Ramadhan #17

10:22:00 PM Brian zenict 0 Comments


Edisi : Masjid Ummul Mu'minin

Hari ke tujuh belas ramadhan

Seuntai taujih tarawih
oleh Ustad Syamsudin


Dan ingatlah, ketika Ibrahim berdoa,”Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (mekkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. [QS.Ibrahim : 35]

Pelajaran dari kalamullah di atas bahwa nabi Ibrahim sangat peduli dan menginginkan generasi selanjutnya agar lebih baik. Begitu pula kita saat ini, harusnya kita juga sangat peduli dengan masa depan generasi umat selanjutnya. Dengan mendidik anak-anak kita agar menjadi generasi yang lebih baik. Lingkunganlah yang berpengaruh besar dalam mempengaruhi perkembangan buah hati. Semua bayi terlahir dalam keadaan suci, bagai kertas putih yang bersih. Orang tua, keluarga, sekolah, lingkungan pergaulan yang nantinya akan memberi warna dalam kertas tersebut. Tugasnya orang tua untuk bisa mendidik dan mengarahkan agar anak tetap berada dalam lingkungan yang baik. Karena tantangan ke depan jauh lebih berat daripada tantangan yang kita hadapi saat ini, apalagi tantangan yang telah berlalu.

Ambil contoh aja di dunia pekerjaan, dulu lulusan SMK langsung bisa masuk kerja di pertamina yang merupakan perusahan cukup besar. Saat ini saja lulusan sarjana belum tentu bisa mendapat pekerjaan yang sesuai dengan tingkat statusnya, kecuali benar – benar melalui seleksi yang ketat dan yang lolos adalah SDM yang benar – benar berkualitas. Hal itu dikarenakan kuantitas lapangan pekerjaan jauh lebih sedikit dibanding jumlah pencari pekerjaan yang makin meningkat. Nah apalagi di tahun - tahun berikutnya, maka jauh lebih berat lagi. Kita harus lebih peduli untuk membentuk generasi selanjutnya agar jauh lebih baik lagi dari segi akhlak dan intelektualnya. Hubungan sosial juga harus kita didik agar mereka generasi muda peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Pada Qur'an surat Ibrahim : 35 di atas, kenapa nabi Ibrahim berdoa agar anak cucunya tidak menyembah berhala ? padahal keturunan seorang nabi, yang sudah terbukti begitu kuat keimanannya.
Itu karena lingkungan memang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Menurut tafsir ulama berhala dalam hal ini yang dimaksud adalah segala hal yang membuat orang lalai dari dzikir kepada Allah. Istri, harta, anak-anak, tahta, bahkan main game juga. Semua, hal - hal yang membuat kita lalai tidak berdzikir kepada Allah. Misal main game, karena keasyikan lama tidak henti – henti sehinggga lalai tidak berdzikir kepada Allah. Lupa dengan Allah. Dia telah menjadikan game sebagai berhalanya sendiri. Jadi berhala tidak bisa lagi kita sebut secara konvensional berupa patung yang dipahat dan disembah sendiri. Sekarang di era modern berhala menjelma dalam berbagai bentuk yang juga modern rupanya.

Nah, di bulan ramadhan ini yang penuh dengan ampunan dan keberkahan mari kita semua saling memperbaiki diri. Seperti yang Allah firmankan yang artinya, “ wahai orang-orang yang beriman ! diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” [QS Al Baqarah : 183 ]

Puasa tidak cukup menahan keabsahan puasa saja, menahan lapar, berhubungan dengan istri, sampai terbenam matahari, tidak hanya itu. Puasa adalah juga menahan diri dari hawa nafsu, menahan agar tidak marah, menahan untuk tidak berkata kotor, menahan agar tidak mencela, menahan agar tidak berdusta, dan sebagainya. Cobalah mari kita rasakan kenikmatannya, kenikmatan tidak hanya makan kenyang setelah seharian menahan lapar dan bisa bercanda sepuasnya dengan istri di malam hari, tidak sekedar itu. Coba mari kita rasakan kenikmatan yang sifatnya abstrak, misal menahan marah padahal bisa saja kita marah-marah saat itu, nikmat rasanya. Atau dengan menahan diri dari balas dendam kepada orang yang telah mencelakakan kita sebelumnya, meski saat itu bisa saja dengan mudah melampiaskan dendam itu. Nikmat bukan ? atau misal menahan diri dari dusta meski saat itu sudah tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan kita selain berdusta, oh betapa nikmatnya.

Nah jika kita bisa merasakan betapa nikmat yang selama ini terlihat abstrak maka ramadhan ini kita bisa mencapai derajat taqwa. Semoga ramadhan ini bisa mendidik kita dan juga para generasi umat islam selanjutnya bisa jauh lebih baik lagi.

Ditulis usai sholat tarawih di dalam kos, berteman dengan sunyi.
Ramadhan #17

Keep Istiqomah.


0 komentar: