Tiket Khitbah #1

10:35:00 PM Brian zenict 0 Comments



Waktu keberangkatan kereta masih satu setengah jam lagi. Satu pelajaran yang harus diingat kalau tinggal ataupun jalan – jalan di kota metropolitan, buatlah jadwal agenda dengan memberikan space waktu yang cukup panjang untuk perjalanan. Karena kemacetan adalah konsekuensi yang pasti terjadi jika hidup di kota besar layaknya Jakarta masa kini. Entah 20 tahun lagi seperti apa jadinya wajah Jakarta nanti.

Stasiun Gambir sudah penuh dengan anak manusia yang sebagian besar memiliki tujuan yang sama, pulang kampung. Antrian panjang tak terelakkan hampir di semua loket terlihat berderet – deret puluhan orang berbagai usia dan beragam profesi. Hal itu menunjukkan bahwa masih banyak orang yang rindu dengan sanak saudara di kampungnya tak pandang status sosialnya. Begitupun diriku yang rela antri hampir setengah jam hanya untuk memperjuangkan selembar tiket menuju desa. Ya, aku rindu suasana desa yang damai dan sejuk udaranya. Rindu dengan wajah – wajah lama yang sudah 8 bulan ku tinggalkan ke tanah perantauan, rindu ibu, bapak, adik, nenek, kakak, dan teman lama.

Tiba giliranku, ku sodorkan KTP ke loket. Ambil rute langsung Jakarta – Jombang kereta Bima keberangkatan jam 18.20 WIB. Tak butuh waktu semenit tiket sudah tercetak rapi. Lengkap dengan namaku tertulis di tiket itu.
“Berapa mbak?”tanyaku kepada petugas loket, seorang wanita yang ku taksir usianya masih sekitar 28 tahunan dan belum menikah.

“375 ribu,”ucapnya datar.

“375 ribu?” batinku. Ku cek kembali dompetku lebih teliti barang kali terselip uang dari langit yang sengaja Allah titipkan secara tiba-tiba. Nihil. Tetap saja sisa uangku yang terselip di dompet hanya 300ribu. Aku lupa tidak menyadari sebelumnya kalau tiket kereta Jakarta – Jombang harganya 375ribu. “Ya Allah, tolong kirimkan malaikat untukku” batinku.

“Emm,, mbak. Maaf uang saya kurang 75 ribu, semisal saya ambil uang dulu di ATM nanti sisanya saya bayar pas kembali boleh?” negoku.

“tiket yang sudah cetak ini gugur, nanti mas antri kembali.”ucapnya.

“Oh gitu ya. Saya ambil dulu tiketnya nanti saya langsung bayar sisanya ke mbak, gimana?” tawarku lagi tak mau kalah.

“maaf tidak bisa.”tegasnya. Aku pasrah.
Ku lihat arlojiku, waktu menunjukkan bahwa keberangkatan kereta masih kurang 30 menit lagi. “Cukup waktu ndak ya?”pikirku.

Aku kembali menyerogoh kantong celanaku, kanan, kiri, belakang. Ku temukan uang recehan sisa pembayaran taksi. Ku turunkan tas ransel dari punggungku. Ku cari ke setiap sudut celah mungkin bisa menemukan secercah cahaya harapan. Dug..

“Maaf… mbak.” Tidak sengaja aku menyenggol tas koper seorang antrian tepat di belakangku. Ternyata seorang perempuan muda atau bisa dibilang gadis jelita. Ku taksir dia adalah seorang mahasiswi. Terlihat jaket yang dikenakannya berwarna kuning tersemat logo UI. Ku kira dia juga seorang muslimah yang taat. Khimarnya lebar dan memakai rok panjang.

“Tidak apa,”jawabnya singkat sambil tersenyum manis. Aku mencoba menguasai diriku seutuhnya. Harus menjaga pandangan apalagi ini adalah bulan puasa. Aku tidak ingin pahalaku menguap gara-gara dosa zina mata.

“Gimana mas tiketnya, jadi?”celetuk si petugas tiket membuatku semakin mendekati ambang pintu kegelisahan. Mulai menyelinap berbagai kekhawatiran. Sudah mendekati waktu sholat maghrib lagi.

“Baik mbak. Saya ke ATM dulu saja. Nanti saya kemari lagi.” putusanku kemudian.

“Semoga tiketnya masih tersisa,”ucap si petugas itu membuat jantungku berhenti beberapa detik. Aku pun mulai terjatuh ke lembah gelisah. Satu – satunya transportasi yang mudah dan hemat menurutku naik kereta. Kalau naik bus, aku masih awam akan rute – rutenya. Maklum baru pertama kali ke Jakarta. Jangankan sampai rumah, bisa-bisa nanti nyasar kemana-mana.

Sebenarnya bukan masalah ambil uang ke ATM yang membuat resah, karena di dalam stasiun pintu selatan sudah tersedia ATM. Jadi tidak perlu repot dan susah nyari ATM. Namun yang membuat gelisah adalah harus antri kembali. Tidak bisa dibayangkan harus nunggu hampir setengah jam mengantri. Sedangkan jadwal keberangkatan kereta kurang setengah jam lagi. Ditambah lagi jadwal sholat maghrib semakin dekat dan lokasi mushola di stasiun ini kata satpam berada di samping tempat pemberhentian kereta itu artinya kalau masuk kesana harus check in tiket dulu. Allahu Rabbi.

Aku bergegas menuju ATM. Tidak butuh waktu lama. Karena tidak ada antrian disana. Selesai ambil uang, aku segera kembali ke loket. Terhitung ada 4 orang yang mengantri. Sepertinya tidak butuh waktu setengah jam untuk mengantri lagi.

Tiba giliranku.
“Mbak, “
“Mas yang yang tadi ambil uang ke ATM ya.” Belum selesai bicara si petugas itu langsung srobot aja.

“Hehehe iya, masih hafal wajah saya ya ternyata. Tiketnya masih ada mbak?”

“Tiket anda tadi sudah dibayar oleh seorang perempuan, ini dititipkan ke saya,”ucap si petugas yang ternyata bernama Mona. Baru tahu setelah lihat nametagnya.

“Alhamdulillah, siapa yang bayar tiket saya tadi, mbak?” syukurku hampir tak percaya. Pertolongan Allah dari jalan yang sangat tidak aku sangka sebelumnya. Tidak hanya dapat tiket mudik, tanpa bayar malahan.

“Dia tidak menyebutkan nama. Keberangkatan kereta kurang 15 menit lagi, buruan.” Ucap mbak Mona semakin ramah. Ah bukan hal yang mustahil, Allah mampu membolak balikkan hati maklukNya. Aku sangat bersyukur atas segala bentuk kasih sayangNya yang Maha Luas melebihi samudra.

“Baik mbak Mona, terima kasih. Sampai jumpa lagi,”sapaku untuk yang terakhir kalinya. Dan dia hanya memasangkan senyum di wajahnya .



Continue...


ditulis 11 Juni 2016
*fiktif
#Spesial Ramadhan


Sourcephoto : http://heritage.kereta-api.co.id/?p=2580

0 komentar: