Rindu yang mulai beku

2:59:00 PM Brian zenict 1 Comments



Ingin rasanya aku melipat kenangan tentangmu,
meletakkannya dalam peti rindu, lantas ku simpan untuk sementara waktu.
Ingin rasanya aku abaikan, bayangan senyummu di pagi itu.
Bukan ku tak peduli, hanya mencoba menata hati.
Aku takut terlalu berharap padamu, dan membuat Allah cemburu.
Sungguh rasa ini, nikmat Allah yang teramat aku syukuri.
Rasa ini padamu hadir karena cinta-Nya, akankah aku menjadi hamba yang tak tahu diri melupakan kasih dan cinta Tuhannya?

Tenang saja, hanya untuk sementara…
Aku pasrahkan sepenuhnya hati ini kepada pemiliknya.

Senja raib dari pandangan, ketika awan hitam mulai berarak, sejurus kemudian menjelma menjadi hujan. Langkah ku tertahan untuk segera pulang. Aku memutuskan rehat sejenak di mushola sekolah melepas penat belajar seharian. Aku duduk di serambi sambil menikmati setiap tetes hujan yang tak kunjung berhenti. Adakah duka dalam hati seseorang yang ingin kau basuh dan seka, ataukah tangisan jiwa yang coba kau menghiburnya? sehingga engkau betah bertahan disini, wahai hujan di tepian senja?

Ku lihat beberapa anak nekad menerobos hujan, sebagian duduk pula di mushola, di teras kelas, ada yang ngobrol di parkiran, dan ada pula yang berlarian berteduh di gerbang sekolah. Dari serambi mushola yang terletak di dekat pagar yang membatasi sekolah dan jalan raya aku bisa melihat semuanya –anak - anak dan segala aktivitasnya. Selayang kemudian terlihat Arif keluar parkiran menerobos hujan, teman seperjuanganku sejak SD dan kini satu SMA pula. Kenapa dia buru-buru? Melewati gerbang sekolah yang memiiki dua pilar dan beratap genteng, saat itu pandanganku terpaku pada satu arah. Aku melihatmu.
Kenapa kamu sendirian di tengah hujan begini, adakah yang kamu tunggu di penantian itu, Dewi?

Aku menemukannya, entah sejak kapan kamu memiliki jalan yang sama untuk sekolah di tempat yang sama denganku. Seperti baru kemarin kita wisuda dan tak lagi jumpa, kini kita kembali dipertemukan dalam satu sekolah yang sama. Dan dari sekian banyak sekolah SMA, SMK, di kota ini, kenapa kita bisa memilih dalam ruang yang sama. Dari sekian waktu untuk bertemu, kenapa aku harus melihatmu di tengah hujan yang seakan duka itu berasal dari hatiku. Mungkinkah hujan ini tahu konspirasi pertemuan ini, sehingga ia lebih dulu hadir membasuh luka di hatiku (?). Padahal aku berusaha melipat kenangan itu sementara waktu. Mungkinkah cerita ini akan berlanjut seperti dulu?

Aku masih terdiam memandangmu. Apakah kamu tahu kalau aku disini, mengawasi? Udara semakin dingin, sedingin rinduku padamu sore ini. Aku tak tahu harus apa, menyapamu ku tak kuasa, lihatlah aku yang masih kaku seperti dulu, tak peka.

Dingin ini membawaku kelana pada sebuah kenangan dimana aku dan kamu di malam purnama saat pramuka. Kala itu kita satu kelompok dalam permainan entah apa namanya, aku lupa. Kita melingkar di sekitar api unggun yang mulai meredup dan akan berakhir usianya.
“apa hikmahnya?”celetukmu tiba-tiba.
Ku coba mencerna,“Manusia pun akan mengalami fase yang sama. Ketika awal api unggun dicipta, api itu akan menjalar dan memakan kayu bakar sebagai usianya dan akhirnya yang tersisa adalah abu yang bercampur tanah, dan kehangatan yang kita rasakan. Lantas kita membuat api unggun buat apa? Tak lain mencari kehangatan. Allah menciptakan kita untuk apa? Tak lain…”

“beribadah, menjadi khalifah di muka bumi, memberi manfaat kepada makhluk sekitarnya, benar?” lanjutmu kemudian.

“kurang lebih begitu,”jawabku.

“hem…larut malam semakin dingin aja.”ujarmu entah kau tujukan pada siapa.

Dan inilah jawaban bodohku saat itu,”iya.” itu saja.
Harusnya aku tahu maksud ucapanmu. Ku tahu kamu hanya memakai pakaian pramuka, sedangkan aku yang memakai jaket sangat tolol dan tak peka. Kamu lantas terdiam, sedangkan aku…, aku memilih sibuk dengan urusanku sendiri. Meski aku bisa menyelesaikan berbagai persoalan matematika dan menguraikannya, namun persoalan hatimu, aku gagal total dalam mengurai bahkan sekedar memahaminya. Apakah semua lelaki itu memiliki masalah yang sama tentang wanita, seperti diriku? Atau hanya aku seorang yang memilikinya?

“nia, bisa minta tolong?”ku sudahi lamunanku. Aku nyamperin nia yang juga sedari tadi duduk di mushola.

“eh, kamu? Kita sekelas kan ya.”jawabnya. Padahal baru kemarin ada sesi perkenalan untuk siswa baru di kelas, dia udah lupa. Atau memang hanya aku yang tak diingatnya, ah malang nian nasibku.

“iya, kenalkan lagi. Namaku Rian. Bisa minta tolong antarkan jaketku ini padanya.” Ucapku sambil menunjuk ke arah siswi yang berdiri di gerbang sekolah.

“masih hujan, nanti ajalah ya..”balasnya.

“pakai payung tuh, tolonglah ya.” Bujuk ku.

“harus sekarang ya? Emang dia siapamu?” malah tanya segala.

“dia temanku, harusnya aku memberikan jaket ini sejak dulu, hanya saja baru sadar sekarang. Please… ntar tak belikan bakso di kantin.” Nego ku selanjutnya.

“ok, aku kesana..”tunjuknya ke arah gerbang sekolah.
“Kamu kesana…”lanjutnya menunjuk arah kantin.

“eh…ok ok. Sip” jawabku.

“eh sama satu hal lagi,"sergahku kemudian. "jangan bilang kalau jaket itu dariku ya. Bilang aja kamu meminjaminya, sambil kenalan aja kamu sama dia. Ok?” lanjutku.

“ya…ya” jawabnya ketus.

Aku berlari ke kantin –karena ndak bawa payung- memenuhi janjiku sendiri, karena janji adalah hutang. Maka harus aku bayar sekarang daripada ditagih di hari penghisapan.

***
Aku kembali ke mushola, nia sudah menunggu dengan tatapan mata berbinar – binar yang penuh pengharapan. Laper nih anak mungkin…

“namanya dewi ya,”sambutnya.

“udah kenalan ternyata, lha jaketnya kog dibawa lagi?” tanyaku heran.

“saat aku nyamperin dia, aku cuman ngobrol sebentar. Mau tak kasihkan nih jaket, ada laki-laki yang menjemputnya. Entah siapa.”jawabnya.

“terus…?”lanjutku.

“ya ndak jadilah, dia buru-buru pulang naik motor. Udah mana pesenanku…” ucapnya sambil menyerahkan jaketku kembali.

Aku kemudian berlalu. Kembali menyendiri di pojok serambi. Menerawang jauh ke langit yang masih saja meneteskan air matanya seakan mencoba menghibur dukaku saat ini. Mungkinkah hujan sore ini sengaja singgah untuk menemaniku yang tak berdaya ini? Mungkinkah senja tak tega melihat kebodohanku kali ini? Sehingga dia bersembunyi di balik awan hitam dan rintikan hujan yang tiada henti. Dingin semakin menjalar diseluruh tubuh dan nadiku. Menusuk tulang-tulangku. Dan kali ini, membuat rinduku mulai beku. Akankah esok kita harus bertemu?


 *fiksi

ditulis kala hujan gerimis
20 februari 2016

1 komentar: