Kunci Hati

8:19:00 AM Brian zenict 0 Comments

Serial cerita berkelanjutan, puzzle ke dua
Seri pertama : Wajah Hujan

Di sebuah kedai kampus berlantai dua, menghampar biru danau tepat di sisinya. Kedai itu sangat sejuk, semilir angin tepian danau bebas keluar masuk. Berisik desau angin menggesek dedaunan dan kicau burung saut menyahut riang bertengger di ranting-ranting, dedahanan. Aku menghela nafas panjang. Sudah hampir sejam aku bertahan di pojok kedai itu, menunggu. Jus apel di depanku sekarang tersisa setengah, aku mulai lelah. Kuletakkan bukuku di meja, meski belum selesai seluruhnya kubaca. Aku melempar pandang ke sisi danau. Angin sore membelai lembut memainkan khimarku. Aku mulai menyerah, sebal. Kurasa tidak seorangpun yang bersahabat dengan kata “menunggu”, termasuk aku.

Kedai sore ini semakin sepi. Hanya ada sepasang muda mudi duduk berhadapan di sudut ruangan. Saling bercengkerama tiada bosan. Apa seperti itu orang yang terbakar api asmara, ketika dua hati bertemu, seolah mereka lupa waktu. Sedangkan di sudut yang lain ada dua anak muda berhadapan menghadap papan catur, satu diantaranya memasang wajah senyum penuh kemenangan. Satunya lagi berwajah serius setengah pucat, menatap tajam bidak catur di depannya, terlihat berpikir keras tergambar dari raut wajahnya. Kurasa dia bukan tipe orang yang cepat mengalah oleh keadaan. Dan satu lagi pendatang yang sangat kukenal. Berdiri di anak tangga, mengedar pandang. Tidak sengaja tatapan kami bertemu, matanya masih sama seperti dulu, dingin. Aku segera menunduk, mengambil buku yang tergeletak di meja, pura-pura membaca.

“Assalamu’alaikum, Zy. Maaf membuatmu lama menunggu.”
Aku menurunkan sedikit buku bacaan dari wajahku,”Wa’alaikum…salam.” Aku tergagap, sama seperti sebelum-sebelumnya saat berjumpa. Lidahku selalu kelu saat bertemu dengannya.

Dia duduk di depanku. Tersenyum, seperti biasanya. Senyuman khas miliknya, dan mungkin hanya dia yang punya senyum seperti itu. Aku perlahan menurunkan buku dari wajahku dan meletakkannya dipangkuanku. Aku mencoba tersenyum, sedikit kupaksa,”tidak apa.”

Kami diam sesaat. Aku mencoba menyibukkan diri membolak balik buku, bukan untuk membaca, melainkan menunggu dia memulai bicara. Entah, aku selalu enggan untuk memulai, dan lebih nyaman menunggu. Setidaknya itu adab yang aku pelajari dari Ibuku. Meski menunggu terlalu lama membuatku kesal dan sebal.

“Lahfah dimana Zy?”akhirnya dia mulai memecah sepi.

“Oh…, tadi dia ada. Balik ke kos sebentar katanya,”jawabku.

“Oh,” balasnya singkat.
“Tadi malam tidur dimana?”

“Eh? Kenapa?”sedikit kaget, tidak biasanya dia bertanya hal-hal yang pribadi seperti itu. Kullihat raut wajahnya sesaat, dia tersenyum. Dengan cepat kuatur lensa mataku agar back focus, terlihat dua pemuda di pojok ruangan menyudahi permaianan caturnya, beranjak meninggalkan kedai.

“hehehe tidak apa, kirain tidur di emperan toko,”jawabnya, sedikit ganjil.

“saya numpang tidur di kos Lahfah. Ada apa sebenarnya Adnan?” tanyaku masih penasaran.

Nggak ada, saya hanya ingin mengembalikan buku kamu,”dia menyodorkan buku, meletakkannya di atas meja, di depanku.

“Makasih sudah mau minjemi buku catatannya,”lanjutnya.

“sama-sama,”balasku.

“seminggu lagi wisuda, jadi saya harus mengembalikan buku-buku yang pernah saya pinjam. Bukankah pinjam itu sama aja dengan hutang, dan hutang harus dibayar sebelum ditagih kelak di akhirat. Mumpung masih diberi kesempatan untuk kita bertemu,”ucapannya menyadarkanku, seolah menamparku. Masih ada beberapa tanggungan buku yang belum kukembalikan.

“iya benar Adnan, terimakasih,”pandanganku ke wajahnya, namun fokus kepada sepasang muda mudi yang tadi duduk di belakangnya. Mereka mulai beranjak meninggalkan ruangan. Bahaya! tinggal aku dan Adnan, berdua di kedai ini.

“Adnan…,”

“Iya, saya pikir cuman itu keperluanku. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum,”ucapnya sambil tersenyum, lantas beranjak meninggalkan ruangan. Dan mungkin itu senyum terakhirnya untukku. Punggungnya lenyap di pintu. Kini aku seorang diri masih menunggu. Betanya-tanya,”Hanya itu?”

***

Adnan. Dia yang selalu tahu maksud isyaratku meski tak pernah terucap kata. Dia yang sangat paham bahwa berdua dengan yang bukan mahramnya itu larangan agama. Dia yang lebih mengerti arti dari sikapku selama ini yang selalu menundukkan pandangan saat bertemu adalah semata untuk menjaga diri. Dan bahkan baru aku sadari maksud dari pertanyaannya saat itu. Dia tahu kalau kunci kamar kosku hilang, pantas dia senyum-senyum saat menanyakannya, aku tidur dimana.

Ternyata dia yang menemukannya. Dia selipkan sebuah kunci di tengah-tengah lembar buku yang dikembalikannya. Kenapa kamu seolah tahu tentangku Adnan?

Mungkin sore itu, di kedai lantai dua, saat senja merah saga, saat angin berhembus syahdu, saat-saat terakhir kita bertemu. Menjadi akhir dari senyumanmu padaku. Dan mungkin akhir dari perasaan aneh yang selalu sukses membuat lidahku kelu saat bertemu denganmu.

Adnan, apakah hanya kunci kosku yang kamu temukan? Apakah ada kunci lain yang hendak kamu sembunyikan?

***

Tiga tahun berlalu, sekarang musim semi di Turki. Kupu-kupu berkejaran menari. Bunga-bunga merekah indah. Burung-burung bercericit di dedahanan. Aku duduk hening menikmati panorama Danau Van. Ditengah keramaian para wisatawan, seolah ada suara yang sangat kukenal. Tepat dibelakang dari tempat dudukku, aku berbalik menoleh dan membalas salam,”Wa’alaikumussa…lam.”


Adnan?



11 September 2016
ditulis oleh Brianzenict

#Special Dhullhijjah


Sourcephoto: https://id.advisor.travel/poi/Danau-Van-642#photo_ex_77090

0 komentar: