Kunci Hati
Serial cerita berkelanjutan, puzzle ke dua
Seri pertama : Wajah Hujan
Di sebuah kedai kampus berlantai dua, menghampar biru danau tepat di sisinya. Kedai itu sangat sejuk, semilir angin tepian danau bebas keluar masuk. Berisik desau angin menggesek dedaunan dan kicau burung saut menyahut riang bertengger di ranting-ranting, dedahanan. Aku menghela nafas panjang. Sudah hampir sejam aku bertahan di pojok kedai itu, menunggu. Jus apel di depanku sekarang tersisa setengah, aku mulai lelah. Kuletakkan bukuku di meja, meski belum selesai seluruhnya kubaca. Aku melempar pandang ke sisi danau. Angin sore membelai lembut memainkan khimarku. Aku mulai menyerah, sebal. Kurasa tidak seorangpun yang bersahabat dengan kata “menunggu”, termasuk aku.
Kedai
sore ini semakin sepi. Hanya ada sepasang muda mudi duduk berhadapan di sudut
ruangan. Saling bercengkerama tiada bosan. Apa seperti itu orang yang terbakar
api asmara, ketika dua hati bertemu, seolah mereka lupa waktu. Sedangkan di
sudut yang lain ada dua anak muda berhadapan menghadap papan catur, satu
diantaranya memasang wajah senyum penuh kemenangan. Satunya lagi berwajah
serius setengah pucat, menatap tajam bidak catur di depannya, terlihat berpikir
keras tergambar dari raut wajahnya. Kurasa dia bukan tipe orang yang cepat
mengalah oleh keadaan. Dan satu lagi pendatang yang sangat kukenal. Berdiri di
anak tangga, mengedar pandang. Tidak sengaja tatapan kami bertemu, matanya
masih sama seperti dulu, dingin. Aku segera menunduk, mengambil buku yang
tergeletak di meja, pura-pura membaca.
“Assalamu’alaikum,
Zy. Maaf membuatmu lama menunggu.”
Aku
menurunkan sedikit buku bacaan dari wajahku,”Wa’alaikum…salam.” Aku tergagap,
sama seperti sebelum-sebelumnya saat berjumpa. Lidahku selalu kelu saat bertemu
dengannya.
Dia duduk
di depanku. Tersenyum, seperti biasanya. Senyuman khas miliknya, dan mungkin
hanya dia yang punya senyum seperti itu. Aku perlahan menurunkan buku dari
wajahku dan meletakkannya dipangkuanku. Aku mencoba tersenyum, sedikit
kupaksa,”tidak apa.”
Kami diam
sesaat. Aku mencoba menyibukkan diri membolak balik buku, bukan untuk membaca,
melainkan menunggu dia memulai bicara. Entah, aku selalu enggan untuk memulai,
dan lebih nyaman menunggu. Setidaknya itu adab yang aku pelajari dari Ibuku. Meski
menunggu terlalu lama membuatku kesal dan sebal.
“Lahfah
dimana Zy?”akhirnya dia mulai memecah sepi.
“Oh…,
tadi dia ada. Balik ke kos sebentar katanya,”jawabku.
“Oh,”
balasnya singkat.
“Tadi
malam tidur dimana?”
“Eh? Kenapa?”sedikit
kaget, tidak biasanya dia bertanya hal-hal yang pribadi seperti itu. Kullihat
raut wajahnya sesaat, dia tersenyum. Dengan cepat kuatur lensa mataku agar back
focus, terlihat dua pemuda di pojok ruangan menyudahi permaianan caturnya,
beranjak meninggalkan kedai.
“hehehe
tidak apa, kirain tidur di emperan toko,”jawabnya, sedikit ganjil.
“saya numpang
tidur di kos Lahfah. Ada apa sebenarnya Adnan?” tanyaku masih penasaran.
“Nggak
ada, saya hanya ingin mengembalikan buku kamu,”dia menyodorkan buku,
meletakkannya di atas meja, di depanku.
“Makasih
sudah mau minjemi buku catatannya,”lanjutnya.
“sama-sama,”balasku.
“seminggu
lagi wisuda, jadi saya harus mengembalikan buku-buku yang pernah saya pinjam. Bukankah
pinjam itu sama aja dengan hutang, dan hutang harus dibayar sebelum ditagih
kelak di akhirat. Mumpung masih diberi kesempatan untuk kita bertemu,”ucapannya
menyadarkanku, seolah menamparku. Masih ada beberapa tanggungan buku yang belum
kukembalikan.
“iya
benar Adnan, terimakasih,”pandanganku ke wajahnya, namun fokus kepada sepasang
muda mudi yang tadi duduk di belakangnya. Mereka mulai beranjak meninggalkan
ruangan. Bahaya! tinggal aku dan Adnan, berdua di kedai ini.
“Adnan…,”
“Iya,
saya pikir cuman itu keperluanku. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum,”ucapnya
sambil tersenyum, lantas beranjak meninggalkan ruangan. Dan mungkin itu senyum
terakhirnya untukku. Punggungnya lenyap di pintu. Kini aku seorang diri masih
menunggu. Betanya-tanya,”Hanya itu?”
***
Adnan. Dia
yang selalu tahu maksud isyaratku meski tak pernah terucap kata. Dia yang
sangat paham bahwa berdua dengan yang bukan mahramnya itu larangan agama. Dia yang
lebih mengerti arti dari sikapku selama ini yang selalu menundukkan pandangan
saat bertemu adalah semata untuk menjaga diri. Dan bahkan baru aku sadari
maksud dari pertanyaannya saat itu. Dia tahu kalau kunci kamar kosku hilang, pantas
dia senyum-senyum saat menanyakannya, aku tidur dimana.
Ternyata dia
yang menemukannya. Dia selipkan sebuah kunci di tengah-tengah lembar buku yang dikembalikannya. Kenapa kamu seolah tahu tentangku Adnan?
Mungkin sore
itu, di kedai lantai dua, saat senja merah saga, saat angin berhembus syahdu,
saat-saat terakhir kita bertemu. Menjadi akhir dari senyumanmu padaku. Dan mungkin
akhir dari perasaan aneh yang selalu sukses membuat lidahku kelu saat bertemu
denganmu.
Adnan,
apakah hanya kunci kosku yang kamu temukan? Apakah ada kunci lain yang hendak
kamu sembunyikan?
***
Tiga
tahun berlalu, sekarang musim semi di Turki. Kupu-kupu berkejaran menari. Bunga-bunga
merekah indah. Burung-burung bercericit di dedahanan. Aku duduk hening
menikmati panorama Danau Van. Ditengah keramaian para wisatawan, seolah ada
suara yang sangat kukenal. Tepat dibelakang dari tempat dudukku, aku berbalik menoleh
dan membalas salam,”Wa’alaikumussa…lam.”
Adnan?
11 September 2016
ditulis oleh Brianzenict
#Special Dhullhijjah
Sourcephoto: https://id.advisor.travel/poi/Danau-Van-642#photo_ex_77090










0 komentar: