Balasan Yang Terpendam
Seperti biasa,
aku bersandar pada tembok sunyi, menghirup keheningan berkali-kali, duduk
membisu bersama buku-buku yang setia menemani. Ya, hanya buku-buku, disini. Di
perbatasan waktu senggang itu, perpustakan sekolah tempat favoritku. Dan diantara
deretan rak buku yang berjajar rapi membujur di setiap tepi ruangan, terdapat meja
sepaket dengan kursi mendiami tengah ruangan dan disampingnya kanan-kiri adalah
rak yang saling berhadapan. Di pojok ruangan itu, diantara barisan rak buku,
tempatku berdiam diri bersama setumpuk buku memotong sang waktu.
Masih sepi. Waktu
menunjukkan bahwa jam pelajaran tersisa sejam lagi. Sepi memang suka sekali
berkunjung ke perpustakaan sekolah ini. Hanya beberapa siswa yang biasa memecah
keheningan perpustakaan ketika bel istirahat dibunyikan. Termasuk aku. Bisa
dibilang aku masuk dalam daftar tamu setia dari mbak Yayuk, petugas perpus yang
usianya sudah berkepala tiga. Bahkan beliau sangat hafal betul kebiasaanku di
perpustakaan, saat aku memasuki ruangan nasehatnya selalu menyambutku dengan
seikat senyuman.
“jangan lupa
buku yang sudah dibaca di kembalikan ke rak-nya semula ya,” begitu selalu.
“Ok
mbak,”jawabku juga selalu sama.
Tapi ya tetap
saja aku ini bandel, tidak mengindahkan nasehatnya.
Siang ini kelasku
memang lagi kosong, sang guru masih ada urusan, katanya. Maka dengan senang –
sangat senang- hati kami terpaksa menghibur diri berkeliaran keluar kelas, ada
yang ke kantin –sebagian besar, ada pula yang ke mushola –biasanya anak-anak
rohis dan segenap jajarannya, dan ada yang suka ke perpustakaan –yang ini aku
seorang diri. Arif sahabatku ikut segerombolan anak kantin, eh maksudnya ikut
makan ke kantin. Dan di sanalah aku yang bercengkerama dengan buku-buku, hanya
aku, buku, dan Mbak Yayuk yang setia dalam ruang sunyi itu.
Tidak terasa
waktu telah memakan usiaku sejam lamanya. Satu jam yang bermanfaat setidaknya,
meski satu buku belum habis aku lahap semuanya, tinggal sepertiganya. Mata
mulai berat terasa, punggung menjadi kaku ingin dimanja, kurebahkan tubuh ini
ke lantai diantara rak buku yang menyembunyikan diriku dari pandang mata, ah
memang tidak ada orang disini, selain mbak Yayuk yang sibuk melabeli buku-buku
di meja kerjanya yang dekat dengan pintu masuk. Aku rebahan sebentar mengobati
rasa kantuk, ketika mata hendak terpejam, terlihat sepucuk kertas terlipat
rapat dan rapih seperti surat tak berawak tergeletak di bawah rak buku. Aku
penasaran, ku ambil dan ku lihat seksama, seolah aku mengenalnya, lipatan
kertas itu tak asing bagiku. Seperti lipatanku. Namun mana mungkin aku
pemiliknya, bahkan tak kuingat aku pernah melipat kertas seperti itu sebulan
ini. Agak ragu, ku buka setiap lipatan dengan perlahan, dan isinya ternyata
membuat aku bungkam cukup lama, aku terdiam bisu, tak percaya. Tidak mungkin
ini tulisanku. Bagaimana bisa? Surat itu disini?
Untuk Dewi,
di balik
dinding kaca bertabir sunyi
Maaf, aku
menuliskan ini untukmu.
Jika kamu tak
berkenan, kamu bisa membuangnya,
tak usah kamu
lanjutkan membaca.
Namun jika
kamu tak tega, tolong bacalah…
Meski sedikit
saja, tak lama
Ini tentang
rasa
Tentang
pergulatan pikiran di ujung pena
Tentang suara
yang beresonansi di hati
Tentang malu
yang menyelinap tiba-tiba
Tentang rindu
yang singgah tanpa permisi
Tentang kamu,
yang membuat
gagu lisanku
Disinilah
tempatku berdiam
Di deretan
kata-kata yang bisu
Diantara frasa
yang terbungkam
Hanyalah pena,
kertas dan secangkir diksi
Untuk
menyapamu.
Adakah rasa
yang sama disitu?
Tepat di
hatimu.
Ku biarkan
tabir itu menutup jiwaku
Izinkanku melihatmu
di seberang rindu
Salam sahabat,
Riyan
Aku masih
terperanjat, tidak percaya, bagaimana bisa. Bukankah suratku dulu telah ku
pendam di bawah pohon jambu depan rumah. Kenapa sekarang ada disini, apa
jangan-jangan Arif yang mengambilnya, ah tidak mungkin. Dia tidak tahu menahu
perihal surat itu. Atau mungkin adikku, ah mana bisa. Dia berjalan aja belum
bisa. Atau ibuku, padahal tidak ada satupun orang yang melihatku saat memendam
surat itu. Lantas siapa. Apa aku sendiri yang mengigau kemudian mengambil surat
ini dari tempatnya, ah mustahil. Tidak pernah tercatat kata-kata mengigau dalam
lembaran hidupku. Satu-satunya orang yang dekat denganku selain Bapak dan Ibu,
sahabatku, Arif. Aku harus memastikannya. Kringgg…bel berbunyi. Tanda bahwa jam
pelajaran telah usai. Aku terburu meninggalkan perpus, mencapai pintu, “ Yan,
bukunya sudah rapi?” petanyaan mbak Yayuk mengagetkanku.
“Oh iya,”
jawabku seketika.
Ah lagi-lagi
lupa, kebiasaan buruk ini. Kembali ku rapikan buku yang telah ku baca, menaruhnya
kembali pada tempatnya semula.
“sudah mbak,
Assalamu’alaykum.” Ujarku kemudian, meninggalkan ruangan.
***
“Disini
kamu rupanya, Rif” sapaku pada Arif.
“emang
dimana lagi, ayo pulang,”jawab Arif, bersiap di atas motor bebek yang sudah
berusia empat tahun lamanya.
“Mana
motormu?”lanjutnya.
“Tuh,
aku parkir di belakangmu,”tunjukku pada motor kesayanganku. Sudah tiga tahun
membersamai langkahku menimba ilmu.
“Rif,
ku tanyakan padamu, jawab dengan jujur,”lanjutku, serius.
“apa?
Emang selama ini aku tidak jujur ya,”jawabnya cengengesan.
“kamu
pernah tahu aku menuliskan surat?” tanyaku, agak ragu.
“pertanyaan
macam apa ini? kamu yang nulis tapi tanyanya ke aku. Kamu tidak lagi amnesia
kan Yan?” balik bertanya, hem bikin gemes nih anak. Wajahnya selalu menampakkan
senyum kejahilan.
“Oh,
ok ok. Sudah cukup. Case close.”jawabku mengakhiri perbincangan.
“Eh
surat apa Yan, kasih tahu.”
Aku
menggeser motorku ke depan, siap kunaiki, kunci terpasang, helm terpakai. Ku
hidupkan mesinnya, “Aku duluan Rif, Assalamu’alaykum.”
Ku
lihat dari kaca spion, Arif masih bermuka penasaran. Ah biarkan.
***
Usai sholat
Dhuhur.
“Makan dulu
Yan,”suara Ibu.
“Bentar bu”
Bergegas aku
ke depan rumah, pohon jambu. Dengan sebatang kayu, ku gali timbunan tanah di
antara akar pohon jambu itu, tempat ku pendam surat abstrakku. Jantung ini
masih bedetak tak sabar, memastikan, mencoba membuka tabir kebenaran,
menyingkap pertanyaan – pertanyan yang menutupi pikiran, aku penasaran.
Lama, padahal
tak begitu dalam. Hati berbisik pelan. Aku seakan mencari sesuatu yang muskil
ketemu. Bagaimana tidak, surat itu berada di kantongku saat ini, kenapa aku
masih menggali, mencoba menemukan surat yang ku pendam dulu, bukankah aneh. Aku
mencari sesuatu padahal dia sudah ku temukan, sangat dekat malahan. Lantas aku ini
mencari apa? Ya, mungkin aku hanya sekedar menggali rasa penasaran. Pembuktian.
Lho kog ketemu…aneh, pikirku.
Bukan semakin
hilang, malah semakin penasaran. Maka timbulah berbagai pertanyaan baru. Kenapa
ada dua surat, milikku? Sejak kapan aku buat salinan. Tidak salah, surat yang
di kantongku ini adalah tulisanku. Lantas surat yang ku pendam ini?
Aku buka surat
itu, yang masih berbau tanah, namun masih terlipat rapat, belum hancur di telan
bumi. Ya, lipatan surat ini, adalah lipatanku. Tak semua orang bisa melipatnya,
kecuali…
Surat terbuka,
Assalamu’alaykum
wr wb.
Untuk Riyan
Di seberang
rindu
Aku tidak mengerti
secara pasti maksud suratmu. Namun aku merasa kamu tersiksa oleh rasa yang muncul
tiba-tiba.
Iya, akhir –
akhir ini aku merasa kamu berbeda. Kamu diam saat ku jumpa. Biasanya kamu
bicara normal-normal saja. Entah apa yang mengusikmu, jangan bilang gara-gara
aku. Sungguh aku tak tahu harus berbuat apa.
Maaf jika kamu
bertanya soal rasa, aku malu mengatakannya.
Biarlah itu
menjadi rahasia, untukmu, pun bagiku.
Maafkan, jika
semua rasa itu karena sikapku, lisanku, dan ketidakpiawaianku mengatur diri. Aku
menyesal,
Sampai berjumpa
kembali,
Dilain waktu.
Wassalamu’alaykum
wr wb.
Dewi
Ya, kecuali
Dewi. Dia yang mengajarkanku melipat kertas seperti itu.
Angin berhembus
pelan, menyapu tubuhku yang terduduk kaku. Dedaunan pohon jambu berjatuhan,
bunganya berguguran. Aku sadar bahwa merah jambu itu tidak hanya berbuah di
pohon depan rumah, namun sekarang malah berjatuhan di pekarangan hati. Kenapa
aku menjadi sangat dungu, tak menyadari surat ini adalah milikmu, Dewi.
Selesai ditulis
menyambut pagi
2 April 2016
*fiksiku
Brianzenict
Source photo: http://perinduredhailahi.blogspot.co.id/2014/06/pohon-kenangan.html










0 komentar: