Dialog Malam
Episode kedua dari sebuah cerita yang berkelanjutan.
Episode pertama "Catatan Masa Lalu"
bisa dilihat disini : Catatan Masa Lalu
Lama tak bersua
hingga lupa jika tulis tanganku yang memenuhinya. Catatan khas anak perempuan
yang tak ingin melupakan apa yang sudah ia dapatkan dari pembelajaran, tepatnya
catatan penuh warna dengan rupa-rupa sesukanya.
Ku pandangi lagi catatan itu dan berusaha keras mengeja ingatan masa lalu. Namun tetap saja,
aku lupa.
“Siapa yang pernah
meminjamnya ya? kenapa aku tidak ingat sama sekali? Terlebih buku ini masih
sangat rapi, padahal mbak Yayuk bilang yang mengembalikan anak laki-laki.”
Ku tinggalkan
pertanyaan – pertanyaan yang aku pun belum temukan jawabnya. Tak sadar aku
melamun.
“Menepilah aku,
jangan hancurkan dinding batas yang telah kau buat dengan keteguhan itu. Jangan
berpikir yang itu hanya akan menjadi prasangka. Apabila dirimu mulai lelah,
ingatlah kembali nasihat Ali, hanya kebaikan yang akan kekal sedang lelah akan menghilang dengan
sendirinya. Lalu kenapa dengan itu....,” dialog hati yang ku cipta dengan
diriku sendiri.
Sampai aku tak
menyadari panggilan mbak Yayuk yang sedari
tadi menungguku untuk sholat magrib.
Dengan suara
khasnya yang tegas dan tinggi, mbak Yayuk menyergapku dari belakang. “Wulan! Ya
ampun, anak ini. Hmmm....”
“Astaghfirulloh
mbak. Pelan – pelan napa, Wulan denger
kok. Kaget tau!”
“Jangan bilang
kamu belum berwudhu. Jadi dari tadi kamu melamun. Ya ampun dek, cepet wudhu
sana!”
“heee...
iya..iya,” secepat mungkin aku beranjak.
Kejadian sebelum
sholat magrib telah meluruh bersama doa dan dzikir. Mbak Yayuk mengajakku
bersantai di teras sambil menunggu waktu Isya’. Aku sok sibuk dengan laptopku,
sedang mbak Yayuk dan suaminya jangan ditanya, dunia serasa milik berdua. Entah
apa yang sedang dibicarakan, ku perhatikan mereka saling mencadai. Bahagia
bersama seseorang yang halal untuknya, begitulah. Menikah, ibarat mengarungi
samudera untuk menuju pada tujuan baik yang ingin dituju bersama. Karenanya,
menikah tak bisa asal menikah, namun segala sesuatunya harus dipersipkan dengan
matang. Tidaklah iman dan takwa berbicara, kecuali kebaikan dan keberkahan hidup
yang akan didapat.
“Kamu itu ya dek,
untung adekku satu-satunya. Eh, mbak
penasaran loh, kamu tadi mikirin apa?” mbak Yayuk yang mulai mengakui
keberadaanku.
Ups meleset,
ternyata kejadian tadi belum benar-benar dilupakan oleh mbak Yayuk. “Iya, adek
minta maaf. Emm...?”
“Paling mikirin
siapa yang ngembaliin buku? Hhhh... Penasaran ya? Kasihan adekku.”
“Iya mbak, siapa ya mbak? Adek lupa.”
“Kalok mbak
perhatikan, wajahnya sih tidak asing
tapi mbak juga nggak ingat siapa dia.”
“Yasudahlah mbak,
InsyaAllah nanti juga tau sendiri. Ohya bapak sama ibuk gimana?” aku mencoba
mengalihkan pembicaraan untuk menemukan jawaban semalam.
“Gimana apanya? Ya
baik-baik sajalah dek.”
“Yah, mbak Yayuk
sama mas Rahmad ndak peka. Ini itu masalah adek ikut program mengajar keluar Jawa.
Kemarin bapak sama ibuk diam saja. Apa itu artinya adek diijinkan?”
Program mengajar ke luar Jawa adalah program yang penempatannya pada wilayah-wilayah terpencil di seluruh Indonesia. Banyak teman-temanku yang sudah mendaftar, sedang aku berulang kali merayu namun tetap saja “NIHIL”. Bulan ini pendaftaran sudah dibuka, aku kembali mencoba dengan meyakinkan jika program ini baik. Setidaknya aku telah mencoba.
Dengan nada
kedewasaan, mbak Yayuk mencoba memberi pengertian.”Sudahlah dek. Dimana pun
kamu mengajar, yang terpenting semua kamu lakukan karena Allah. Kuatkan niatmu
dengan mengamalkan ilmu yang sudah kamu dapatkan. Adek juga paham kan, jika
ridho Allah ada di ridho ke dua orang tua.”
“Ya mbak, adek
ngerti kok. Adek nggak maksa,” sempat merasa kecewa tapi yakin jika setiap
kejadian akan ada hikmah tersendiri.
“Adekku bukan lagi
anak kecil yang harus dimanja. Ibarat burung,
adek sekarang sudah waktunya untuk terbang, meski jangkauan itu tak
terlalu jauh tapi cobalah untuk terbang tinggi, kemudian amati sekelilingmu dan
latihlah sayapmu untuk terbang lama. Jadi ketika mereka sudah percaya, akan ada
waktu untuk adek terbang jauh.” Inilah yang ku suka dari kedewasan mbak Yayuk,
dengan kelembutan hatinya ia paham betul jika aku sedang kecewa.
“tenang Wulan,
rejeki itu Allah yang ngatur termasuk jodoh. Kamu cukup berusaha dan banyakin
doamu,” mas Rahmad yang tiba-tiba menyela.
” Ayo siap-siap
Isya.”
“siip.” Jari
jempol penanda jika aku baik-baik saja.
***
Kembali
menyendiri, menikmati alur perjalanan hari ini.
Aku menyiapkan materi untuk
mengajar esok hari, menyelesaikan yang harus diselesaikan dan memperbaiki yang
harus dibaikkan. Menyempatkan untuk membuat coretan pada mading dengan tulisan
apa yang ingin diraih untuk esok hari.
Sejenak pandangku
kembali tertuju pada buku catatan yang baru pulang. Beberapa halaman ku buka,
aku tersenyum sendiri melihat pola warna yang masih tetap sama.
”Dan kamu. Kenapa
kamu baru pulang sekarang?”
15 Juni 2016
ditulis oleh shy
*fiktif
Spesial Ramadhan
Sourcephoto : http://www.1freewallpapers.com/city-aeyaey-street-benches-light-lights-bench-night-mood/id










0 komentar: