaran.

“ciyee… sejak kapan kamu mulai peduli? Hayo… apa yang kamu sembunyikan dariku sahabatku?” sekarang dia mulai bertingkah, cengar cengir.

“bego, seharusnya kamu ketua kelas bisa menangani hal kecil semacam itu. Ah lupakan,” kembali aku menatap rerumputan di hamparan lapangan sepak bola. Aku mencoba untuk tidak peduli, hanya saja hati ini merespon dengan cepat tanpa aba-aba, tanpa ku suruh pula.

“jangan – jangan dari tadi kamu ngelamunin dia ya? Jujur aja. Masak anak pondok suka bo’ong..” kembali Arif bertingkah seenaknya.

Aku bergeser tempat untuk duduk, kembali menatap lapangan bola.
“sejak aku duduk disini, yang ku lakukan hanya menatap lapangan bola, serius. Dan ngobrol denganmu barusan.”jawabku kemudian.

“hemm, cerdas.” Kata Arif lagi.

“tidak terasa tiga tahun terlewati, ujian selesai, terus wisuda, terus cabut dari sekolah, terus emm, ngapain lagi ya?” lanjut si Arif.

“lihat dulu ntar nilai ujianmu, iya kalau lulus ujian, kalau tidak?” timpalku sambil tersenyum.

“sialan kamu.”jawabnya sambil menghajarku, bukan pukulan serius sih, pukulan pertemanan. Karena sakit juga tidak.

“udah – udah, ayo masuk kelas dulu, bentar lagi bu guru datang,” aku berdiri menuju kelas, diikuti si Arif.

Di depan pintu kelas

Sesaat berpapasan dengannya, Dewi. Dia tersenyum, entah pada siapa.
Langkahku terhenti, aku terdiam, tertunduk, waktu pun ikut-ikutan bisu. Angin menerpa rambutku, jantungku kini berdetak makin tak menentu, ku menyerah, tak berdaya.
Apakah dia sudah membacanya?

***
Tiga tahun terlewat tanpa ada rasa yang berarti, biasa saja. Tapi entah kenapa akhir – akhir ini aku merasa berbeda. Apakah gerangan yang mengusik batinku? Mengetuk – ketuk pintu hatiku? Sejak kapan dia ada disana? Di serambi hatiku. Aku bahkan tak mengundangnya, dan kenapa pula tiba – tiba ada taman bunga yang merekah di halaman hati, tak bisa ku mengerti. Atau aku memang yang tak peka.

Setiap kali ku jumpa dengannya biasa – biasa saja, dia senyum, aku pun juga. Tak ada rasa yang tercipta, ku rasa. Belakangan ini kenapa aku menjadi gagu, kala jumpa denganmu. Ketika itu kau bertanya, aku bingung harus jawab apa. Bukan tak tahu jawaban yang kau tanyakan, bukan. Aku jadi lupa cara bicara di hadapanmu. Kala kau tersenyum menyapaku seperti biasa, aku tak kuasa membalasnya. Hanya tertunduk bisu. Menyedihkan bukan. Aku saat ini seperti tak ku kenali diriku sendiri. Aku raib oleh rasa yang tak ku mengerti. Aku pun tak bisa menyebutnya sebagai cinta. Sejak kapan pula aku mengenalnya.

Di akhir ujian itu, sengaja ku selipkan sepucuk surat untukmu. Ku taruhnya di selokan bangku yang biasa kamu duduki. Hanya sepucuk surat yang ku tak yakin pula apa isinya. Aku juga tak mengerti kenapa pula harus menuliskannya padamu. Apa kiranya yang kucari darimu (?) yang ku tahu, aku menjadi gagu di dekatmu, makanya aku berkata – kata melalui kertas dan pena.

Seminggu berlalu. Tiga hari surat itu masih di tempatnya, seminggu kini pun tetap sama.

Apakah kau sudah membacanya?

***
Sehari sebelum wisuda.
Sore itu selepas sekolah, ketika kelas mulai hening, hanya tinggal aku dan hembusan angin senja. Aku melepas segala rasa. Ku hampiri bangkumu, ku ambil kembali surat itu, yang masih tersusun rapi tak bergeserpun dari tempatnya.

Mungkin suatu saat nanti jika kita berjumpa, aku lebih bisa menata hati. Dan tak ku butuhkan lagi tulisan pena untuk mengungkap rasa. Ketika itu tiba, jadilah teman hidupku sampai senja. Gumamku.

***
Pasca wisuda.
Sehari setelahnya, ada sms masuk.

“Aku sudah membacanya, hehehe.”

Aku tidak paham apa maksudnya. No kontak tak bernama.
Aku duduk terdiam di bawah pohon depan rumah. Kembali mencari berkas – berkas ingatan yang tersimpan. Mungkinkah…?

Segera ku telpon no baru itu.
Maaf no yang anda hubungi tidak aktif


Jika itu kamu, semoga kelak Allah mengizinkan kita kembali bertemu.


*fiksi
ditulis 17 februari 2016

0 komentar: