Potongan yang usang
Setiap kali pulang,
potongan-potongan kenangan itu kembali membayang
di jalanan yang berlubang,
pada setapak jalan di pematang,
di jalanan yang berlubang,
pada setapak jalan di pematang,
bangku-bangku sekolah yang usang,
di tepian tanah yang lapang,
beringin yang lebat menjulang,
aku biasa bersandar disana, saat siang.
menunggu bel masuk kelas berdentang.
di tepian tanah yang lapang,
beringin yang lebat menjulang,
aku biasa bersandar disana, saat siang.
menunggu bel masuk kelas berdentang.
lagi dan lagi,
kulewati jalanan yang dulu pernah kuberlari
terlambat sekolah sesekali
dan selalu beruntung guru tidak mengetahui
menyelinap, masuk, saat kelas sedang sepi
kulewati jalanan yang dulu pernah kuberlari
terlambat sekolah sesekali
dan selalu beruntung guru tidak mengetahui
menyelinap, masuk, saat kelas sedang sepi
sekali lagi potongan itu kembali
aku selalu tersenyum, sendiri
hingga aku sampai dititik ini, berdiri
Bukankah terlalu naif dan dusta besar bila semua ini
kuanggap sebagai kebetulan yang memabukkan
kita boleh mabuk, asal selalu sadar bahwa
Allah selalu punya cerita untuk kita
Allah selalu ada, melihat, mendengarkan
aku selalu tersenyum, sendiri
hingga aku sampai dititik ini, berdiri
Bukankah terlalu naif dan dusta besar bila semua ini
kuanggap sebagai kebetulan yang memabukkan
kita boleh mabuk, asal selalu sadar bahwa
Allah selalu punya cerita untuk kita
Allah selalu ada, melihat, mendengarkan
Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?
#Saat pulang
#SebuahPerjalanan










0 komentar: