Tiket Khitbah #1
Waktu
keberangkatan kereta masih satu setengah jam lagi. Satu pelajaran yang harus
diingat kalau tinggal ataupun jalan – jalan di kota metropolitan, buatlah
jadwal agenda dengan memberikan space waktu yang cukup panjang untuk
perjalanan. Karena kemacetan adalah konsekuensi yang pasti terjadi jika hidup
di kota besar layaknya Jakarta masa kini. Entah 20 tahun lagi seperti apa
jadinya wajah Jakarta nanti.
Stasiun
Gambir sudah penuh dengan anak manusia yang sebagian besar memiliki tujuan yang
sama, pulang kampung. Antrian panjang tak terelakkan hampir di semua loket
terlihat berderet – deret puluhan orang berbagai usia dan beragam profesi. Hal
itu menunjukkan bahwa masih banyak orang yang rindu dengan sanak saudara di
kampungnya tak pandang status sosialnya. Begitupun diriku yang rela antri
hampir setengah jam hanya untuk memperjuangkan selembar tiket menuju desa. Ya,
aku rindu suasana desa yang damai dan sejuk udaranya. Rindu dengan wajah –
wajah lama yang sudah 8 bulan ku tinggalkan ke tanah perantauan, rindu ibu,
bapak, adik, nenek, kakak, dan teman lama.
Tiba
giliranku, ku sodorkan KTP ke loket. Ambil rute langsung Jakarta – Jombang
kereta Bima keberangkatan jam 18.20 WIB. Tak butuh waktu semenit tiket sudah
tercetak rapi. Lengkap dengan namaku tertulis di tiket itu.
“Berapa
mbak?”tanyaku kepada petugas loket, seorang wanita yang ku taksir usianya masih
sekitar 28 tahunan dan belum menikah.
“375
ribu,”ucapnya datar.
“375
ribu?” batinku. Ku cek kembali dompetku lebih teliti barang kali terselip uang
dari langit yang sengaja Allah titipkan secara tiba-tiba. Nihil. Tetap saja
sisa uangku yang terselip di dompet hanya 300ribu. Aku lupa tidak menyadari
sebelumnya kalau tiket kereta Jakarta – Jombang harganya 375ribu. “Ya Allah,
tolong kirimkan malaikat untukku” batinku.
“Emm,,
mbak. Maaf uang saya kurang 75 ribu, semisal saya ambil uang dulu di ATM nanti
sisanya saya bayar pas kembali boleh?” negoku.
“tiket
yang sudah cetak ini gugur, nanti mas antri kembali.”ucapnya.
“Oh
gitu ya. Saya ambil dulu tiketnya nanti saya langsung bayar sisanya ke mbak,
gimana?” tawarku lagi tak mau kalah.
“maaf
tidak bisa.”tegasnya. Aku pasrah.
Ku
lihat arlojiku, waktu menunjukkan bahwa keberangkatan kereta masih kurang 30
menit lagi. “Cukup waktu ndak ya?”pikirku.
Aku
kembali menyerogoh kantong celanaku, kanan, kiri, belakang. Ku temukan uang
recehan sisa pembayaran taksi. Ku turunkan tas ransel dari punggungku. Ku cari
ke setiap sudut celah mungkin bisa menemukan secercah cahaya harapan. Dug..
“Maaf…
mbak.” Tidak sengaja aku menyenggol tas koper seorang antrian tepat di
belakangku. Ternyata seorang perempuan muda atau bisa dibilang gadis jelita. Ku
taksir dia adalah seorang mahasiswi. Terlihat jaket yang dikenakannya berwarna
kuning tersemat logo UI. Ku kira dia juga seorang muslimah yang taat. Khimarnya
lebar dan memakai rok panjang.
“Tidak
apa,”jawabnya singkat sambil tersenyum manis. Aku mencoba menguasai diriku
seutuhnya. Harus menjaga pandangan apalagi ini adalah bulan puasa. Aku tidak
ingin pahalaku menguap gara-gara dosa zina mata.
“Gimana
mas tiketnya, jadi?”celetuk si petugas tiket membuatku semakin mendekati ambang
pintu kegelisahan. Mulai menyelinap berbagai kekhawatiran. Sudah mendekati
waktu sholat maghrib lagi.
“Baik
mbak. Saya ke ATM dulu saja. Nanti saya kemari lagi.” putusanku kemudian.
“Semoga
tiketnya masih tersisa,”ucap si petugas itu membuat jantungku berhenti beberapa
detik. Aku pun mulai terjatuh ke lembah gelisah. Satu – satunya transportasi
yang mudah dan hemat menurutku naik kereta. Kalau naik bus, aku masih awam akan
rute – rutenya. Maklum baru pertama kali ke Jakarta. Jangankan sampai rumah,
bisa-bisa nanti nyasar kemana-mana.
Sebenarnya
bukan masalah ambil uang ke ATM yang membuat resah, karena di dalam stasiun
pintu selatan sudah tersedia ATM. Jadi tidak perlu repot dan susah nyari ATM.
Namun yang membuat gelisah adalah harus antri kembali. Tidak bisa dibayangkan
harus nunggu hampir setengah jam mengantri. Sedangkan jadwal keberangkatan kereta
kurang setengah jam lagi. Ditambah lagi jadwal sholat maghrib semakin dekat dan
lokasi mushola di stasiun ini kata satpam berada di samping tempat pemberhentian
kereta itu artinya kalau masuk kesana harus check in tiket dulu. Allahu
Rabbi.
Aku
bergegas menuju ATM. Tidak butuh waktu lama. Karena tidak ada antrian disana. Selesai
ambil uang, aku segera kembali ke loket. Terhitung ada 4 orang yang mengantri.
Sepertinya tidak butuh waktu setengah jam untuk mengantri lagi.
Tiba
giliranku.
“Mbak,
“
“Mas
yang yang tadi ambil uang ke ATM ya.” Belum selesai bicara si petugas itu
langsung srobot aja.
“Hehehe
iya, masih hafal wajah saya ya ternyata. Tiketnya masih ada mbak?”
“Tiket
anda tadi sudah dibayar oleh seorang perempuan, ini dititipkan ke saya,”ucap si
petugas yang ternyata bernama Mona. Baru tahu setelah lihat nametagnya.
“Alhamdulillah,
siapa yang bayar tiket saya tadi, mbak?” syukurku hampir tak percaya.
Pertolongan Allah dari jalan yang sangat tidak aku sangka sebelumnya. Tidak
hanya dapat tiket mudik, tanpa bayar malahan.
“Dia
tidak menyebutkan nama. Keberangkatan kereta kurang 15 menit lagi, buruan.”
Ucap mbak Mona semakin ramah. Ah bukan hal yang mustahil, Allah mampu membolak
balikkan hati maklukNya. Aku sangat bersyukur atas segala bentuk kasih
sayangNya yang Maha Luas melebihi samudra.
“Baik
mbak Mona, terima kasih. Sampai jumpa lagi,”sapaku untuk yang terakhir kalinya.
Dan dia hanya memasangkan senyum di wajahnya .
Continue...
ditulis 11 Juni 2016
*fiktif
#Spesial Ramadhan
Sourcephoto : http://heritage.kereta-api.co.id/?p=2580










0 komentar: