Secangkir Rindu di Tepi Pantai

9:53:00 PM Brian zenict 0 Comments


Masih teringat jelas beberapa bulan silam tersusun rapi sebuah rencana beserta segala pernak – perniknya tertuang dalam kertas dan ditemani secangkir kopi. Dan berujung pada secangkir rindu di dalam hati.

Perjalanan cinta kini sampai ke sebuah pantai Kondang Merak (tertulis pada papan gapura saat memasuki kawasan pantai), Malang. Perjalanan cinta bukanlah sebuah perjalanan yang mudah dan selalu menyenangkan, namun tersirat makna cinta di setiap jengkal langkahnya. Bagi yang mau memahami dan menikmati perjalanan ini. Dan akhirnya perjalanan ini dimulai dengan motivasi, just do it.

Tak kusangka aku bisa menikmati dinginnya pantai saat malam hari, menikmati makanan khas anak kemahan, nasi hitam (nasi gosong maksudnya). Pun merasakan asinnya air laut, meski ada yang bilang air laut itu tawar, orang itu hanya berusaha agar ada yang membuktikan kebenarannya (padahal dia sendiri sudah tahu jawabannya). Dan yang menarik lagi aku pun melakukan pemutihan kulit, dengan  cara menggosok kulit dengan pasir di tengah terik matahari. Tak kusangka metode itu aku lakukan tanpa meneliti lebih jauh sumber jelasnya darimana. Hanya sekedar percaya dari seorang teman yang benar – benar konyol pada akhirnya. Bukan putih, yang ada malah makin gelap.

Meski banyak pengalaman asin yang aku lalui selama perjalanan ke pantai Kondang Merak. Mulai dari anggaran dana yang sangat minim saat itu, motor yang susah di ajak kompromi saat melewati jalanan terjal dan berbatu, dinginnya malam yang menusuk tulang – tulangku, dan pahitnya nasi hitam ala jomblo yang masih belajar menjadi suami teladan buat istrinya nanti. Semua pengalaman itu adalah sebuah bentuk dari cinta yang aku lalui bersama teman.

Nasi yang pahit terasa biasa saja karena banyak yang merasakan, dinginnya malam terasa hangat karena tidur yang saling berhimpitan ( 5 orang dalam 1 tenda ), beratnya perjalanan terasa ringan karena saling beriringan, bersama teman. Teman adalah sebuah perjalanan cinta yang tak terbilang harganya karena ia bersifat abstrak namun indah menelisik ke dalam dada.

Akhirnya secangkir rindu itu telah ku seruput perlahan di tepian pantai yang menyegarkan.

Lebih baik jalan dulu baru berencana daripada berencana dan tak berjalan pada akhirnya.
(Berlaku pada episode ini)


6 syawal 1436 H

Memori,




0 komentar: