Musim Dingin di Bulan Agustus
Bulan agustus, salju secara perlahan penuh dengan
irama mulai berjatuhan. Musim dingin di bulan agustus. Musim yang meresahkan
dan mencekam bagi sebagian orang. Namun yang membuat menakutkan, musim dingin
ini bertamu ke Indonesia. Negara tropis, aneh. Kog bisa. Negara yang disebut –
sebut sebagai surga dunia, sepotong kayu ditancapkan ke tanah tumbuh dengan
mudahnya, padi – padi yang menguning swasembada pangan, sumber daya alam
melimpah, cukup untuk anak cucu di masa depan, kini musim dingin tiba- tiba
muncul membawa keresahan. Aneh, tapi fakta.
Salju terus berjatuhan tiada bosan, siapakah yang
mengundang ? terlihat masyarakat Indonesia mulai kedinginan. Pernah sekali
terjadi di masa lampau tahun 1998 saat orde baru hujan es batu, membuat
masyarakat resah dan kebingungan. Sekarang lebih ekstrim lagi hujan salju yang
berkepanjangan. Suhu dingin yang memilukan dan membuat kaget sebagian
masyarakat Indonesia. Hangatnya mentari seakan tidak terasa. Hawa dingin
menerobos ke sela – sela penjuru nusantara membuat masyarakat mulai enggan
keluar dari rumahnya. Entah, rasa enggan itu didasari ketakutan atau mungkin
ketidakmampuan menghadapi suhu dingin yang tidak pernah sama sekali mereka
rasakan sebelumnya. Masyarakat terdiam, sebagian berdo’a, sebagian lagi
berteriak – teriak mengumpat kondisi yang sedang melanda. Ah sia – sia,
suaranya tak terdengar oleh manusia. Entahlah, mungkin sebagian yang lain
terlalu bodoh karena menganggap hal ini wajar – wajar saja karena Negara –
Negara lain juga mengalami musim yang sama, lantas mereka ada untuk apa ?. Dan
sebagian yang lain cuek – cuek saja karena suhu dingin tidak berpengaruh
padanya, mungkin rumah – rumah yang penuh dengan penghangat ruangan dan pakaian
– pakaian yang tebal dan menghangatkan membutakan hati mereka yang cuek dengan
kondisi sekitarnya. Mereka tidak melihat sebagian besar orang sedang kedinginan
dan berpasrah diri dengan keadaan. Perjuangan dengan berbagai cara telah
dilakukan namun hasilnya tidak berpengaruh secara signifikan. Kini hidup mereka
masyarakat biasa sedang dipertaruhkan. Inilah musim dingin yang tak diharapkan
muncul dengan tanpa undangan.
Musim dingin di bulan agustus yang memilukan. Suhu
udara semakin dingin sehingga banyak pedagang enggan berjualan dan lebih
memilih untuk berdiam diri. Akibatnya tak hanya lingkungan yang dingin, pada
akhirnya harga – harga barang semakin beku dan menggunung tinggi. Masyarakat
terpuruk tak berdaya. Sebagian berpikir, akankah nafas ini sampai pada musim
semi ? padahal mereka sendiri tak tahu kapan musim dingin berakhir dan musim
semi tiba. Selama masih banyak orang – orang yang egois dan cuek pada
lingkungan sekitarnya, musim semi itu, apakah ada ? mungkin dapat disimpulkan
bahwa kondisi yang sangat parah bukan karena ada salju, atau harga – harga yang
membeku namun hati yang mulai membatu.
Salju di bulan agustus telah membunuh berjuta harap
masyarakat Indonesia. Seorang petani yang berharap panen bulan ini melimpah,
terpupus sudah. Pedagang – pedagang kecil yang ingin meningkatkan penjualan,
teredam oleh keadaan. Ibu – ibu rumah tangga semakin kesulitan mengatur neraca
keuangan keluarga. Angkot – angkot yang beroperasi terus mengeluh karena sepi
penumpang. Indonesia seperti kehilangan jati diri. Sebagian orang saling
bertanya, aku tinggal dimana ? dan di jawab dengan polosnya mungkin
di negara yang tak bernyawa.
Seharusnya bulan agustus adalah bulan kemenangan bagi
bangsa Indonesia. Hari – hari dimana kemerdekaan telah dibuka dengan darah para
syuhada. Merah putih telah dikibarkan dengan cucuran keringat dan semangat yang
membara. Seharusnya bulan agustus menjadi bulan yang menghangatkan. Momen
dimana tercurah rasa syukur dan memperingati kemenangan dengan senyuman. Anak –
anak saling berlomba dengan semangat pahlawan yang gugur di medan laga. Dimana
tercurah rasa cinta yang meletup – letup kepada bangsanya. Mencintai kesenian
dan menikmati hasil produk dalam negeri. Seharusnya…
Kini pohon – pohon sedang sekarat, daun – daun
berguguran, yang tertinggal hanyalah hawa dingin yang mencekam. Dan di sudut
hati masyarakat Indonesia mulai tumbuh tunas kekecewaan. Kecewa pada siapa ?
entahlah. Seakan pohon – pohon itu telah mati oleh musim dingin yang tak
bertepi. Dan sebagian kecil orang yang duduk di singgahsana seakan menjadi buta
dan tuli bahwa musim dingin telah melanda negeri ini. Masyarakat Indonesia menjadi
taruhannya.
Allah Maha Melihat dan Mendengar. Dia berkuasa lagi
Maha Perkasa. Hanya kepada Allahlah seharusnya kita kembali. Bukan pada manusia,
yang lemah tanpa rahmatNya.
“Maka
perhatikanlah bekas – bekas rahmat Allah, bagaimana Allah telah menghidupkan
bumi setelah mati. Sungguh itu berarti Dia pasti berkuasa menghidupkan yang
telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
[ QS.
Ar Rum : 50 ]
“Tunaikanlah
amanah kepada orang yang mengamanahimu. Namun jangan khianati orang yang
mengkhianatimu.”
[ HR
Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi ]
“Hendaklah
engkau mendengarkan dan menaati (pemimpin), baik dalam keadaan sulit maupun
mudah, baik dalam keadaan rela ataupun tak suka, dan saat ia lebih mengutamakan
haknya daripada engkau.”
[ HR.
Muslim: 1836 ]
“Kataatan
itu hanya dalam hal yang makruf”
[ HR
Al Bukhari ]
ditulis 27 agustus 2015










0 komentar: