Secangkir Rindu di Tepi Pantai
Masih
teringat jelas beberapa bulan silam tersusun rapi sebuah rencana beserta segala
pernak – perniknya tertuang dalam kertas dan ditemani secangkir kopi. Dan
berujung pada secangkir rindu di dalam hati.
Perjalanan
cinta kini sampai ke sebuah pantai Kondang Merak (tertulis pada papan
gapura saat memasuki kawasan pantai), Malang. Perjalanan cinta bukanlah sebuah
perjalanan yang mudah dan selalu menyenangkan, namun tersirat makna cinta di
setiap jengkal langkahnya. Bagi yang mau memahami dan menikmati perjalanan ini.
Dan akhirnya perjalanan ini dimulai dengan motivasi, just do it.
Tak
kusangka aku bisa menikmati dinginnya pantai saat malam hari, menikmati makanan
khas anak kemahan, nasi hitam (nasi gosong maksudnya). Pun merasakan
asinnya air laut, meski ada yang bilang air laut itu tawar, orang itu hanya
berusaha agar ada yang membuktikan kebenarannya (padahal dia sendiri sudah tahu
jawabannya). Dan yang menarik lagi aku pun melakukan pemutihan kulit,
dengan cara menggosok kulit dengan pasir
di tengah terik matahari. Tak kusangka metode itu aku lakukan tanpa meneliti
lebih jauh sumber jelasnya darimana. Hanya sekedar percaya dari seorang teman
yang benar – benar konyol pada akhirnya. Bukan putih, yang ada malah makin
gelap.
Meski
banyak pengalaman asin yang aku lalui selama perjalanan ke pantai Kondang
Merak. Mulai dari anggaran dana yang sangat minim saat itu, motor yang susah di
ajak kompromi saat melewati jalanan terjal dan berbatu, dinginnya malam yang
menusuk tulang – tulangku, dan pahitnya nasi hitam ala jomblo yang masih
belajar menjadi suami teladan buat istrinya nanti. Semua pengalaman itu adalah
sebuah bentuk dari cinta yang aku lalui bersama teman.
Nasi
yang pahit terasa biasa saja karena banyak yang merasakan, dinginnya malam
terasa hangat karena tidur yang saling berhimpitan ( 5 orang dalam 1 tenda ),
beratnya perjalanan terasa ringan karena saling beriringan, bersama teman.
Teman adalah sebuah perjalanan cinta yang tak terbilang harganya karena ia
bersifat abstrak namun indah menelisik ke dalam dada.
Akhirnya
secangkir rindu itu telah ku seruput perlahan di tepian pantai yang menyegarkan.
Lebih baik jalan dulu baru
berencana daripada berencana dan tak berjalan pada akhirnya.
(Berlaku pada episode ini)










0 komentar: