(Dia)m
“HP kamu ya?”celetuknya tiba-tiba. Aku menoleh.
“Oh iya, nemu
dimana?” aku tersenyum padanya. Kemudian mengambil HP itu dari pelukan
tangannya.
“Serambi
Mushola,”jawabnya singkat, datar.
“makasih ya,”lanjutku
agak kaku.
“Tak usah,”jawabnya
ketus. Lantas berbalik dan bergegas pergi.
“Eh tunggu,
kenapa?”tanyaku lagi, langkahnya terhenti.
“Tak apa,”dia membalikkan
badannya, tertunduk wajahnya.
“Afwan,”ucapku
memecah sunyi yang sangat tak mengenakkan hati.
“Sekali lagi,
cukup berkata makasih ataupun minta maaf padaku,” ucapnya tegas, ia berbalik bergegas,
khimarnya berkibar tersapu angin sore. Aku tersenyum, mencoba menerka – terka makna
senja yang berpantul di wajahnya.
Maaf, aku tak
ingin banyak berharap, cukup Allah bagiku berserah diri gumam hatiku.
Maka izinkan
aku untuk lebih banyak diam, daripada bicara, apalagi bertatap muka. Dan aku
tak berharap kamu untuk paham, diamlah sebanyak yang kamu bisa. Aku pun juga
sama.
Jika di hatimu
ada getar rasa, aku pun sama.
Maka diamlah,
dan rasakan detaknya.
Berdo’alah
agar detak itu tidak berhenti ditelan waktu.
Aku pun
begitu.
ditulis kala malam
30 april 2016
sourcePhoto: https://arnityani.wordpress.com/










0 komentar: