serial cerita berkelanjutan puzzle ke tiga
“Dekatilah Allah, maka dunia seisinya akan mengikutimu.
Termasuk bait-bait yang tertulis dalam doamu, bahkan apa yang tak kamu minta
sekalipun. Allah Maha Tahu, sedang kita masih fakir ilmu. Jangan mengejar
dunia, apalagi pada apa-apa yang Allah sudah menjaminnya. Namun kejarlah
akhirat, karena tak ada yang bisa menjamin dimana kita kelak akan bertempat,”
secarik kertas tulismu dalam bilik buku pengantar mimpi.
Tiga tahun sudah aku mendiami tempat ini. Berjalan disisi
lain dari bumi, yang dalam sekali waktu aku bisa terhubung pada dua benua, Asia
- Eropa. Benar. Jembatan Galata, Turki, aku telah sampai disini. Allah
mengindahkan satu diantara mimpi-mimpiku dengan cara seindah-seindahnya
pengharapan dan penerimaan. Aku memperoleh beasiswa S2 salah satu universitas di
Istanbul dengan mengambil jurusan yang tidak jauh beda dari sebelumnya. Tahun
ini, mungkin akan menjadi tahun penghabisan untuk tugas akhirku. Kerinduan akan
Indonesia sudah tak mampu kubendung, sering mewek
jika ingat keluarga.
Fabiayyi
alaa irabbikumaa tukadzdzibaan. Rengekan syahdu
menderu terdengar merdu, seakan ada hajad besar yang hendak ia haturkan pada
Pemilik rindu pun dirinya.
Suara itu menyentuh lembut daun telingaku.
Aku mengusap mata dan berdoa, syukurlah aku masih terbangun untuk menghirup
udara dunia. Seketika pandangku membidik jam berbentuk rumah yang ngamplok di dinding untuk sekedar memberi warna. Ternyata masih jam tiga pagi.
Kuseret langkah yang penuh hina, basahi diri dengan segarnya air di musim semi.
Shodaqallahul’adzim.
Sejurus kemudian ia menutup kitab
menyudahi tilawatilnya dan membaca sesuatu yang membuat wajahnya penuh dengan
ketenangan.
Kuikuti caranya bermanja, memohon ampunan-Nya,
disepertiga malam kumengadu syahdu.
***
Semilir angin musim semi di tepi danau
Van membuatku lebih memilih duduk berdiam di salah satu kursi. Bersama kedua
sahabatku Zahra dan Bahar, aku datang ke kota Van, lebih tepatnya ikut Bahar
pulang mengunjungi orang tuanya. Sejenak mengusir sepi aku melahap beberapa
halaman buku, sambil menunggu Zahra dan Bahar kembali dari membeli camilan. Para
wisatawan yang berlalu lalang tak membuatku terganggu. Bising memang, tapi kucipta
hening lalu menikmatinya, bukankah bahagia itu sederhana.
“Assalamu’alaykum Zy.”
Aku sangat mengenal suara itu, kenapa? dengan
ragu aku membalikkan badan untuk sekedar memastikan apakah benar.
“Wa’alaykumussa…lam,” melihatmu berdiri
disitu membuatku kelu, sedang kau asyik menunjukkan senyum barumu yang terlihat
lebih ramah tak sedingin dulu.
Adnan?
apa kabar? Sudah selesaikah pendidikanmu? apakah kau menemui kesulitan selama disana?
sedang apa di Turki?.....
Dia merubah posisi yang kemudian
berdiri tepat di samping kursi. Angin musim semi riuh mengajari dedaunan menari-nari,
tapi tidak denganku. Aku seakan kembali pada musim salju, beku.
“Apa
kabar Zy? sudah kemana saja? tempat-tempat yang ada di novel sudah kau datangi
semua?,” dia mencoba mencairkan suasana dengan tiga pertanyaan sekaligus. Sedang
untuknya, entah sudah berapa pertanyaan dariku dimana dia tak perlu kesulitan
untuk menjawabnya. Cukuplah aku dan Dia yang tahu.
“Baik, Adnan juga apa kabar? masih disini kok,Astaghfirulloh. Baru
beberapa saja,,hehehe, menyesuaikan budget
ini saja ikut teman pulang kampung.”
Dia
masih saja terlihat dingin, tapi setelah kuanalisa dari senyum dan
pertanyaannya, kupikir dia tak sedingin dulu.
“Baik
juga. Sebentar.” dia mengambil sesuatu dari dalam tas, sebuah bungkusan dengan
solatip disana sini ala pengiriman paket.
Tanpa berani menatap aku menerima
bungkusan itu, setidaknya dengan menjawab salam tadi aku sudah cukup tau. Ada yang
berubah dari penampilannya, lebih rapi dan dewasa, satu hal yang masih sama,
kurus. Hhhha…
“Oh sekarang jadi kurir ya?” aku
tersenyum dengan gampang kata itu
terlontar.
“Bisa jadi, tapi kali ini kurirnya
istimewa, paket dikirim langsung dari Jepang sampai Turki tanpa perantara,” kau
jawab sekenanya.
“Hahha..begitu ya.”
“Baik, sudah dulu ya Zy. Ada keperluan
lain. Assalamu’alaykum.”
“Wa’alaykumussalam.Tunggu Adnan, ini
bukumu.”
“Bawa dulu, nanti di Indonesia saja.
InsyaaAllah.”
Aku ingat dia pernah mengatakan meminjam
itu sama dengan hutang, tapi kenapa buku satu ini tak juga pulang. Terakhir aku
mau kembalikan dia sudah terbang ke Jepang. Hmmmm…
“lagi?”aku berdiri melihatnya yang
terus berjalan menjauh. Kulihat dia menghampiri beberapa orang laki-laki yang
sejurus kemudian terlihat senang menyambut kedatangannya.
Kami pun berpisah tanpa ada yang
menjelaskan mengapa Adnan bisa sampai di Turki. Aku terlalu menikmati sepi sebab
saat aku mulai merasa maka itu hanya akan menjadi ujian belaka.
Aku pernah tak sekuat itu, bahkan jatuh,
sedang yang bisa menolongku hanya Dia. Setidaknya aku memperjuangkan sekaligus mengikhlaskan
meski tak sepenuhnya aku mengerti bagaimana sistem kerja dari keduanya.
Mengharap perjalanan yang dibersamai ridhoNya untuk takdir yang tak perlu
diterka.
***
Di ruangan ini terlihat desain kamar
sederhana ala mahasiswa campuran Indonesia Turki. Yah, tiga tahun sudah aku
bersama dua sahabatku menghabiskan waktu bersama di tempat ini.
Pagi ini seusai menuaikan sholat subuh
berjama’ah, aku membereskan koper yang belum sempat aku jamah sejak pulang dari
Van, termasuk paket dari Jepang.
“Tidur jam berapa kamu Zy?”
“Em, jam dua an Zah .”
Aku meletakkan paket itu di atas meja
dan melanjutkan pekerjaan lain.
“Bungkusan apa ini Zy? kenapa belum kamu
buka?” Zahra terlihat penasaran.
Zahra dan Bahar, kami sudah seperti saudara.
Kami akrab dengan cepat karena kecocokan itu tak perlu diukur dari banyak segi.
Aku mengenalkan Lahfah pada Zahra dan Bahar meski hanya lewat media sosial.
Sejak saat itu, kami berempat memutuskan untuk menjadi sahabat.
Aku terseyum, “Entahlah Zah, aku lebih tertarik
melihatnya seperti itu.”
“Heleh… aku bisa lihat penasaran kamu
sudah kayak gunung mau meletus kali Zy. hahahha,” ejek Zahra.
Senyumku menyatakan keberpihakanku
padanya.
“Baiklah akan kubuka.”
“Eh tumben nggak bawel.”
Aku melepas solatip yang melekat kuat.
“Bukankah ini buku, tapi mengapa
sampulnya begitu sederhana, bahkan aku tak menemukan satu huruf pun yang
menunjukkan identitas buku ini.”
Penasaranku sudah terjawab jika
bungkusan yang dia berikan berisi buku.
“Iya kah?’ Bahar yang ikut penasaran.
“Coba kalian perhatikan, tak ada nama
pengarangnya.”
“Iya
Zy, aneh,” timpal Zahra.
Kling.
Hpku bergetar ada pesan WhatsApp masuk. Kuletakkan buku itu, kulihat
WhatsApp dari Lahfah.
“Bangun putri ngantuk, ada yang kembali?”
“Yeey…
sudah bangun daritadi kali. Maksudnya?”
“Hmm…. cepet banget responnya. Kamu tau
yang aku maksud.”
“Adnan?”
“Yups”
“Kok tau aku ketemu dia. Aku curiga.”
“Hahaha, iyakah? pengen lihat wajah
Zoya waktu ketemu Adnan. Pasti lucu abis.”
Tak segera kubalas sebab aku lebih
tertarik memerhatikan pemberitahuan yang menunjukkan Lahfah sedang mengetik.
“Etsss
dilarang suuzan loh ya, asal tebak aja kok. Kapan waktu memang dia
tiba-tiba nge-WhatsApp, nanyain
aktivitasmu pada tanggal itu ngapain. Yah aku bilang kamu ikut Bahar ke Van.”
“lalu?”
“lalu
ketemu sama kamu gitu.”
“Iya, tapi
sedang apa Adnan di Turki. Kemarin aku sempat melihat dia menghampiri beberapa
orang, mungkinkah dia sedang menyelesaikan pekerjaan disini? Tapi ini Van bukan
Istanbul Fah.”
“Sudahlah
Zy, Allah lebih tau tentang itu.”
“Iya Fah.
Aku mengerti. Terima kasih krupuk.”
“Ihhh…. Awas
aja kalok pulang.”
“Bilang aja
rindu, ih… dasar krupuk.”
“Sekarang
aku biarin sesuka kamu Zy, tapi ati-ati kalok di Indonesia.”
“Iya kok
hati-hati. Tenang.”
“Yasudah, aku
mau siap-siap sholat. Cepet pulang ya.”
“Doakan
saja.”
Belum sempat aku membaca aksara-aksara
itu, aku harus segera bersiap untuk menemui dosen terkait tugas akhir.
***
Musim semi, waktu bagi bunga tulip
untuk merekahkan mahkotanya. Sungguh, Allah mencipta setiap hal dengan segala
kebersamaannya. Menghidupkan setelah mati. Mencairkan setelah beku. Dan untuk
itu, lagi, benar jika memperjuangkan atau mengikhlaskan tak harus memilih satu
diantaranya tapi sudah seharusnya mereka beriringan.
Mataku menjelajah mencari tempat yang
nyaman, ya disana. Di bawah pohon teduh ada beberapa kursi, aku duduk dan
mengambil buku dari dalam tas. Kali ini aku memperhatikan lebih seksama, seharusnya
aku tak perlu bertanya sebab belum satupun aksara kubaca.
apa judulnya?
Spesial tahun baru
1 Muharram 1438H
ditulis oleh Widad
Sourcephoto: http://id.tubgit.com/bunga-buku-bangku-indah-blur/