Balasan Yang Terpendam

9:22:00 AM Brian zenict 0 Comments



Seperti biasa, aku bersandar pada tembok sunyi, menghirup keheningan berkali-kali, duduk membisu bersama buku-buku yang setia menemani. Ya, hanya buku-buku, disini. Di perbatasan waktu senggang itu, perpustakan sekolah tempat favoritku. Dan diantara deretan rak buku yang berjajar rapi membujur di setiap tepi ruangan, terdapat meja sepaket dengan kursi mendiami tengah ruangan dan disampingnya kanan-kiri adalah rak yang saling berhadapan. Di pojok ruangan itu, diantara barisan rak buku, tempatku berdiam diri bersama setumpuk buku memotong sang waktu.

Masih sepi. Waktu menunjukkan bahwa jam pelajaran tersisa sejam lagi. Sepi memang suka sekali berkunjung ke perpustakaan sekolah ini. Hanya beberapa siswa yang biasa memecah keheningan perpustakaan ketika bel istirahat dibunyikan. Termasuk aku. Bisa dibilang aku masuk dalam daftar tamu setia dari mbak Yayuk, petugas perpus yang usianya sudah berkepala tiga. Bahkan beliau sangat hafal betul kebiasaanku di perpustakaan, saat aku memasuki ruangan nasehatnya selalu menyambutku dengan seikat senyuman.

“jangan lupa buku yang sudah dibaca di kembalikan ke rak-nya semula ya,” begitu selalu.

“Ok mbak,”jawabku juga selalu sama.
Tapi ya tetap saja aku ini bandel, tidak mengindahkan nasehatnya.

Siang ini kelasku memang lagi kosong, sang guru masih ada urusan, katanya. Maka dengan senang – sangat senang- hati kami terpaksa menghibur diri berkeliaran keluar kelas, ada yang ke kantin –sebagian besar, ada pula yang ke mushola –biasanya anak-anak rohis dan segenap jajarannya, dan ada yang suka ke perpustakaan –yang ini aku seorang diri. Arif sahabatku ikut segerombolan anak kantin, eh maksudnya ikut makan ke kantin. Dan di sanalah aku yang bercengkerama dengan buku-buku, hanya aku, buku, dan Mbak Yayuk yang setia dalam ruang sunyi itu.

Tidak terasa waktu telah memakan usiaku sejam lamanya. Satu jam yang bermanfaat setidaknya, meski satu buku belum habis aku lahap semuanya, tinggal sepertiganya. Mata mulai berat terasa, punggung menjadi kaku ingin dimanja, kurebahkan tubuh ini ke lantai diantara rak buku yang menyembunyikan diriku dari pandang mata, ah memang tidak ada orang disini, selain mbak Yayuk yang sibuk melabeli buku-buku di meja kerjanya yang dekat dengan pintu masuk. Aku rebahan sebentar mengobati rasa kantuk, ketika mata hendak terpejam, terlihat sepucuk kertas terlipat rapat dan rapih seperti surat tak berawak tergeletak di bawah rak buku. Aku penasaran, ku ambil dan ku lihat seksama, seolah aku mengenalnya, lipatan kertas itu tak asing bagiku. Seperti lipatanku. Namun mana mungkin aku pemiliknya, bahkan tak kuingat aku pernah melipat kertas seperti itu sebulan ini. Agak ragu, ku buka setiap lipatan dengan perlahan, dan isinya ternyata membuat aku bungkam cukup lama, aku terdiam bisu, tak percaya. Tidak mungkin ini tulisanku. Bagaimana bisa? Surat itu disini?

Untuk Dewi,
di balik dinding kaca bertabir sunyi

Maaf, aku menuliskan ini untukmu.
Jika kamu tak berkenan, kamu bisa membuangnya,
tak usah kamu lanjutkan membaca.
Namun jika kamu tak tega, tolong bacalah…
Meski sedikit saja, tak lama

Ini tentang rasa
Tentang pergulatan pikiran di ujung pena
Tentang suara yang beresonansi di hati
Tentang malu yang menyelinap tiba-tiba
Tentang rindu yang singgah tanpa permisi
Tentang kamu,
yang membuat gagu lisanku

Disinilah tempatku berdiam
Di deretan kata-kata yang bisu
Diantara frasa yang terbungkam
Hanyalah pena, kertas dan secangkir diksi
Untuk menyapamu.

Adakah rasa yang sama disitu?
Tepat di hatimu.

Ku biarkan tabir itu menutup jiwaku
Izinkanku melihatmu di seberang rindu

Salam sahabat,
Riyan

Aku masih terperanjat, tidak percaya, bagaimana bisa. Bukankah suratku dulu telah ku pendam di bawah pohon jambu depan rumah. Kenapa sekarang ada disini, apa jangan-jangan Arif yang mengambilnya, ah tidak mungkin. Dia tidak tahu menahu perihal surat itu. Atau mungkin adikku, ah mana bisa. Dia berjalan aja belum bisa. Atau ibuku, padahal tidak ada satupun orang yang melihatku saat memendam surat itu. Lantas siapa. Apa aku sendiri yang mengigau kemudian mengambil surat ini dari tempatnya, ah mustahil. Tidak pernah tercatat kata-kata mengigau dalam lembaran hidupku. Satu-satunya orang yang dekat denganku selain Bapak dan Ibu, sahabatku, Arif. Aku harus memastikannya. Kringgg…bel berbunyi. Tanda bahwa jam pelajaran telah usai. Aku terburu meninggalkan perpus, mencapai pintu, “ Yan, bukunya sudah rapi?” petanyaan mbak Yayuk mengagetkanku.

“Oh iya,” jawabku seketika.

Ah lagi-lagi lupa, kebiasaan buruk ini. Kembali ku rapikan buku yang telah ku baca, menaruhnya kembali pada tempatnya semula.

“sudah mbak, Assalamu’alaykum.” Ujarku kemudian, meninggalkan ruangan.

***
“Disini kamu rupanya, Rif” sapaku pada Arif.

“emang dimana lagi, ayo pulang,”jawab Arif, bersiap di atas motor bebek yang sudah berusia empat tahun lamanya.

“Mana motormu?”lanjutnya.

“Tuh, aku parkir di belakangmu,”tunjukku pada motor kesayanganku. Sudah tiga tahun membersamai langkahku menimba ilmu.

“Rif, ku tanyakan padamu, jawab dengan jujur,”lanjutku, serius.

“apa? Emang selama ini aku tidak jujur ya,”jawabnya cengengesan.

“kamu pernah tahu aku menuliskan surat?” tanyaku, agak ragu.

“pertanyaan macam apa ini? kamu yang nulis tapi tanyanya ke aku. Kamu tidak lagi amnesia kan Yan?” balik bertanya, hem bikin gemes nih anak. Wajahnya selalu menampakkan senyum kejahilan.

“Oh, ok ok. Sudah cukup. Case close.”jawabku mengakhiri perbincangan.

“Eh surat apa Yan, kasih tahu.”

Aku menggeser motorku ke depan, siap kunaiki, kunci terpasang, helm terpakai. Ku hidupkan mesinnya, “Aku duluan Rif, Assalamu’alaykum.”

Ku lihat dari kaca spion, Arif masih bermuka penasaran. Ah biarkan.

***
Usai sholat Dhuhur.

“Makan dulu Yan,”suara Ibu.

“Bentar bu”

Bergegas aku ke depan rumah, pohon jambu. Dengan sebatang kayu, ku gali timbunan tanah di antara akar pohon jambu itu, tempat ku pendam surat abstrakku. Jantung ini masih bedetak tak sabar, memastikan, mencoba membuka tabir kebenaran, menyingkap pertanyaan – pertanyan yang menutupi pikiran, aku penasaran.

Lama, padahal tak begitu dalam. Hati berbisik pelan. Aku seakan mencari sesuatu yang muskil ketemu. Bagaimana tidak, surat itu berada di kantongku saat ini, kenapa aku masih menggali, mencoba menemukan surat yang ku pendam dulu, bukankah aneh. Aku mencari sesuatu padahal dia sudah ku temukan, sangat dekat malahan. Lantas aku ini mencari apa? Ya, mungkin aku hanya sekedar menggali rasa penasaran. Pembuktian.

Lho kog ketemu…aneh, pikirku.

Bukan semakin hilang, malah semakin penasaran. Maka timbulah berbagai pertanyaan baru. Kenapa ada dua surat, milikku? Sejak kapan aku buat salinan. Tidak salah, surat yang di kantongku ini adalah tulisanku. Lantas surat yang ku pendam ini?

Aku buka surat itu, yang masih berbau tanah, namun masih terlipat rapat, belum hancur di telan bumi. Ya, lipatan surat ini, adalah lipatanku. Tak semua orang bisa melipatnya, kecuali…

Surat terbuka,

Assalamu’alaykum wr wb.

Untuk Riyan
Di seberang rindu

Aku tidak mengerti secara pasti maksud suratmu. Namun aku merasa kamu tersiksa oleh rasa yang muncul tiba-tiba.

Iya, akhir – akhir ini aku merasa kamu berbeda. Kamu diam saat ku jumpa. Biasanya kamu bicara normal-normal saja. Entah apa yang mengusikmu, jangan bilang gara-gara aku. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa.

Maaf jika kamu bertanya soal rasa, aku malu mengatakannya.
Biarlah itu menjadi rahasia, untukmu, pun bagiku.

Maafkan, jika semua rasa itu karena sikapku, lisanku, dan ketidakpiawaianku mengatur diri. Aku menyesal,

Sampai berjumpa kembali,
Dilain waktu.

Wassalamu’alaykum wr wb.
Dewi

Ya, kecuali Dewi. Dia yang mengajarkanku melipat kertas seperti itu.

Angin berhembus pelan, menyapu tubuhku yang terduduk kaku. Dedaunan pohon jambu berjatuhan, bunganya berguguran. Aku sadar bahwa merah jambu itu tidak hanya berbuah di pohon depan rumah, namun sekarang malah berjatuhan di pekarangan hati. Kenapa aku menjadi sangat dungu, tak menyadari surat ini adalah milikmu, Dewi. 


Selesai ditulis
menyambut pagi
2 April 2016

*fiksiku
Brianzenict


 Source photo: http://perinduredhailahi.blogspot.co.id/2014/06/pohon-kenangan.html

0 komentar: