Rindu yang mulai beku
Ingin rasanya aku melipat kenangan
tentangmu,
meletakkannya dalam peti rindu, lantas ku
simpan untuk sementara waktu.
Ingin rasanya aku abaikan, bayangan
senyummu di pagi itu.
Bukan ku tak peduli, hanya mencoba menata
hati.
Aku takut terlalu berharap padamu, dan
membuat Allah cemburu.
Sungguh rasa ini, nikmat Allah yang teramat
aku syukuri.
Rasa ini padamu hadir karena cinta-Nya,
akankah aku menjadi hamba yang tak tahu diri melupakan kasih dan cinta
Tuhannya?
Tenang saja, hanya untuk sementara…
Aku pasrahkan sepenuhnya hati ini kepada
pemiliknya.
Senja raib dari pandangan, ketika awan
hitam mulai berarak, sejurus kemudian menjelma menjadi hujan. Langkah ku
tertahan untuk segera pulang. Aku memutuskan rehat sejenak di mushola sekolah
melepas penat belajar seharian. Aku duduk di serambi sambil menikmati setiap
tetes hujan yang tak kunjung berhenti. Adakah duka dalam hati seseorang yang
ingin kau basuh dan seka, ataukah tangisan jiwa yang coba kau menghiburnya?
sehingga engkau betah bertahan disini, wahai hujan di tepian senja?
Ku lihat beberapa anak nekad menerobos
hujan, sebagian duduk pula di mushola, di teras kelas, ada yang ngobrol di
parkiran, dan ada pula yang berlarian berteduh di gerbang sekolah. Dari serambi
mushola yang terletak di dekat pagar yang membatasi sekolah dan jalan raya aku
bisa melihat semuanya –anak - anak dan segala aktivitasnya. Selayang kemudian
terlihat Arif keluar parkiran menerobos hujan, teman seperjuanganku sejak SD dan
kini satu SMA pula. Kenapa dia buru-buru? Melewati gerbang sekolah yang memiiki
dua pilar dan beratap genteng, saat itu pandanganku terpaku pada satu
arah. Aku melihatmu.
Kenapa kamu sendirian di tengah hujan
begini, adakah yang kamu tunggu di penantian itu, Dewi?
Aku menemukannya, entah sejak kapan kamu
memiliki jalan yang sama untuk sekolah di tempat yang sama denganku. Seperti baru
kemarin kita wisuda dan tak lagi jumpa, kini kita kembali dipertemukan dalam
satu sekolah yang sama. Dan dari sekian banyak sekolah SMA, SMK, di kota ini, kenapa
kita bisa memilih dalam ruang yang sama. Dari sekian waktu untuk bertemu,
kenapa aku harus melihatmu di tengah hujan yang seakan duka itu berasal dari
hatiku. Mungkinkah hujan ini tahu konspirasi pertemuan ini, sehingga ia lebih
dulu hadir membasuh luka di hatiku (?). Padahal aku berusaha melipat kenangan
itu sementara waktu. Mungkinkah cerita ini akan berlanjut seperti dulu?
Aku masih terdiam memandangmu. Apakah kamu
tahu kalau aku disini, mengawasi? Udara semakin dingin, sedingin rinduku padamu
sore ini. Aku tak tahu harus apa, menyapamu ku tak kuasa, lihatlah aku yang
masih kaku seperti dulu, tak peka.
Dingin ini membawaku kelana pada sebuah kenangan
dimana aku dan kamu di malam purnama saat pramuka. Kala itu kita satu kelompok
dalam permainan entah apa namanya, aku lupa. Kita melingkar di sekitar api
unggun yang mulai meredup dan akan berakhir usianya.
“apa hikmahnya?”celetukmu tiba-tiba.
Ku coba mencerna,“Manusia pun akan
mengalami fase yang sama. Ketika awal api unggun dicipta, api itu akan menjalar
dan memakan kayu bakar sebagai usianya dan akhirnya yang tersisa adalah abu
yang bercampur tanah, dan kehangatan yang kita rasakan. Lantas kita membuat api
unggun buat apa? Tak lain mencari kehangatan. Allah menciptakan kita untuk apa?
Tak lain…”
“beribadah, menjadi khalifah di muka bumi,
memberi manfaat kepada makhluk sekitarnya, benar?” lanjutmu kemudian.
“kurang lebih begitu,”jawabku.
“hem…larut malam semakin dingin aja.”ujarmu
entah kau tujukan pada siapa.
Dan inilah jawaban bodohku saat itu,”iya.” itu saja.
Harusnya aku tahu maksud ucapanmu. Ku tahu
kamu hanya memakai pakaian pramuka, sedangkan aku yang memakai jaket sangat
tolol dan tak peka. Kamu lantas terdiam, sedangkan aku…, aku memilih sibuk
dengan urusanku sendiri. Meski aku bisa menyelesaikan berbagai persoalan
matematika dan menguraikannya, namun persoalan hatimu, aku gagal total dalam
mengurai bahkan sekedar memahaminya. Apakah semua lelaki itu memiliki masalah
yang sama tentang wanita, seperti diriku? Atau hanya aku seorang yang
memilikinya?
“nia, bisa minta tolong?”ku sudahi lamunanku. Aku nyamperin nia
yang juga sedari tadi duduk di mushola.
“eh, kamu? Kita sekelas kan ya.”jawabnya. Padahal
baru kemarin ada sesi perkenalan untuk siswa baru di kelas, dia udah lupa. Atau memang hanya aku
yang tak diingatnya, ah malang nian nasibku.
“iya, kenalkan lagi. Namaku Rian. Bisa minta
tolong antarkan jaketku ini padanya.” Ucapku sambil menunjuk ke arah siswi yang
berdiri di gerbang sekolah.
“masih hujan, nanti ajalah ya..”balasnya.
“pakai payung tuh, tolonglah ya.” Bujuk ku.
“harus sekarang ya? Emang dia siapamu?” malah
tanya segala.
“dia temanku, harusnya aku memberikan jaket
ini sejak dulu, hanya saja baru sadar sekarang. Please… ntar tak belikan bakso
di kantin.” Nego ku selanjutnya.
“ok, aku kesana..”tunjuknya ke arah gerbang
sekolah.
“Kamu kesana…”lanjutnya menunjuk arah
kantin.
“eh…ok ok. Sip” jawabku.
“eh sama satu hal lagi,"sergahku kemudian. "jangan bilang kalau
jaket itu dariku ya. Bilang aja kamu meminjaminya, sambil kenalan aja kamu sama
dia. Ok?” lanjutku.
“ya…ya” jawabnya ketus.
Aku berlari ke kantin –karena ndak bawa payung-
memenuhi janjiku sendiri, karena janji adalah hutang. Maka harus aku bayar
sekarang daripada ditagih di hari penghisapan.
***
Aku kembali ke mushola, nia sudah menunggu
dengan tatapan mata berbinar – binar yang penuh pengharapan. Laper nih anak
mungkin…
“namanya dewi ya,”sambutnya.
“udah kenalan ternyata, lha jaketnya kog
dibawa lagi?” tanyaku heran.
“saat aku nyamperin dia, aku cuman ngobrol
sebentar. Mau tak kasihkan nih jaket, ada laki-laki yang menjemputnya. Entah siapa.”jawabnya.
“terus…?”lanjutku.
“ya ndak jadilah, dia buru-buru pulang naik
motor. Udah mana pesenanku…” ucapnya sambil menyerahkan jaketku kembali.
Aku kemudian berlalu. Kembali menyendiri di
pojok serambi. Menerawang jauh ke langit yang masih saja meneteskan air matanya
seakan mencoba menghibur dukaku saat ini. Mungkinkah hujan sore ini sengaja
singgah untuk menemaniku yang tak berdaya ini? Mungkinkah senja tak tega
melihat kebodohanku kali ini? Sehingga dia bersembunyi di balik awan hitam dan
rintikan hujan yang tiada henti. Dingin semakin menjalar diseluruh tubuh dan
nadiku. Menusuk tulang-tulangku. Dan kali ini, membuat rinduku mulai beku. Akankah
esok kita harus bertemu?
*fiksi
ditulis kala hujan gerimis
20 februari 2016










MAsyaaAllah... Keep on writing, Nak.
BalasHapus