Cahaya Cinta di Malam Purnama

7:58:00 AM Brian zenict 0 Comments


Sebuah cerita
Produce : 5 juli 2015
Author : brianzenict
Genres : Romance and fantasy
Episode : 2

Tiada terasa ramadhan telah sampai di tengah perjalanan. Malam kini menampakkan diri dengan wajah yang cerah bersinar seakan berjuta – juta rahmatNya turun dari langit menghujani bumi. Memang malam bulan ramadhan adalah dimana waktu turunnya wahyu Allah yang sangat mulia dan menjadi pedoman umat sepanjang masa, Al-Qur’an.
Terlihat sepasang suami istri tengah sibuk di dalam kamar.

“ Ayo Mi, sebentar lagi adzan sholat isya’. Ntar ndak dapat shaf depan di masjid.” Terdengar suara dari arah sang suami.

“Iya bentar Bi, gimana menurut Abi ? cocok ndak Umi pakai jilbab putih ?” sahut sang istri.

“cocok, cocok banget.” Jawab suaminya dengan nada sedikit kesal.

Hehehe sudah sekitar 15 menit mereka di kamar. Dan terlihat sang suami seakan menjadi juri tunggal pada kontes kecantikan. Gmana juri? Ya saya Yes. Dan seperti itulah yang seakan sang suami sampaikan setiap kali istrinya bilang gimana ?

“Kalo warna hitam Bi ?” Tanya sang istri lagi.

“Hem… tidak buruk.” Jawab sang suami. Tetap dengan nada kesal. Namun demi sang istri tercinta ia rela menjadi juri.

“ emm, kayaknya pakai yang putih aja deh.” Ucap sang istri kemudian. Kali ini tidak lagi dengan nada tanya.

Alhamdulillah. Dalam hati sang suami.

“Ayo Bi berangkat, malah ngelamun.” ajak sang istri.

“Nah, kata – kata itu yang sedari tadi Abi tunggu – tunggu.” Jawab sang suami dengan senyuman. Sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Maaf Bi,” sepertinya sang istri baru sadar. Menundukkan kepala.
Sang suami hanya tersenyum sambil mengelus kepala istrinya.

“Ayo berangkat ke masjid.”
Mereka pun melangkah keluar kamar.

***
Sampai di teras rumah.
“Sandal Abi kog ndak ada Mi ?”

“iya, sebentar Umi carikan dulu, di kamar mandi mungkin.”

“udah ndak usah, terlalu lama. Ini ada sepatu. Biar Abi pakai sepatu aja.”sahut sang suami.

“tapi..,”

“udah adzan Mi, kita ketinggalan nanti. Udah ndak apa”

“ya udah Umi manut aja.”

***
Masjid Manarul Ilmi. Sudah ramai dengan para jamaah sholat isya’. Meski tak seramai saat awal bulan ramadhan yang sampai penuh membentuk 10 shaf. Di pertengahan ramadhan terlihat hanya 4 shaf. Jamaah yang menempati 6 shaf berikutnya kemana? Wallahualam, memang beginilah siklus tahunan jamaah sholat isya’ dan sholat tarawih di bulan ramadhan. Mungkin yang anak statistic bisa survey mencari data dan dianalisis dengan analisis faktor. Hehehe.

***
Usai sholat tarawih.
Di serambi masjid.

Menggema penuh syahdu dan menyejukkan, lantunan ayat – ayat suci Al Qur’an memenuhi seisi masjid dan menerobos ke penjuru perumahan – perumahan sekitar. Memecah keheningan menimbulkan kedamaian.

“udah khatam Bi ? “tanya sang istri mendekati suaminya yang sedari tadi duduk di tepian serambi.

“Alhamdulillah, Umi ? “ jawab sang suami tetap pada posisinya memandang ke atas langit.

“Alhamdulillah Umi juga udah khatam. Apa yang Abi lihat ?” tanya sang istri lagi. Duduk di samping suaminya.

“Umi, lihat ke atas. Bulan memancarkan sinarnya begitu terang, memberi keteduhan di bumi.”
“Dan di samping ku kini juga ada secercah cahaya kedamaian, yang jika saat ku memandang wajahnya. Aku seakan melihat Tuhan, dan surga yang menyejukkan.” lanjut sang suami sambil memandang sang istri.

“Ah, Abi bisa aja.” Sang istri tersipu malu dan kemudian menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.

“Bi,”ucap sang istri kemudian.

“Hem..”jawab suaminya sambil tersenyum menunggu balasan.

“Malam ini terasa damai dan menyejukkan. Aku sangat bersyukur mendapatkan pelita yang selama ini ku rindu kehadirannya yang kelak bisa menuntunku ke surga.

“hemm ?”jawab sang suami. Sambil tersenyum.

“Seakan dunia milik kita berdua.”lanjut sang istri.

“Ah yang benar ?”jawab sang suami.

“Maksudnya ? “ tanya sang istri selidik.

“Tuh nyatanya di masjid tidak hanya kita aja, banyak orang di serambi.”jawab sang suami sambil senyum.

“Em… Abi merusak suasana.” jawab sang istri dengan kesal.

Keluarlah tawa kecil dari sang suami. Yang mencoba mendamaikan hati sang istri.
Malam ramadhan yang syahdu. Dan bulan yang terang menyibak kegelapan. Lantunan ayat – ayat suci Al Qur’an terus bertalu – talu memecah keheningan.

“Hiburlah hati suatu ketika. Karena jika dipaksa terus menerus terhadap sesuatu ia bisa membuta.”
[Ali bin Abu Thalib]

“Segala sesuatu selain dzikrullah adalah permainan dan kesia-siaan kecuali terhadap empat hal. Yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (panahan), dan seseorang yang berlatih renang.”
[ H.R Nasa’i]


Hidup itu indah dan mudah, maka jangan mempersulit diri.
Canda - canda berpahala.


Cerita ini hanya fiktif belaka
Ambil hikmahnya
Ditulis ba’da subuh Ramadhan #18

0 komentar: