Pertemuan

1:12:00 AM Brian zenict 0 Comments



Sesi terakhir dari sebuah cerita berkelanjutan
Episode pertama : Catatan Masa Lalu
Episode kedua : Dialog Malam
Episode ketiga : Pertemuan

Happy Reading !

Parkiran masih sepi, terhitung ada 4 motor bertengger disana dijaga oleh pak Jukir (Juru parkir). Kami memasuki ruangan dan disambut oleh sederetan buku – buku dengan berbagai katalog membujur memanjang. Togamas disini tak sebesar ketika kudapati di pusat kota Surabaya. Namun ku rasa koleksi bukunya cukup lengkap untuk ukuran toko buku di kota kecil tempatku berada. Total ada 30 rak buku terbagi menjadi 3 baris berada di pusat ruangan. Ditambah setiap dinding juga dipasang rak untuk memajang buku – buku dengan berbagai kategori. Aku langsung menuju rak bertuliskan kategori pendidikan. Aku membutuhkan beberapa buku untuk bahan ajar esok hari.

“Neng, aku ke rak parenting aja ya,”ucap Fitri. Kalau keluar rumah aku selalu mencari teman karena itu merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan izin Ibu. Entahlah, sebagai seorang perempuan, Ibu menjaga benar anaknya yang satu ini yaitu aku. Beliau selalu berpesan,” tidak baik anak perempuan keluar rumah sendirian tanpa ada mahramnya. Apa kata orang nanti.” Hari ini bapak sedang ke rumah Budhe, Kak Rahmat dan Mbak Yayuk pergi ke pasar. Akhirnya ku seret aja Fitri untuk menemani.

“Ok Fit. Nanti aku menyusul kesana,”balasku.

Cukup banyak koleksi buku – buku pendidikan disini, akhirnya ku temukan buku yang ku cari. Harganya lumayan, aku mengambil dua buku kemudian menuju rak Agama. Koleksi buku – buku karya penulis besar juga lumayan banyak. Ingin rasanya ku beli semua, sayang uang yang tersisa hanya mensyaratkan memilih satu saja. Setelah menimbang dan berbagai perhitungan ku putuskan membeli buku ‘Menjadi Wanita Paling Bahagia’ yang tertulis secara gamblang di atas cover bersampul merah menyala. Buku itu merupakan buku kedua best seller yang ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni, setelah karya pertamanya bertajuk ‘La Tahzan’. Siapa yang tidak ingin menjadi wanita paling bahagia?  

Berikutnya ke rak parenting, aku penasaran buku yang akan dibelli Fitri. “Buku parenting?” gumamku dalam hati tersenyum geli. Sudah siap nikah dia rupanya.

“Hai Fit, beli buku a… pa?” kata-kataku tertahan. Bibirku kelu, bisu. Tubuhku seketika membeku.

“Assalamu’alaikum Wulan, gimana kabar?”kata-katanya mengalun pelan, tenang. Suaranya meruntuhkan dinding hati yang dengan susah payah ku bangun sampai detik ini. Bendungan itu akhirnya jebol, arusnya begitu deras membasahi hati yang kering oleh rindu. Melihat mu saat ini seperti hujan di padang gersang seketika menumbuhkan berbagai warna bunga mengharum wangi. Tumbuh pula disana bunga melati yang lama ku nanti. ‘Apa kabarmu Fahmi?’ gumamku dalam hati.

“Ehm, “

“Eh iya, wa’alaikumussalam,” suara Fitri membuyarkan lamunanku.
“Alhamdulillah sae, Fahmi sendiri?” lanjutku.

“Iya sendiri. Sekarang jadinya bertiga,” ucapmu dengan senyuman khas milikmu itu.

“Eh maksudnya kabar Fahmi gimana?” balasku agak kesal, leluconmu masih sama, tidak berubah. Selalu bermain dengan kata-kata.

“hahaha alhamdulillah seperti yang terlihat,”ucapmu kemudian.

“terlihat makin kurus Mi,”kali ini balas Fitri.

“hehehe iya, lagi banyak pikiran.”

“hayoo memikirkan siapa?” goda Fitri.

“Memikirkan calon istri, hahaha” candamu kali ini membuat nadiku berhenti.

“Mau menikah?”spontan keluar dari mulutku begitu saja.

“iya,”balasmu singkat. Tajam. Seolah menghujam ulu hati. Mataku mengerjap tak percaya. Kenapa kamu masih memahat wajah senyum saat mengatakannya? Tidakkah kamu tengok hatiku yang berwajah muram durja?

“dengan siapa?” balas Fitri cepat.

“dengan muslimah tentunya,” jawabmu tenang. Sedangkan hatiku berisik. Entah perasaan apa kali ini yang mengusikku. Aku semakin tenggelam dalam diam.

Fitri menoleh ke arahku. Aku tetap diam.
“kapan? Cepat sekali ya, seperti baru kemarin kita wisuda bersama. Dan kali ini sudah mau berkeluarga.”

“Cepat atau lambat kita juga akan mulai berkeluarga, pertanyaannya sejauh mana persiapan kita untuk memulainya. Fitri dan Neng Wulan kapan?”

“Aku? masih nunggu pangeran berkuda putih turun dari kayangan,” ucap Fitri sambil terkekeh. Kamu pun ikut tertawa. Seketika suaramu redam, kamu menoleh kepadaku.

“Neng Wulan?” ucapmu.

“Eh iya. Kalau aku masih perlu banyak persiapan. Sambil menunggu Allah yang mempersatukan, aku memilih untuk memperbaiki diri dulu saja,”ucapku tergagap dengan hati tak karuan.

“sampai kapan persiapannya?”balasmu serius. Tak pernah ku lihat raut wajahmu seserius ini sebelumnya. Kamu selalu mengundang tanya.

“sampai ada yang mengkhitbah toh Mi,”suara Fitri memecah ketegangan. Dan kamu kembali tersenyum. Akhirnya kamu undur diri, kembali pergi dengan segudang tanda tanya yang selalu tak ku mengerti. Aku masih tak memahami sikapmu, atau mungkin aku sendiri yang tak mengerti dengan perasaan yang bersemayam selama ini. Seketika bayanganmu berangsur hilang membawa cahaya-cahaya harapan yang pernah menerangi hati.

Apakah kamu sungguh – sungguh dengan ucapanmu itu, Fahmi?



Selesai ditulis 22 Juni 2016, dini hari 1.03 am
oleh Brianzenict

*fiktif
Spesial Ramadhan


Sourcephoto: https://new.vk.com/club67430076

0 komentar: