Pertemuan
Sesi terakhir dari sebuah cerita berkelanjutan
Episode pertama : Catatan Masa Lalu
Episode kedua : Dialog Malam
Episode ketiga : Pertemuan
Happy Reading !
Parkiran masih sepi,
terhitung ada 4 motor bertengger disana dijaga oleh pak Jukir (Juru parkir). Kami
memasuki ruangan dan disambut oleh sederetan buku – buku dengan berbagai
katalog membujur memanjang. Togamas disini tak sebesar ketika kudapati di pusat
kota Surabaya. Namun ku rasa koleksi bukunya cukup lengkap untuk ukuran toko
buku di kota kecil tempatku berada. Total ada 30 rak buku terbagi menjadi 3
baris berada di pusat ruangan. Ditambah setiap dinding juga dipasang rak untuk
memajang buku – buku dengan berbagai kategori. Aku langsung menuju rak
bertuliskan kategori pendidikan. Aku membutuhkan beberapa buku untuk bahan ajar
esok hari.
“Neng, aku ke rak
parenting aja ya,”ucap Fitri. Kalau keluar rumah aku selalu mencari teman
karena itu merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan izin Ibu. Entahlah,
sebagai seorang perempuan, Ibu menjaga benar anaknya yang satu ini yaitu aku.
Beliau selalu berpesan,” tidak baik anak perempuan keluar rumah sendirian tanpa
ada mahramnya. Apa kata orang nanti.” Hari ini bapak sedang ke rumah Budhe, Kak
Rahmat dan Mbak Yayuk pergi ke pasar. Akhirnya ku seret aja Fitri untuk
menemani.
“Ok Fit. Nanti aku
menyusul kesana,”balasku.
Cukup banyak koleksi buku –
buku pendidikan disini, akhirnya ku temukan buku yang ku cari. Harganya lumayan,
aku mengambil dua buku kemudian menuju rak Agama. Koleksi buku – buku karya penulis
besar juga lumayan banyak. Ingin rasanya ku beli semua, sayang uang yang
tersisa hanya mensyaratkan memilih satu saja. Setelah menimbang dan berbagai
perhitungan ku putuskan membeli buku ‘Menjadi Wanita Paling Bahagia’ yang tertulis
secara gamblang di atas cover bersampul merah menyala. Buku itu merupakan buku
kedua best seller yang ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni, setelah karya
pertamanya bertajuk ‘La Tahzan’. Siapa yang tidak ingin menjadi wanita paling bahagia?
Berikutnya ke rak
parenting, aku penasaran buku yang akan dibelli Fitri. “Buku parenting?”
gumamku dalam hati tersenyum geli. Sudah siap nikah dia rupanya.
“Hai Fit, beli buku a… pa?”
kata-kataku tertahan. Bibirku kelu, bisu. Tubuhku seketika membeku.
“Assalamu’alaikum Wulan,
gimana kabar?”kata-katanya mengalun pelan, tenang. Suaranya meruntuhkan dinding
hati yang dengan susah payah ku bangun sampai detik ini. Bendungan itu akhirnya
jebol, arusnya begitu deras membasahi hati yang kering oleh rindu. Melihat mu
saat ini seperti hujan di padang gersang seketika menumbuhkan berbagai warna
bunga mengharum wangi. Tumbuh pula disana bunga melati yang lama ku nanti. ‘Apa
kabarmu Fahmi?’ gumamku dalam hati.
“Ehm, “
“Eh iya, wa’alaikumussalam,”
suara Fitri membuyarkan lamunanku.
“Alhamdulillah sae,
Fahmi sendiri?” lanjutku.
“Iya sendiri. Sekarang jadinya
bertiga,” ucapmu dengan senyuman khas milikmu itu.
“Eh maksudnya kabar Fahmi
gimana?” balasku agak kesal, leluconmu masih sama, tidak berubah. Selalu bermain
dengan kata-kata.
“hahaha alhamdulillah seperti
yang terlihat,”ucapmu kemudian.
“terlihat makin kurus Mi,”kali
ini balas Fitri.
“hehehe iya, lagi banyak
pikiran.”
“hayoo memikirkan siapa?”
goda Fitri.
“Memikirkan calon istri,
hahaha” candamu kali ini membuat nadiku berhenti.
“Mau menikah?”spontan
keluar dari mulutku begitu saja.
“iya,”balasmu singkat. Tajam.
Seolah menghujam ulu hati. Mataku mengerjap tak percaya. Kenapa kamu masih memahat
wajah senyum saat mengatakannya? Tidakkah kamu tengok hatiku yang berwajah muram
durja?
“dengan siapa?” balas
Fitri cepat.
“dengan muslimah tentunya,”
jawabmu tenang. Sedangkan hatiku berisik. Entah perasaan apa kali ini yang
mengusikku. Aku semakin tenggelam dalam diam.
Fitri menoleh ke arahku. Aku
tetap diam.
“kapan? Cepat sekali ya,
seperti baru kemarin kita wisuda bersama. Dan kali ini sudah mau berkeluarga.”
“Cepat atau lambat kita juga
akan mulai berkeluarga, pertanyaannya sejauh mana persiapan kita untuk
memulainya. Fitri dan Neng Wulan kapan?”
“Aku? masih nunggu
pangeran berkuda putih turun dari kayangan,” ucap Fitri sambil terkekeh. Kamu pun
ikut tertawa. Seketika suaramu redam, kamu menoleh kepadaku.
“Neng Wulan?” ucapmu.
“Eh iya. Kalau aku masih
perlu banyak persiapan. Sambil menunggu Allah yang mempersatukan, aku memilih
untuk memperbaiki diri dulu saja,”ucapku tergagap dengan hati tak karuan.
“sampai kapan
persiapannya?”balasmu serius. Tak pernah ku lihat raut wajahmu seserius ini
sebelumnya. Kamu selalu mengundang tanya.
“sampai ada yang
mengkhitbah toh Mi,”suara Fitri memecah ketegangan. Dan kamu kembali tersenyum.
Akhirnya kamu undur diri, kembali pergi dengan segudang tanda tanya yang selalu
tak ku mengerti. Aku masih tak memahami sikapmu, atau mungkin aku sendiri yang
tak mengerti dengan perasaan yang bersemayam selama ini. Seketika bayanganmu
berangsur hilang membawa cahaya-cahaya harapan yang pernah menerangi hati.
Apakah kamu sungguh –
sungguh dengan ucapanmu itu, Fahmi?
Selesai ditulis 22 Juni
2016, dini hari 1.03 am
oleh Brianzenict
*fiktif
Spesial Ramadhan
Sourcephoto: https://new.vk.com/club67430076










0 komentar: