Tiket Khitbah #2
Setelah
selesai urusan dengan petugas bagian check in tiket, aku segera menuju
mushola untuk sholat maghrib. Mushola At-Takwir, cukup bersih untuk ukuran
mushola mini di stasiun. Terlihat sudah ada beberapa jamaah yang mulai sholat
maghrib. Aku menenggak minuman yang barusan beli di stan makanan.
Alhamdulillah, momen paling menyenangkan ketika Ramadhan adalah detik – detik
menjelang tiba waktunya berbuka. Aku segera ambil wudhu, kemudian merapat ke barisan jamaah untuk
sholat maghrib.
Tut….tut..tut..kereta
Bima rute Jakarta – Jombang akhirnya tiba. Tiketku menunjukkan gerbong nomer
dua kursi 13A. Segerombolan orang mulai antri memasuki gerbong. Aku ambil
jarak, menunggu reda situasi desak-desakan yang sangat tidak ku suka. Aku
mengedarkan pandangan, mengeja satu per satu ke pintu masuk gerbong kereta. Tak
ku temukan gadis UI yang tadi mengantri tepat di belakangku saat beli tiket.
Aku seolah menerka bahwa dialah yang membayar tiketku. Aku berharap bisa
mengucapkan terima kasih padanya. Karena bagiku tiket ini harganya tidak bisa
dikatakan murah jika diukur dari kantong seorang mahasiswa biasa, entah kalau
memang dia anak orang kaya. Namun di kota besar seperti Jakarta ini jarang
kutemui ada orang-orang yang sangat peduli dengan orang asing. Kecuali kalau
dia memang seorang muslim sejati yang mengikuti sunah-sunah nabi.
Pintu
gerbong nomer dua mulai sepi, aku bergegas masuk. Ternyata di gerbong dua tidak
banyak penumpangnya. Hanya beberapa dan masih banyak kursi yang tak
berpenghuni. Kali ini aku harus mencari tempat duduk sesuai tiketku. Ketemu,
kursi nomer 13A dan gadis itu?
Ku
rasa dia tidak memperhatikanku. Aku duduk di sampingnya. Dia lagi sibuk baca
buku, ‘Ayat-ayat Cinta 2’. Ku letakkan tas ranselku dibawah kursi. Aku menghadap
jendela. Hem, kurasa perjalanan ini cukup lama. Kondisi seperti ini apakah
tidak apa-apa. Seat itu hanya diisi oleh aku dan dia.
Semenit
kemudian kereta mulai bergerak pelan, menambah kecepatan dan akhirnya
meninggalkan stasiun Gambir dan beberapa kenangan. Waktu menunjukkan pukul
18.30 WIB. Sepertinya aku harus sholat traweh sendirian. Untung tadi sudah
menjamak sholat isya’ di waktu maghrib. Ku taksir akan tiba di Jombang pukul
6.30, itu artinya aku harus sholat subuh di kereta. Atau beruntung kalau tiba
waktunya subuh, kereta berhenti di salah satu stasiun.
Keheningan
tercipta cukup lama. Dia masih fokus dengan bacaannya.
“Assalamu’alaikum,”ucapku
padanya memecah sepi.
Dia
agak kaget. Dilepaskannya pandangan itu dari bukunya.
”wa’alaikumussalam,”ucapnya
datar.
Ku
lihat sekilas wajahnya yang ayu itu, beberapa detik pandangan kami bertemu. Segera
ku tundukkan kepala. Ku rasa dia juga.
“Mbak
sudah berbuka?”tanyaku sekedar basa basi. Karena tentu jawabannya ‘sudah’.
“Sudah,”prediksiku tepat.
“saya
ada air mineral, kalau mbak mau”
“terima
kasih. Saya juga sudah ada. Maaf sambil baca buku tidak apa ya”
“oh
iya silahkan.”
Hening
kembali menguasai percakapan kami. Aku kembali terdiam. Ku rasa dia lebih
menikmati dialog – dialog bukunya dari pada berbincang denganku. Atau mungkin
dia mencoba menjaga, toh aku disini memang lelaki yang bukan muhrimnya. Aku maklumi
itu, karena aku pun sama. Tiba-tiba ada perasaan aneh menyusup ke relung hati.
aku coba menguasai diri.
“mbak,
terima kasih tiketnya ya,” ucapku tiba-tiba. Entah, sepertinya aku menjadi
orang sok tahu saat itu. Karena bisa jadi yang membelikan tiket keretaku itu perempuan lain, bukan dia.
“tiket
apa ya?” ucapnya dengan nada tidak mengerti.
Tiket
khitbah mbak, ucapku dalam hati.
“Eh
maaf, saya kira mbak yang tadi membelikan tiket kereta saya. Soalnya saat
mengantri beli tiket tadi, mbak berada tepat di belakang saya.”
“Oh
itu,” ucapnya seperti mengingat sesuatu.
“Iya,
sesama muslim harus saling bantu. Maaf, sepertinya saya kog sok tau. Mas seorang
muslim kan?”
‘Luar
biasa’ pikirku.
“Eh
iya, saya muslim tulen dari Jombang,”ucapku sedikit mencairkan suasana.
“Wah
sepertinya tujuan kereta kita sama,”ucapnya.
“Oh
iya?”ucapku hampir tak percaya. Ku rasa jodoh sangatlah dekat.
“Tiketnya
ini apa perlu saya ganti.”
“Tidak
perlu.”
“Boleh
minta nomernya?”
“Nomer
rekening?”
“Bukan.
Nomer rumahnya. Sekalian alamat lengkapnya.”
“Buat
apa?”
“Saya
mau bertemu orang tua anda,”
“Mau
melunasi tiket itu? Tidak perlu Mas.”
“Bukan.
Saya mau mengkhitbah putrinya.”
Suasana
kembali hening. Sehening hatiku yang tak lagi punya kata. Kereta masih terus
melaju membawa berbagai rasa. Dan kejutan – kejutan lainnya…
selesai ditullis 13 Juni 2016
*fiktif
Spesial Ramadhan
Sourcephoto: https://banibacan.wordpress.com/2012/08/20/wanita-pengejar-kereta/










Buset dah, baru kenal lgsg khitbah wgwgwgw
BalasHapusMelihat aklaqnya sudah ok, langsung eksekusi Bro. Daripada keduluan ikhwan lain. wkwkwk
Hapustemenan ta ton iki :D
BalasHapusBenar-benar fiktif Go.
HapusBagus
BalasHapus