(Dia)m

10:09:00 PM Brian zenict 0 Comments



“HP kamu ya?”celetuknya tiba-tiba. Aku menoleh.

“Oh iya, nemu dimana?” aku tersenyum padanya. Kemudian mengambil HP itu dari pelukan tangannya.

“Serambi Mushola,”jawabnya singkat, datar.

“makasih ya,”lanjutku agak kaku.

“Tak usah,”jawabnya ketus. Lantas berbalik dan bergegas pergi.

“Eh tunggu, kenapa?”tanyaku lagi, langkahnya terhenti.

“Tak apa,”dia membalikkan badannya, tertunduk wajahnya.

“Afwan,”ucapku memecah sunyi yang sangat tak mengenakkan hati.

“Sekali lagi, cukup berkata makasih ataupun minta maaf padaku,” ucapnya tegas, ia berbalik bergegas, khimarnya berkibar tersapu angin sore. Aku tersenyum, mencoba menerka – terka makna senja yang berpantul di wajahnya.

Maaf, aku tak ingin banyak berharap, cukup Allah bagiku berserah diri gumam hatiku.

Maka izinkan aku untuk lebih banyak diam, daripada bicara, apalagi bertatap muka. Dan aku tak berharap kamu untuk paham, diamlah sebanyak yang kamu bisa. Aku pun juga sama.

Jika di hatimu ada getar rasa, aku pun sama.
Maka diamlah, dan rasakan detaknya.

Berdo’alah agar detak itu tidak berhenti ditelan waktu.
Aku pun begitu.



 ditulis kala malam
30 april 2016


sourcePhoto: https://arnityani.wordpress.com/

0 komentar: