Musim Dingin di Bulan Agustus

5:02:00 PM Brian zenict 0 Comments



Bulan agustus, salju secara perlahan penuh dengan irama mulai berjatuhan. Musim dingin di bulan agustus. Musim yang meresahkan dan mencekam bagi sebagian orang. Namun yang membuat menakutkan, musim dingin ini bertamu ke Indonesia. Negara tropis, aneh. Kog bisa. Negara yang disebut – sebut sebagai surga dunia, sepotong kayu ditancapkan ke tanah tumbuh dengan mudahnya, padi – padi yang menguning swasembada pangan, sumber daya alam melimpah, cukup untuk anak cucu di masa depan, kini musim dingin tiba- tiba muncul membawa keresahan. Aneh, tapi fakta.

Salju terus berjatuhan tiada bosan, siapakah yang mengundang ? terlihat masyarakat Indonesia mulai kedinginan. Pernah sekali terjadi di masa lampau tahun 1998 saat orde baru hujan es batu, membuat masyarakat resah dan kebingungan. Sekarang lebih ekstrim lagi hujan salju yang berkepanjangan. Suhu dingin yang memilukan dan membuat kaget sebagian masyarakat Indonesia. Hangatnya mentari seakan tidak terasa. Hawa dingin menerobos ke sela – sela penjuru nusantara membuat masyarakat mulai enggan keluar dari rumahnya. Entah, rasa enggan itu didasari ketakutan atau mungkin ketidakmampuan menghadapi suhu dingin yang tidak pernah sama sekali mereka rasakan sebelumnya. Masyarakat terdiam, sebagian berdo’a, sebagian lagi berteriak – teriak mengumpat kondisi yang sedang melanda. Ah sia – sia, suaranya tak terdengar oleh manusia. Entahlah, mungkin sebagian yang lain terlalu bodoh karena menganggap hal ini wajar – wajar saja karena Negara – Negara lain juga mengalami musim yang sama, lantas mereka ada untuk apa ?. Dan sebagian yang lain cuek – cuek saja karena suhu dingin tidak berpengaruh padanya, mungkin rumah – rumah yang penuh dengan penghangat ruangan dan pakaian – pakaian yang tebal dan menghangatkan membutakan hati mereka yang cuek dengan kondisi sekitarnya. Mereka tidak melihat sebagian besar orang sedang kedinginan dan berpasrah diri dengan keadaan. Perjuangan dengan berbagai cara telah dilakukan namun hasilnya tidak berpengaruh secara signifikan. Kini hidup mereka masyarakat biasa sedang dipertaruhkan. Inilah musim dingin yang tak diharapkan muncul dengan tanpa undangan.

Musim dingin di bulan agustus yang memilukan. Suhu udara semakin dingin sehingga banyak pedagang enggan berjualan dan lebih memilih untuk berdiam diri. Akibatnya tak hanya lingkungan yang dingin, pada akhirnya harga – harga barang semakin beku dan menggunung tinggi. Masyarakat terpuruk tak berdaya. Sebagian berpikir, akankah nafas ini sampai pada musim semi ? padahal mereka sendiri tak tahu kapan musim dingin berakhir dan musim semi tiba. Selama masih banyak orang – orang yang egois dan cuek pada lingkungan sekitarnya, musim semi itu, apakah ada ? mungkin dapat disimpulkan bahwa kondisi yang sangat parah bukan karena ada salju, atau harga – harga yang membeku namun hati yang mulai membatu.

Salju di bulan agustus telah membunuh berjuta harap masyarakat Indonesia. Seorang petani yang berharap panen bulan ini melimpah, terpupus sudah. Pedagang – pedagang kecil yang ingin meningkatkan penjualan, teredam oleh keadaan. Ibu – ibu rumah tangga semakin kesulitan mengatur neraca keuangan keluarga. Angkot – angkot yang beroperasi terus mengeluh karena sepi penumpang. Indonesia seperti kehilangan jati diri. Sebagian orang saling bertanya, aku tinggal dimana ? dan di jawab dengan polosnya mungkin di negara yang tak bernyawa.

Seharusnya bulan agustus adalah bulan kemenangan bagi bangsa Indonesia. Hari – hari dimana kemerdekaan telah dibuka dengan darah para syuhada. Merah putih telah dikibarkan dengan cucuran keringat dan semangat yang membara. Seharusnya bulan agustus menjadi bulan yang menghangatkan. Momen dimana tercurah rasa syukur dan memperingati kemenangan dengan senyuman. Anak – anak saling berlomba dengan semangat pahlawan yang gugur di medan laga. Dimana tercurah rasa cinta yang meletup – letup kepada bangsanya. Mencintai kesenian dan menikmati hasil produk dalam negeri. Seharusnya…

Kini pohon – pohon sedang sekarat, daun – daun berguguran, yang tertinggal hanyalah hawa dingin yang mencekam. Dan di sudut hati masyarakat Indonesia mulai tumbuh tunas kekecewaan. Kecewa pada siapa ? entahlah. Seakan pohon – pohon itu telah mati oleh musim dingin yang tak bertepi. Dan sebagian kecil orang yang duduk di singgahsana seakan menjadi buta dan tuli bahwa musim dingin telah melanda negeri ini. Masyarakat Indonesia menjadi taruhannya.

Allah Maha Melihat dan Mendengar. Dia berkuasa lagi Maha Perkasa. Hanya kepada Allahlah seharusnya kita kembali. Bukan pada manusia, yang lemah tanpa rahmatNya.

“Maka perhatikanlah bekas – bekas rahmat Allah, bagaimana Allah telah menghidupkan bumi setelah mati. Sungguh itu berarti Dia pasti berkuasa menghidupkan yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
[ QS. Ar Rum : 50 ]

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang mengamanahimu. Namun jangan khianati orang yang mengkhianatimu.”
[ HR Ahmad, Abu Dawud, dan At Tirmidzi ]

“Hendaklah engkau mendengarkan dan menaati (pemimpin), baik dalam keadaan sulit maupun mudah, baik dalam keadaan rela ataupun tak suka, dan saat ia lebih mengutamakan haknya daripada engkau.”
[ HR. Muslim: 1836 ]

“Kataatan itu hanya dalam hal yang makruf”
[ HR Al Bukhari ]


ditulis 27 agustus 2015

0 komentar: