Wanita Mulia

12:07:00 AM Brian zenict 0 Comments




"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Suatu ketika Sayyidina Ali pulang ke rumah disambut oleh sang istri tercinta, Sayyidah Fatimah Az Zahra.
Bertanya Sayyidah Fatimah kepada suami tercinta,"Dapat apakah Kanda dari Ayahanda?"
Inilah teladan bagi setiap wanita yang mencintai Sayyidah Fatimah, wanita paling mulia ahli surga. Menjemput sang suami bukan lantas bertanya perihal dapat uang berapa? dapat nafkah berapa? namun yang ditanya adalah "dapat ilmu apa saja?"
Dijawab Sayyidina Ali," saya mendapat ilmu banyak, namun ada satu pertanyaan dari Rasulullah yang tidak bisa aku jawab pun oleh para sahabat yang lainnya."
"apakah pertanyaan itu Kanda?"
"Wanita yang mulia itu seperti apa?"
Sayyidah Fatimah tersenyum,"Aku yang punya jawabannya."
Dibisikkanlah ditelinga Sayyidina Ali. Seketika itu Sayyidina Ali matanya berbinar-binar. Wajahnya berseri-seri.
Sayyidina Ali bahagia, dia sudah punya jawaban atas pertanyaan Rasulullah. Jadi dia bisa menjawabnya ketika Rasulullah menanyakannya kembali.
Dalam majelis ilmu Rasulullah menanyakan kembali pertanyaan yang sebelumnya belum terjawab. Dan masih belum ada yang bisa menjawab, kecuali sayyidina Ali, beliau menjawabnya," Kami punya jawabannya ya Rasulullah. Wanita yang mulia itu adalah yang tidak pernah melihat laki-laki dan tidak pernah dilihat laki-laki."
Maknanya apa?
Yakni wanita yang tidak pernah memamerkan dirinya dihadapan laki-laki. Dan tidak pernah suka, risih jika dilihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Malu jika diperhatikan laki-laki yang tidak halal baginya. Dia yang senantiasa menjaga dirinya dalam kesederhanaan, keluar hanya dengan mahramnya, menjaga lisan dan sikapnya. Itulah iman, itulah kemuliaan. Dialah Sayyidah Fatimah Az Zahra.
***
Kisah itu terus terngiang ditelinganya. Memenuhi setiap ruang pikirannya. Tiba-tiba hatinya mengaduh, meneteskan air mata. Dia bersimpuh, menutup malu wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air itu merembes dari celah-celah jari tangannya. Tak ada suara, hanya air mata yang menetralisir keruh jiwa.
Ya Rabb, ampuni hamba atas segala dosa. Mohon bimbingan-Mu. Hamba ingin berubah, hamba ingin hijrah. Sungguh Engkau sebaik-baik pemberi petunjuk. Ya Allah, Ya Fatah Ya Alim.

“Oke Zahra, kamu harus berubah. Menjadi sosok wanita mulia seperti Bunda Fatimah Az Zahra. Bukankah nama kamu sama. Kamu pasti bisa. Fight!!”
“Mulai sekarang tak ada lagi lirik sana-sini. Tak ada lagi tebar pesona, meski kamu memang cantik. Harus jaga diri dari semua jenis laki-laki. Siap!!”

Hatinya kini mantap. Ia lipat kembali mukenah dan sajadah pada tempatnya. Dia bangkit dan mengepalkan tangan di dada. Dia melangkah keluar meninggalkan mushola kampus yang sepi. Hanya dia seorang dan kicauan burung di dahan. Lima langkah berjalan tiba-tiba ada yang memanggilnya dari belakang.
“Mbak.”
Dia menoleh.
“Maaf Mbak, tadi polpen mbak terjatuh di depan mushola. Saya tak sengaja melihat dan mengambilnya.”
Seorang mahasiswa tampan berwajah cerah, secerah pagi yang membawa kehangatan untuk penduduk bumi. Laki-laki yang dikaguminya secara sembunyi-sembunyi.
Tiba-tiba wajah Zahra memerah, hatinya bergetar, jantungnya berdegup kencang tak terkendali. Lidahnya kelu tiba-tiba. Pandangannya tertunduk seketika. Ya Allah, secepat inikah Engkau menguji hamba.,,hatinya protes.
“Buat kamu aja,”dia menjawab sekenanya. Kemudian lari meninggalkan laki-laki itu yang dipenuhi tanda tanya.



oleh brianzenict

selesai ditulis:
28112016

0 komentar: