Wajah Hujan

12:46:00 AM Brian zenict 0 Comments

serial cerita berkelanjutan kembali lagi nih. 
Cerita kali ini dibuka oleh goresan pena sahabat saya, Widad
-selamat membaca-


Bolehkah aku menerjemahkan hatimu? Sembunyi, meluruhkan keraguan yang  menjadi bayang-bayang keheningan. Tak sempurna kumeniti, sebab suaramu begitu lirih. Kini di salah satu potongan episode, aku telah memahami, bagaimana cara terbaik tuk menanti dan menerima. Episode cerita, tentang cinta cita.” 

Tingklung, Handphoneku bergetar. Kulihat pesan dari Lahfah, ternyata dia mengajak kembali ke kota pukul dua siang. Setengah dua aku sudah siap di rumahnya, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana. Lahfah, dialah sahabatku yang selalu siap menasehati dan melengkapi. Tak masalah dengan kejailanku dan akan tetap seperti itu.

Zoya namaku, “ceria dan penuh semangat, setidaknya itu yang mereka katakan tentangku.”

Aku dan Lahfah, mahasiswi tingkat akhir menuju mimpi yang menjadi cita. Perjalanan ini sudah biasa bagi kami, bertemu dengan kendaraan-kendaraan besar dan jalanan yang tak bersahabat. Tak jarang  kami mendapati keberuntungan, entah itu karena kesalahan sendiri ataupun pengendara lain, bersyukur.

Dalam satu bulan kami bisa pulang sekali bahkan lebih, membuat iri teman-teman yang berada jauh dari kota asal.
“ Sudah jam dua lebih Lahfah, ayo buruan,” ajakku yang mulai bosan menunggu sebab semakin membuatku ngantuk.
“Iya, selesai kok.”
Pukul dua seperempat kami berangkat, kulihat langit yang mulai menata rapi awan-awan kelabu membentuk warna hitam pekat. “Rasanya mau hujan, bagaimana nanti menghindarinya?” aku mulai khawatir karena tak membawa jas hujan.

“Kamu tidak membawa jas hujan Zy? Bukannya kamu baru beli.”
“Hehehe, ada di Hana. Minggu kemarin dia terjebak di kosku.”
“Belum kamu ambil? Yasudahlah, nanti kalok hujan berteduh.”
“Setuju.”

Benar saja, belum jauh kami meninggalkan rumah gerimis menyambut. Awalnya aku meminta Lahfah untuk terus melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya kami memilih untuk berteduh. Hujan turun sangat deras, angin pun tak mau kalah. Basah sudah meski kami berteduh, karena harus melindungi leptop  yang jelas penting untuk tugas akhir kami.

Selama menunggu, pandangku tertuju pada ibu muda yang menggendong anak kecil dan disampingnya berdiri laki-laki tinggi tegap.
 “Apakah dia ibunya, ataukah kakaknya?” timbul tanya dalam diriku hingga kutahu jika mereka adalah suami istri. Satu jam setengah kami menunggu, sepertinya langit mulai lelah menangis.
“Sudah aman semua kan?” tanyaku pada Lahfah.
“Sudah, serius ini berangkat?” Lahfah meyakinkan.
“Tentu, akan semakin gelap kalau kita terus menunggu.”
“Tapi Zy, kamu tidak pakek jas hujan.”
“Tenang, jaketku tebal kok. Ya nanti kalok deras kita berteduh lagi.”
“Baiklah.”

Kami memberanikan diri melanjutkan perjalanan. Begitupun dengan pasangan suami istri yang sedari tadi kuamati. Kulihat sang suami mencoba mengenakan jas hujan untuk istri dan buah hatinya. Sedangkan dirinya sendiri hanya memakai jaket biasa untuk melawan rintikan hujan yang tak sepenuhnya reda.
 “MasyaaAllah, suami akan selalu berusaha melindungi istri dan buah hatinya.,” bisikku dalam hati dengan senyum mengembang.
“Lihatlah Lahfah, bijaksana dan penuh tanggung jawab.”
“Hahaha… iya Zy. Membuat iri saja mereka.”
“Kamu Fah, Hahaha..”

Lahfah bercerita banyak hal untuk mengusir dingin, karena tangis langit belum benar-benar berhenti. Terlihat banyak orang yang masih berteduh di emperan-emperan toko. Aku hanya diam, Lahfah yang sedari tadi bercerita seakan bicara dengan batu. Bisu.
“Zoya…..Zoya….Zy. “
“eh iya, apa Fah?”
“Kamu ngantuk?” Lahfah sangat hafal jika aku sering mengantuk ketika perjalanan.
“Tidak Fah.”
“Kenapa diam saja?”
“Aku melihatnya kedinginan Fah.”
“Siapa yang kedinginan Zy?”
“Dia."
“Adnan?"
“Iya, dia berteduh tak jauh dari tempat kita tadi Fah, berdiri dan menatap langit.”
Tak terasa hujan semakin deras, dan langit kembali menangis. Seakan ia mengerti jika hatiku sama.
“Bagaimana Zy, kita berteduh?”
“Aku sudah basah kuyup, lanjut saja Fah.”

Terpaan angin membawa rasa. Dingin. Aku merasakannya, “inikah yang kau rasakan sekarang? lantas apa yang membuatmu bertahan disana? apakah kau pun tak mampu menghindarinya? hingga kau hanya menunggu. Ataukah perasaanmu sedingin ini sehingga langit turut menangis tiada henti.”

Tetasan air jatuh di telapak tangan, menyenangkan. Memang, tak selalu ada pelangi setelah hujan, tapi yakin jika esok kan ada mentari yang menghangatkan. Dan belum tentu esok akan hujan. Pada potongan episode, langit sore tak hadirkan senja. Bukan tuk sembunyi, hanya menumbuhkan rindu teruntukku. Sebab saat aku berdiri di sana, dia terlihat indah.

“Dan menurutmu, apakah senja itu menghilang?”





4 Juli 2016
ditulis oleh -Widad-

#spesial Ramadhan


Sourcephoto: http://haiineola.com/kehidupan/mengapa-menunggu-hujan-reda-biarlah-hujan-yang-lelah-dan-putus-asa/


0 komentar: