Wanita Mulia
"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Suatu ketika Sayyidina Ali pulang ke rumah disambut oleh sang
istri tercinta, Sayyidah Fatimah Az Zahra.
Bertanya Sayyidah Fatimah kepada suami tercinta,"Dapat
apakah Kanda dari Ayahanda?"
Inilah teladan bagi setiap wanita yang mencintai Sayyidah
Fatimah, wanita paling mulia ahli surga. Menjemput sang suami bukan lantas
bertanya perihal dapat uang berapa? dapat nafkah berapa? namun yang ditanya
adalah "dapat ilmu apa saja?"
Dijawab Sayyidina Ali," saya mendapat ilmu banyak, namun
ada satu pertanyaan dari Rasulullah yang tidak bisa aku jawab pun oleh para
sahabat yang lainnya."
"apakah pertanyaan itu Kanda?"
"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Sayyidah Fatimah tersenyum,"Aku yang punya jawabannya."
Dibisikkanlah ditelinga Sayyidina Ali. Seketika itu Sayyidina
Ali matanya berbinar-binar. Wajahnya berseri-seri.
Sayyidina Ali bahagia, dia sudah punya jawaban atas pertanyaan
Rasulullah. Jadi dia bisa menjawabnya ketika Rasulullah menanyakannya kembali.
Dalam majelis ilmu Rasulullah menanyakan kembali pertanyaan yang
sebelumnya belum terjawab. Dan masih belum ada yang bisa menjawab, kecuali
sayyidina Ali, beliau menjawabnya," Kami punya jawabannya ya Rasulullah. Wanita
yang mulia itu adalah yang tidak pernah melihat laki-laki dan tidak pernah
dilihat laki-laki."
Maknanya apa?
Yakni wanita yang tidak pernah memamerkan dirinya dihadapan
laki-laki. Dan tidak pernah suka, risih jika dilihat oleh laki-laki yang bukan
mahramnya. Malu jika diperhatikan laki-laki yang tidak halal baginya. Dia yang
senantiasa menjaga dirinya dalam kesederhanaan, keluar hanya dengan mahramnya,
menjaga lisan dan sikapnya. Itulah iman, itulah kemuliaan. Dialah Sayyidah
Fatimah Az Zahra.
***
Kisah itu terus terngiang ditelinganya. Memenuhi setiap ruang
pikirannya. Tiba-tiba hatinya mengaduh, meneteskan air mata. Dia bersimpuh,
menutup malu wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air itu merembes dari
celah-celah jari tangannya. Tak ada suara, hanya air mata yang menetralisir
keruh jiwa.
Ya Rabb, ampuni hamba atas segala dosa. Mohon bimbingan-Mu. Hamba
ingin berubah, hamba ingin hijrah. Sungguh Engkau sebaik-baik pemberi petunjuk.
Ya Allah, Ya Fatah Ya Alim.
“Oke Zahra, kamu harus berubah. Menjadi sosok wanita mulia
seperti Bunda Fatimah Az Zahra. Bukankah nama kamu sama. Kamu pasti bisa.
Fight!!”
“Mulai sekarang tak ada lagi lirik sana-sini. Tak ada lagi tebar
pesona, meski kamu memang cantik. Harus jaga diri dari semua jenis laki-laki. Siap!!”
Hatinya kini mantap. Ia lipat kembali mukenah dan sajadah pada
tempatnya. Dia bangkit dan mengepalkan tangan di dada. Dia melangkah keluar meninggalkan
mushola kampus yang sepi. Hanya dia seorang dan kicauan burung di dahan. Lima langkah
berjalan tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
“Mbak.”
Dia menoleh.
“Maaf Mbak, tadi polpen mbak terjatuh di depan mushola. Saya tak
sengaja melihat dan mengambilnya.”
Seorang mahasiswa tampan berwajah cerah, secerah pagi yang
membawa kehangatan untuk penduduk bumi. Laki-laki yang dikaguminya secara
sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba wajah Zahra memerah, hatinya bergetar, jantungnya
berdegup kencang tak terkendali. Lidahnya kelu tiba-tiba. Pandangannya tertunduk
seketika. Ya Allah, secepat inikah Engkau menguji hamba.,,hatinya
protes.
“Buat kamu aja,”dia menjawab sekenanya. Kemudian lari
meninggalkan laki-laki itu yang dipenuhi tanda tanya.
oleh brianzenict
selesai ditulis:
28112016










0 komentar: