Cerita Semesta

8:50:00 PM Brian zenict 0 Comments


 serial cerita berkelanjutan puzzle ke tiga
serial pertama: Wajah Hujan
serial kedua: Kunci Hati
 
“Dekatilah Allah, maka dunia seisinya akan mengikutimu. Termasuk bait-bait yang tertulis dalam doamu, bahkan apa yang tak kamu minta sekalipun. Allah Maha Tahu, sedang kita masih fakir ilmu. Jangan mengejar dunia, apalagi pada apa-apa yang Allah sudah menjaminnya. Namun kejarlah akhirat, karena tak ada yang bisa menjamin dimana kita kelak akan bertempat,” secarik kertas tulismu dalam bilik buku pengantar mimpi.

Tiga tahun sudah aku mendiami tempat ini. Berjalan disisi lain dari bumi, yang dalam sekali waktu aku bisa terhubung pada dua benua, Asia - Eropa. Benar. Jembatan Galata, Turki, aku telah sampai disini. Allah mengindahkan satu diantara mimpi-mimpiku dengan cara seindah-seindahnya pengharapan dan penerimaan. Aku memperoleh beasiswa S2 salah satu universitas di Istanbul dengan mengambil jurusan yang tidak jauh beda dari sebelumnya. Tahun ini, mungkin akan menjadi tahun penghabisan untuk tugas akhirku. Kerinduan akan Indonesia sudah tak mampu kubendung, sering mewek jika ingat keluarga.

Fabiayyi alaa irabbikumaa tukadzdzibaan. Rengekan syahdu menderu terdengar merdu, seakan ada hajad besar yang hendak ia haturkan pada Pemilik rindu pun dirinya.

Suara itu menyentuh lembut daun telingaku. Aku mengusap mata dan berdoa, syukurlah aku masih terbangun untuk menghirup udara dunia. Seketika pandangku membidik jam berbentuk rumah yang ngamplok di dinding untuk sekedar memberi warna. Ternyata masih jam tiga pagi. Kuseret langkah yang penuh hina, basahi diri dengan segarnya air di musim semi.

Shodaqallahul’adzim. Sejurus kemudian ia menutup kitab menyudahi tilawatilnya dan membaca sesuatu yang membuat wajahnya penuh dengan ketenangan.

Kuikuti caranya bermanja, memohon ampunan-Nya, disepertiga malam kumengadu syahdu.
***
Semilir angin musim semi di tepi danau Van membuatku lebih memilih duduk berdiam di salah satu kursi. Bersama kedua sahabatku Zahra dan Bahar, aku datang ke kota Van, lebih tepatnya ikut Bahar pulang mengunjungi orang tuanya. Sejenak mengusir sepi aku melahap beberapa halaman buku, sambil menunggu Zahra dan Bahar kembali dari membeli camilan. Para wisatawan yang berlalu lalang tak membuatku terganggu. Bising memang, tapi kucipta hening lalu menikmatinya, bukankah bahagia itu sederhana.

“Assalamu’alaykum Zy.”
Aku sangat mengenal suara itu, kenapa? dengan ragu aku membalikkan badan untuk sekedar memastikan apakah benar.

“Wa’alaykumussa…lam,” melihatmu berdiri disitu membuatku kelu, sedang kau asyik menunjukkan senyum barumu yang terlihat lebih ramah tak sedingin dulu.

Adnan? apa kabar? Sudah selesaikah pendidikanmu? apakah kau menemui kesulitan selama disana? sedang apa di Turki?.....

Dia merubah posisi yang kemudian berdiri tepat di samping kursi. Angin musim semi riuh mengajari dedaunan menari-nari, tapi tidak denganku. Aku seakan kembali pada musim salju, beku.

 “Apa kabar Zy? sudah kemana saja? tempat-tempat yang ada di novel sudah kau datangi semua?,” dia mencoba mencairkan suasana dengan tiga pertanyaan sekaligus. Sedang untuknya, entah sudah berapa pertanyaan dariku dimana dia tak perlu kesulitan untuk menjawabnya. Cukuplah aku dan Dia yang tahu.

“Baik, Adnan juga apa kabar? masih disini kok,Astaghfirulloh. Baru beberapa saja,,hehehe, menyesuaikan budget ini saja ikut teman pulang kampung.”

 Dia masih saja terlihat dingin, tapi setelah kuanalisa dari senyum dan pertanyaannya, kupikir dia tak sedingin dulu.

 “Baik juga. Sebentar.” dia mengambil sesuatu dari dalam tas, sebuah bungkusan dengan solatip disana sini ala pengiriman paket.

Tanpa berani menatap aku menerima bungkusan itu, setidaknya dengan menjawab salam tadi aku sudah cukup tau. Ada yang berubah dari penampilannya, lebih rapi dan dewasa, satu hal yang masih sama, kurus. Hhhha…

“Oh sekarang jadi kurir ya?” aku tersenyum dengan gampang kata itu terlontar.

“Bisa jadi, tapi kali ini kurirnya istimewa, paket dikirim langsung dari Jepang sampai Turki tanpa perantara,” kau jawab sekenanya.

“Hahha..begitu ya.”

“Baik, sudah dulu ya Zy. Ada keperluan lain. Assalamu’alaykum.”

“Wa’alaykumussalam.Tunggu Adnan, ini bukumu.”

“Bawa dulu, nanti di Indonesia saja. InsyaaAllah.”

Aku ingat dia pernah mengatakan meminjam itu sama dengan hutang, tapi kenapa buku satu ini tak juga pulang. Terakhir aku mau kembalikan dia sudah terbang ke Jepang. Hmmmm…

“lagi?”aku berdiri melihatnya yang terus berjalan menjauh. Kulihat dia menghampiri beberapa orang laki-laki yang sejurus kemudian terlihat senang menyambut kedatangannya.

Kami pun berpisah tanpa ada yang menjelaskan mengapa Adnan bisa sampai di Turki. Aku terlalu menikmati sepi sebab saat aku mulai merasa maka itu hanya akan menjadi ujian belaka.

Aku pernah tak sekuat itu, bahkan jatuh, sedang yang bisa menolongku hanya Dia. Setidaknya aku memperjuangkan sekaligus mengikhlaskan meski tak sepenuhnya aku mengerti bagaimana sistem kerja dari keduanya. Mengharap perjalanan yang dibersamai ridhoNya untuk takdir yang tak perlu diterka.
***
Di ruangan ini terlihat desain kamar sederhana ala mahasiswa campuran Indonesia Turki. Yah, tiga tahun sudah aku bersama dua sahabatku menghabiskan waktu bersama di tempat ini.

Pagi ini seusai menuaikan sholat subuh berjama’ah, aku membereskan koper yang belum sempat aku jamah sejak pulang dari Van, termasuk paket dari Jepang.

“Tidur jam berapa kamu Zy?”
“Em, jam dua an Zah .”

Aku meletakkan paket itu di atas meja dan melanjutkan pekerjaan lain.

“Bungkusan apa ini Zy? kenapa belum kamu buka?” Zahra terlihat penasaran.

Zahra dan Bahar, kami sudah seperti saudara. Kami akrab dengan cepat karena kecocokan itu tak perlu diukur dari banyak segi. Aku mengenalkan Lahfah pada Zahra dan Bahar meski hanya lewat media sosial. Sejak saat itu, kami berempat memutuskan untuk menjadi sahabat.

Aku terseyum, “Entahlah Zah, aku lebih tertarik melihatnya seperti itu.”

“Heleh… aku bisa lihat penasaran kamu sudah kayak gunung mau meletus kali Zy. hahahha,” ejek Zahra.

Senyumku menyatakan keberpihakanku padanya.

“Baiklah akan kubuka.”

“Eh tumben nggak bawel.”

Aku melepas solatip yang melekat kuat.

“Bukankah ini buku, tapi mengapa sampulnya begitu sederhana, bahkan aku tak menemukan satu huruf pun yang menunjukkan identitas buku ini.”
Penasaranku sudah terjawab jika bungkusan yang dia berikan berisi buku.

“Iya kah?’ Bahar yang ikut penasaran.

“Coba kalian perhatikan, tak ada nama pengarangnya.”

 “Iya Zy, aneh,” timpal Zahra.

Kling.
Hpku bergetar ada pesan WhatsApp masuk. Kuletakkan buku itu, kulihat WhatsApp dari Lahfah.

“Bangun putri ngantuk, ada yang kembali?”
 “Yeey… sudah bangun daritadi kali. Maksudnya?”
“Hmm…. cepet banget responnya. Kamu tau yang aku maksud.”
“Adnan?”
“Yups”
“Kok tau aku ketemu dia. Aku curiga.”
“Hahaha, iyakah? pengen lihat wajah Zoya waktu ketemu Adnan. Pasti lucu abis.”

Tak segera kubalas sebab aku lebih tertarik memerhatikan pemberitahuan yang menunjukkan Lahfah sedang mengetik.

Etsss dilarang suuzan loh ya, asal tebak aja kok. Kapan waktu memang dia tiba-tiba nge-WhatsApp, nanyain aktivitasmu pada tanggal itu ngapain. Yah aku bilang kamu ikut Bahar ke Van.” 
“lalu?”
“lalu ketemu sama kamu gitu.”
“Iya, tapi sedang apa Adnan di Turki. Kemarin aku sempat melihat dia menghampiri beberapa orang, mungkinkah dia sedang menyelesaikan pekerjaan disini? Tapi ini Van bukan Istanbul Fah.”
“Sudahlah Zy, Allah lebih tau tentang itu.”
“Iya Fah. Aku mengerti. Terima kasih krupuk.”
“Ihhh…. Awas aja kalok pulang.”
“Bilang aja rindu, ih… dasar krupuk.”
“Sekarang aku biarin sesuka kamu Zy, tapi ati-ati kalok di Indonesia.”
“Iya kok hati-hati. Tenang.”
“Yasudah, aku mau siap-siap sholat. Cepet pulang ya.”
“Doakan saja.”

Belum sempat aku membaca aksara-aksara itu, aku harus segera bersiap untuk menemui dosen terkait tugas akhir.
***
Musim semi, waktu bagi bunga tulip untuk merekahkan mahkotanya. Sungguh, Allah mencipta setiap hal dengan segala kebersamaannya. Menghidupkan setelah mati. Mencairkan setelah beku. Dan untuk itu, lagi, benar jika memperjuangkan atau mengikhlaskan tak harus memilih satu diantaranya tapi sudah seharusnya mereka beriringan.

Mataku menjelajah mencari tempat yang nyaman, ya disana. Di bawah pohon teduh ada beberapa kursi, aku duduk dan mengambil buku dari dalam tas. Kali ini aku memperhatikan lebih seksama, seharusnya aku tak perlu bertanya sebab belum satupun aksara kubaca.
apa judulnya?




Spesial tahun baru
1 Muharram 1438H

ditulis oleh Widad


Sourcephoto: http://id.tubgit.com/bunga-buku-bangku-indah-blur/

0 komentar: