Catatan Masa Lalu

12:35:00 AM Brian zenict 3 Comments


Ini serial cerita berkelanjutan dan akan dibawakan oleh penulis yang berbeda setiap episodenya. Saya mendapat giliran pertama. 
Selamat Membaca !



Senja kali ini mengantarkanku pada siluet masa lalu yang menjelma menjadi sebuah karangan rindu. Wajahnya kembali membayang diantara bebunga melati yang mulai bermekaran di taman surau. Bunga ini kesukaanya dulu. Tak banyak ku mengenalnya, lebih tepatnya aku tak ingin melangkah lebih jauh untuk mengetahui segala tentangnya. Karena pertemuan tak lain adalah bilah sisi dari sebuah perpisahan.

“Neng Wulan, giliran zizi yang ngaji ya,”celetuk zizi salah satu santri ngaji yang sukses membuyarkan lamunanku.

“eh iya, monggo adek zizi. Neneng yang semak,”ucapku padanya.

Pasca wisuda dan menyandang gelar S.Pd. aku mulai aktif mengajar ngaji di surau dekat rumah. Tidak terlalu banyak memang santri yang ngaji di surau ini, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Aku ditemani oleh teman seperjuanganku sejak duduk di sekolah dasar sampai SMP dengan sukarela menjadi pengajar bagi santri – santri di desa kecil tempat ku tinggal.

“Jangan ngelamun terus Neng. Disemak yang bener adiknya,” bisiknya sambil terkekeh. Dia adalah teman setiaku, Fitri namanya.

Sampean juga Fit, jangan HP an aja. hehehe,”sahutku tak mau kalah.

“hehehe iya iya,”balasnya.

Waktu mengaji dimulai ba’da sholat ashar sampai pukul 5 sore. Setiap hari Jum’at, Sabtu, dan Minggu. Aku sekarang juga sudah mulai mengabdi menjadi pengajar Sekolah Dasar di tetangga dusun sebelah. Pasca wisuda, aku memang berniat mengabdi di desa menjadi guru. Ingin berkontribusi dalam menciptakan generasi – generasi unggulan yang bermoral dan memiliki akhlaqul karimah. Karena menurutku sudah terlalu banyak orang yang pintar dan kaya namun miskin moral dan keteladanan. Ahamdulillah 3 bulan setelah pendaftaran guru akhirnya aku dapat panggilan untuk mengajar.

“baik adek – adek, sudah jam 5 sore. Kita lanjutkan ngajinya besok minggu ya.” Ucapku kepada para santri yang masih lugu-lugu dan menggemaskan. Sebagian besar dari mereka masih duduk dibangku kelas satu Sekolah Dasar.

“baik Neng,”ucap mereka hampir bersamaan.

“insyaaAllah Neng Wulan, semoga tidak ketiduran,”kali ini suara Sindi seorang diri sambil cengengesan.

“iya iya ntar biar Mbak Fitri yang bangunin Sindi,”kataku sambil tersenyum.

“Hehehe iya, nanti Mbak siram air kalau tidak bangun – bangun,”lanjut Fitri.
Suara tawa para santri pecah memenuhi surau yang tak terlalu besar itu. Terbawa angin dan menggema ke jalan – jalan dan pepohonan. Karena memang surau itu terbuka, tak berdinding. Hanya tiang – tiang dari kayu sebagai penyangganya. Atapnya berupa genting yang sudah dimakan usia. Setiap sisi terdapat berbagai macam bunga tumbuh indah memberikan kesegaran mata. Tumbuh pula bunga melati yang mulai merekah mewangi baunya. Aku kembali teringat sosoknya.

“sampai kapan Neng?” ucap Fitri tiba-tiba.
Kami menapaki jalanan desa yang masih berupa tanah. Tak jauh, hanya perlu melewati beberapa hunian warga untuk sampai ke rumah.

“Apanya?”tanyaku tak mengerti.

“Terus ingat dia,”ucap Fitri sambil menggoda.

“Dia siapa?”balasku seolah tak tahu, tapi sebenarnya aku mengerti alur percakapannya.

“Si Fahmi, siapa lagi,” lanjutnya sambil senyum – senyum.

Aku terdiam. Ku biarkan khimarku berkibar oleh sapuan lembut angin senja. Bayangannya kembali bergelayut di pikiranku. Ku coba menepisnya. Bagaimanapun dia bukanlah siapa-siapaku, begitu sebaliknya. Bukankah pertemuan itu pangkal perpisahan. Dia hanya akan menjadi seikat kenangan dan setangkai pelajaran. Karena sesungguhnya kehidupan hanyalah bagian dari episode – episode cerita yang telah ditulisNya.

“Tahu ah, sampai ketemu besok sore ya Fit,” ucapku kemudian sambil melambaikan tangan.

“Assalamu’alaikum,”

“wa’alaikumussalam.”

***
“Dek, tadi ada yang nyariin sampean,” ucap kakakku tiba-tiba saat memasuki rumah.

“siapa?”tanyaku.

“seorang cowok, lupa tadi Mbak tidak menanyakan namanya.”

“Hemm, emang dia ngapain kesini Mbak?”

“Hayoo siapa dia?”tanyanya lagi.

“gimana toh mbak, mana Wulan tahu. Kan yang ketemu dengannya Mbak, bukan Wulan. Jawab pertanyaan Wulan gantian,” ucapku.

“Dia nitipin sebuah buku. Katanya milik sampean. Adek aku ini tidak lagi pacaran kan?” tanyanya membuatku sedikit kaget.

“Mana berani toh Mbak, bisa-bisa dimarahi Bapak sama Ibuk nanti,” kataku.

“Oh ya Ibuk mana Mbak?”tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Lagi keluar sama Bapak,”

“Oh ya mana bukunya Mbak, aku lihat,”pintaku.

“Aku taruh di kamar Wulan. Ya udah Mbak mau wudhu dulu. Kita sholat maghrib jamaah,”ucap Mbak Yayuk. Aku langsung menuju kamar, penasaran.

Tergeletak di meja sebuah buku catatan. Tak asing bagiku. Ku buka isinya, ternyata itu adalah catatan Bahasa Inggrisku saat SMA dulu. “Kok bisa”pikirku.

Aku mencoba mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang yang dulu meminjam buku catatanku. Parahnya baru aku sadar kalau buku catatanku ternyata ada yang minjam. Siapakah kamu?



ditullis 14 Juni 2016
oleh Brianzenict


*fiktif
Spesial Ramadhan


Sourcephoto: https://www.bukalapak.com/p/buku/lain-lain-506/9qxya-jual-buku-peekmybook-the-notebook-buku-catatan-agenda

3 komentar:

  1. dek, assalamu'alaikum. mau komentar ttg tulisannya boleh yaa. mungkin bisa lebih diperhatikan lagi tulisannya, kalau mau menggunakan bahasa baku ya ditulis bahasa baku semua. kalau ada yg singkatan atau kata2 jawa dan bahasa asing lain bisa dimiringkan hurufnya.

    terus juga mengenai kata serapan, tolong dikoreksi lagi seperti kata "akhlaq" td ditulis aklaq.

    mohon maaf.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaykumussalam.
      wah iya Mbak, makasih banyak koreksinya.
      Hehehe sepertinya saya butuh seorang editor nih.

      Mungkin tulisan saya yang lain bisa bantu ngoreksi mbak..?
      hehehe

      Hapus
    2. bolehlah dicoba, hhe bagus-bagus kok tulisannya

      Hapus