Catatan Masa Lalu
Ini serial cerita berkelanjutan dan akan dibawakan oleh penulis yang berbeda setiap episodenya. Saya mendapat giliran pertama.
Selamat Membaca !
Senja
kali ini mengantarkanku pada siluet masa lalu yang menjelma menjadi sebuah
karangan rindu. Wajahnya kembali membayang diantara bebunga melati yang mulai
bermekaran di taman surau. Bunga ini kesukaanya dulu. Tak banyak ku
mengenalnya, lebih tepatnya aku tak ingin melangkah lebih jauh untuk mengetahui
segala tentangnya. Karena pertemuan tak lain adalah bilah sisi dari sebuah
perpisahan.
“Neng
Wulan, giliran zizi yang ngaji ya,”celetuk zizi salah satu santri ngaji yang
sukses membuyarkan lamunanku.
“eh
iya, monggo adek zizi. Neneng yang semak,”ucapku padanya.
Pasca
wisuda dan menyandang gelar S.Pd. aku mulai aktif mengajar ngaji di surau dekat
rumah. Tidak terlalu banyak memang santri yang ngaji di surau ini, jumlahnya
bisa dihitung dengan jari. Aku ditemani oleh teman seperjuanganku sejak duduk
di sekolah dasar sampai SMP dengan sukarela menjadi pengajar bagi santri –
santri di desa kecil tempat ku tinggal.
“Jangan
ngelamun terus Neng. Disemak yang bener adiknya,” bisiknya sambil terkekeh. Dia
adalah teman setiaku, Fitri namanya.
“Sampean
juga Fit, jangan HP an aja. hehehe,”sahutku tak mau kalah.
“hehehe
iya iya,”balasnya.
Waktu
mengaji dimulai ba’da sholat ashar sampai pukul 5 sore. Setiap hari Jum’at,
Sabtu, dan Minggu. Aku sekarang juga sudah mulai mengabdi menjadi pengajar Sekolah
Dasar di tetangga dusun sebelah. Pasca wisuda, aku memang berniat mengabdi di
desa menjadi guru. Ingin berkontribusi dalam menciptakan generasi – generasi unggulan
yang bermoral dan memiliki akhlaqul karimah. Karena menurutku sudah terlalu
banyak orang yang pintar dan kaya namun miskin moral dan keteladanan. Ahamdulillah
3 bulan setelah pendaftaran guru akhirnya aku dapat panggilan untuk mengajar.
“baik
adek – adek, sudah jam 5 sore. Kita lanjutkan ngajinya besok minggu ya.” Ucapku
kepada para santri yang masih lugu-lugu dan menggemaskan. Sebagian besar dari
mereka masih duduk dibangku kelas satu Sekolah Dasar.
“baik
Neng,”ucap mereka hampir bersamaan.
“insyaaAllah
Neng Wulan, semoga tidak ketiduran,”kali ini suara Sindi seorang diri sambil
cengengesan.
“iya
iya ntar biar Mbak Fitri yang bangunin Sindi,”kataku sambil tersenyum.
“Hehehe
iya, nanti Mbak siram air kalau tidak bangun – bangun,”lanjut Fitri.
Suara
tawa para santri pecah memenuhi surau yang tak terlalu besar itu. Terbawa angin
dan menggema ke jalan – jalan dan pepohonan. Karena memang surau itu terbuka,
tak berdinding. Hanya tiang – tiang dari kayu sebagai penyangganya. Atapnya berupa
genting yang sudah dimakan usia. Setiap sisi terdapat berbagai macam bunga
tumbuh indah memberikan kesegaran mata. Tumbuh pula bunga melati yang mulai
merekah mewangi baunya. Aku kembali teringat sosoknya.
“sampai
kapan Neng?” ucap Fitri tiba-tiba.
Kami
menapaki jalanan desa yang masih berupa tanah. Tak jauh, hanya perlu melewati
beberapa hunian warga untuk sampai ke rumah.
“Apanya?”tanyaku
tak mengerti.
“Terus
ingat dia,”ucap Fitri sambil menggoda.
“Dia
siapa?”balasku seolah tak tahu, tapi sebenarnya aku mengerti alur
percakapannya.
“Si
Fahmi, siapa lagi,” lanjutnya sambil senyum – senyum.
Aku
terdiam. Ku biarkan khimarku berkibar oleh sapuan lembut angin senja. Bayangannya
kembali bergelayut di pikiranku. Ku coba menepisnya. Bagaimanapun dia bukanlah
siapa-siapaku, begitu sebaliknya. Bukankah pertemuan itu pangkal perpisahan. Dia
hanya akan menjadi seikat kenangan dan setangkai pelajaran. Karena sesungguhnya
kehidupan hanyalah bagian dari episode – episode cerita yang telah ditulisNya.
“Tahu
ah, sampai ketemu besok sore ya Fit,” ucapku kemudian sambil melambaikan
tangan.
“Assalamu’alaikum,”
“wa’alaikumussalam.”
***
“Dek,
tadi ada yang nyariin sampean,” ucap kakakku tiba-tiba saat memasuki rumah.
“siapa?”tanyaku.
“seorang
cowok, lupa tadi Mbak tidak menanyakan namanya.”
“Hemm,
emang dia ngapain kesini Mbak?”
“Hayoo
siapa dia?”tanyanya lagi.
“gimana
toh mbak, mana Wulan tahu. Kan yang ketemu dengannya Mbak, bukan Wulan. Jawab pertanyaan
Wulan gantian,” ucapku.
“Dia
nitipin sebuah buku. Katanya milik sampean. Adek aku ini tidak lagi pacaran
kan?” tanyanya membuatku sedikit kaget.
“Mana
berani toh Mbak, bisa-bisa dimarahi Bapak sama Ibuk nanti,” kataku.
“Oh
ya Ibuk mana Mbak?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Lagi
keluar sama Bapak,”
“Oh
ya mana bukunya Mbak, aku lihat,”pintaku.
“Aku
taruh di kamar Wulan. Ya udah Mbak mau wudhu dulu. Kita sholat maghrib jamaah,”ucap
Mbak Yayuk. Aku langsung menuju kamar, penasaran.
Tergeletak
di meja sebuah buku catatan. Tak asing bagiku. Ku buka isinya, ternyata itu
adalah catatan Bahasa Inggrisku saat SMA dulu. “Kok bisa”pikirku.
Aku
mencoba mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang yang dulu meminjam
buku catatanku. Parahnya baru aku sadar kalau buku catatanku ternyata ada yang
minjam. Siapakah kamu?
ditullis 14 Juni 2016
oleh Brianzenict
oleh Brianzenict
*fiktif
Spesial Ramadhan
Sourcephoto: https://www.bukalapak.com/p/buku/lain-lain-506/9qxya-jual-buku-peekmybook-the-notebook-buku-catatan-agenda










dek, assalamu'alaikum. mau komentar ttg tulisannya boleh yaa. mungkin bisa lebih diperhatikan lagi tulisannya, kalau mau menggunakan bahasa baku ya ditulis bahasa baku semua. kalau ada yg singkatan atau kata2 jawa dan bahasa asing lain bisa dimiringkan hurufnya.
BalasHapusterus juga mengenai kata serapan, tolong dikoreksi lagi seperti kata "akhlaq" td ditulis aklaq.
mohon maaf.
Wa'alaykumussalam.
Hapuswah iya Mbak, makasih banyak koreksinya.
Hehehe sepertinya saya butuh seorang editor nih.
Mungkin tulisan saya yang lain bisa bantu ngoreksi mbak..?
hehehe
bolehlah dicoba, hhe bagus-bagus kok tulisannya
Hapus