Ramadhan #16
BangBangWetan
"Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi"
Lokasi :
Balai Pemuda Surabaya
Masih dalam keramaian malam ramadhan yang penuh dengan keberkahan, usai tarawih tiga pemuda yang berbeda asal, beda cara pandang, namun satu kos-kosan dan satu tujuan malam ini tergerak untuk tholabul ilmi. Balai pemuda surabaya tempat mereka kini berada. Maiyahan ( dari kata bahasa arab ma'a berarti bersama, ma'iyyatullah berarti kebersamaan dengan Allah) katakan aja semacam pengajian bersama secara universal. BangBangWetan adalah komunitas maiyahan yang ada di Surabaya. Ditengah - tengah keramaian malam balai pemuda, mereka para pemuda duduk manis di bawah teduhnya cahaya rembulan melantunkan sholawat nabi sambil menikmati tarian sufi.
Sayup - sayup mulai dibuka diskusi oleh pembawa acara " Ada yang tahu makna tema malam ini? Sadumuk bathuk sanyari bumi."
Banyak dari penonton yang angkat tangan untuk unjuk bicara. Salah satu yang menarik dari ungkapan salah seorang penonton dan mengundang tawa, " Ini temanya kog seperti mengandung unsur politik ya. Sadumuk bathuk sanyari bumi seperti menggambarkan kondisi pemerintahan saat ini. Kondisi bangsa yang mulai sakit dijajah secara perlahan oleh negara asing. Arah diskusi malam ini sepertinya mengupas perihal politik dalam negeri. Ya, tidak apalah, daripada tidak ada tema lain."
Kata - kata yang terakhir dari ungkapan tadi membuat geram pembawa acara," Hanjrit...! daripada tidak ada tema lain jare.. Iki panitia mikir tema ne ae suwe cak ! Gelek sing cocok. "
"Iya tadi sekedar intermezo aja. Biar semua yang ada disini sadar bahwa bangsa ini sedang sakit. Bangsa ini mulai diinjak-injak oleh asing. Maka sadaro ! Kehormatan bangsa telah diinjak-injak, Ayo mati-matian dibelo !" ucap pemuda yang menanggapi ucapannya di awal tadi.
Gemuruh tepuk tangan dari penonton lain diiringi tawa.
Kemudian tema dijelaskan oleh panitia bahwa bangsa ini sedang sakit. Bathuk bisa diartikan kehormatan bangsa ini, sanyari bumi yang berarti meski sejengkal tanah. Tanah air kita ibu pertiwi dan segala yang ada di dalamnya adalah milik orang indonesia. Tanah ini (bathuk ini) jika kita sebagai warga indonesia merasa memiliki seharusnya sadar dan tak rela jika harus dibeli dan diduduki oleh orang asing. Walau hanya sejengkal tanah harus kita bela mati - matian. Maslahnya apakah kita masih merasa memiliki bathuk?
Bangsa ini sakit, dalam mengatasi ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama kesadaran diri akan rasa sakit yang diderita, kemudian dicek sakit apakah itu? selanjutnya diobati. Masalahnya apakah kita merasa sakit ? jika tidak merasa sakit, ya tidak mungkin tahu penyakit itu apa. Apalagi harus mikir untuk mengobati, tutur salah satu panitia bernama mbak Viha. Masih muda cantik pula. Beliau mbak cantik Viha juga sempat membacakan sebuah puisi yang sangat menyentuh hati.
TANAH AIRMATA
Tanah airmata tanah tumpah darahku
Mata air air mata kami
Airmata tanah air kami
Disinilah kami berdiri
Menyanyikan airmata kami
Di balik gembur subur tanahmu
Kami simpan perih kami
Di balik etalase gedung-gedungmu
Kami coba sembunyikan derita kami
Kami coba simpan nestapa kami
Kami coba kuburkan dukalara
Tapi perih tak bisa sembunyi
Ia merebak kemana-mana
Bumi memang tak sebatas pandang
Dan udara luas menunggu
Namun kalian takkan bisa menyingkir
Kemanapun melangkah
Kalian pijak airmata kami
Kemana pun terbang
Kalian kan hinggap di airmata kami
Kemanapun berlayar
Kalian arungi airmata kami
Kalian sudah terkepung
Takkan bisa mengelak
Takkan bisa kemana pergi
Menyerahlah pada kedalaman airmata kami
oleh : Sutardji Calzoum Bachri
Terceletuk statement dari salah satu penonton yang juga ikut mengomentari, Jangan menunggu pemerintahan untuk mengobati masalah ini. Mulailah dari diri sendiri. Untuk mengubah bangsa ini.
Ayo sadar diri, untuk membela tanah air kita. Jika menunggu pemerintah untuk bergerak, bisa - bisa penyakit ini sampai harus menanggung resiko untuk diamputasi.
Sebelum diskusi berlanjut diselingi dulu oleh sebuah lagu yang dibawakan oleh komunitas waiyahan dari Jombang bernama "Padhang Mbulan". Bismillah judul lagu yang berdendang merdu mengalun syahdu di malam yang mulai membuka tabir berganti hari. Jam 23.15 ketiga pemuda itu terpaksa harus kembali ke kos meski acara waiyahan belum selesai. "Besok saya kerja praktek bro. Takut bangun kesiangan nanti." celetuk salah satu dari tiga pemuda itu.
Bismillah...
Ya Allahu ya kariim...
Bismillah...
Ya rahman ya rahim...
Lantunan lagu mengiringi perjalanan mereka dan terngiang dengan sayup - sayup memecah keheningan malam.
#Catatan malam 15 ramadhan










0 komentar: