Dialog Malam

11:06:00 AM Brian zenict 0 Comments


Episode kedua dari sebuah cerita yang berkelanjutan.
Episode pertama "Catatan Masa Lalu"
bisa dilihat disini : Catatan Masa Lalu

Lama tak bersua hingga lupa jika tulis tanganku yang memenuhinya. Catatan khas anak perempuan yang tak ingin melupakan apa yang sudah ia dapatkan dari pembelajaran, tepatnya catatan penuh warna dengan rupa-rupa sesukanya.  Ku pandangi lagi catatan itu dan berusaha keras  mengeja ingatan masa lalu. Namun tetap saja, aku lupa.

“Siapa yang pernah meminjamnya ya? kenapa aku tidak ingat sama sekali? Terlebih buku ini masih sangat rapi, padahal mbak Yayuk bilang yang mengembalikan anak laki-laki.”

Ku tinggalkan pertanyaan – pertanyaan yang aku pun belum temukan jawabnya. Tak sadar aku melamun.

“Menepilah aku, jangan hancurkan dinding batas yang telah kau buat dengan keteguhan itu. Jangan berpikir yang itu hanya akan menjadi prasangka. Apabila dirimu mulai lelah, ingatlah kembali nasihat Ali, hanya kebaikan yang akan kekal  sedang lelah akan menghilang dengan sendirinya. Lalu kenapa dengan itu....,” dialog hati yang ku cipta dengan diriku sendiri.

Sampai aku tak menyadari panggilan mbak Yayuk yang  sedari tadi menungguku untuk sholat magrib.
Dengan suara khasnya yang tegas dan tinggi, mbak Yayuk menyergapku dari belakang. “Wulan! Ya ampun, anak ini. Hmmm....”

“Astaghfirulloh mbak.  Pelan – pelan napa, Wulan denger kok. Kaget tau!”

“Jangan bilang kamu belum berwudhu. Jadi dari tadi kamu melamun. Ya ampun dek, cepet wudhu sana!”

“heee... iya..iya,” secepat mungkin aku beranjak.

Kejadian sebelum sholat magrib telah meluruh bersama doa dan dzikir. Mbak Yayuk mengajakku bersantai di teras sambil menunggu waktu Isya’. Aku sok sibuk dengan laptopku, sedang mbak Yayuk dan suaminya jangan ditanya, dunia serasa milik berdua. Entah apa yang sedang dibicarakan, ku perhatikan mereka saling mencadai. Bahagia bersama seseorang yang halal untuknya, begitulah. Menikah, ibarat mengarungi samudera untuk menuju pada tujuan baik yang ingin dituju bersama. Karenanya, menikah tak bisa asal menikah, namun segala sesuatunya harus dipersipkan dengan matang. Tidaklah iman dan takwa berbicara, kecuali kebaikan dan keberkahan hidup yang akan didapat.

“Kamu itu ya dek, untung  adekku satu-satunya. Eh, mbak penasaran loh, kamu tadi mikirin apa?” mbak Yayuk yang mulai mengakui keberadaanku.

Ups meleset, ternyata kejadian tadi belum benar-benar dilupakan oleh mbak Yayuk. “Iya, adek minta maaf. Emm...?”

“Paling mikirin siapa yang ngembaliin buku? Hhhh... Penasaran ya? Kasihan adekku.”

“Iya mbak, siapa ya mbak? Adek lupa.”

“Kalok mbak perhatikan,  wajahnya sih tidak asing tapi mbak juga nggak ingat siapa dia.”

“Yasudahlah mbak, InsyaAllah nanti juga tau sendiri. Ohya bapak sama ibuk gimana?” aku mencoba mengalihkan pembicaraan untuk menemukan jawaban semalam.

“Gimana apanya? Ya baik-baik sajalah dek.”

“Yah, mbak Yayuk sama mas Rahmad ndak peka. Ini itu masalah adek ikut program mengajar keluar Jawa. Kemarin bapak sama ibuk diam saja. Apa itu artinya adek diijinkan?”

Program mengajar ke luar Jawa adalah program yang penempatannya pada wilayah-wilayah terpencil di seluruh Indonesia. Banyak teman-temanku yang sudah mendaftar, sedang aku berulang kali merayu namun tetap saja “NIHIL”. Bulan ini pendaftaran sudah dibuka, aku kembali mencoba dengan meyakinkan jika program ini baik. Setidaknya aku telah mencoba.

Dengan nada kedewasaan, mbak Yayuk mencoba memberi pengertian.”Sudahlah dek. Dimana pun kamu mengajar, yang terpenting semua kamu lakukan karena Allah. Kuatkan niatmu dengan mengamalkan ilmu yang sudah kamu dapatkan. Adek juga paham kan, jika ridho Allah ada di ridho ke dua orang tua.”

“Ya mbak, adek ngerti kok. Adek nggak maksa,” sempat merasa kecewa tapi yakin jika setiap kejadian akan ada hikmah tersendiri.

“Adekku bukan lagi anak kecil yang harus dimanja. Ibarat burung,  adek sekarang sudah waktunya untuk terbang, meski jangkauan itu tak terlalu jauh tapi cobalah untuk terbang tinggi, kemudian amati sekelilingmu dan latihlah sayapmu untuk terbang lama. Jadi ketika mereka sudah percaya, akan ada waktu untuk adek terbang jauh.” Inilah yang ku suka dari kedewasan mbak Yayuk, dengan kelembutan hatinya ia paham betul jika aku sedang kecewa.

“tenang Wulan, rejeki itu Allah yang ngatur termasuk jodoh. Kamu cukup berusaha dan banyakin doamu,” mas Rahmad yang tiba-tiba menyela.
” Ayo siap-siap Isya.”

“siip.” Jari jempol penanda jika aku baik-baik saja.
***
Kembali menyendiri, menikmati alur perjalanan hari ini.  Aku menyiapkan materi  untuk mengajar esok hari, menyelesaikan yang harus diselesaikan dan memperbaiki yang harus dibaikkan. Menyempatkan untuk membuat coretan pada mading dengan tulisan apa yang ingin diraih untuk esok hari.

Sejenak pandangku kembali tertuju pada buku catatan yang baru pulang. Beberapa halaman ku buka, aku tersenyum sendiri melihat pola warna yang masih tetap sama.


”Dan kamu. Kenapa kamu baru pulang sekarang?”



15 Juni 2016

ditulis oleh shy
*fiktif
Spesial Ramadhan



Sourcephoto : http://www.1freewallpapers.com/city-aeyaey-street-benches-light-lights-bench-night-mood/id


0 komentar: