Tiket Khitbah #2

3:11:00 AM Brian zenict 5 Comments



Setelah selesai urusan dengan petugas bagian check in tiket, aku segera menuju mushola untuk sholat maghrib. Mushola At-Takwir, cukup bersih untuk ukuran mushola mini di stasiun. Terlihat sudah ada beberapa jamaah yang mulai sholat maghrib. Aku menenggak minuman yang barusan beli di stan makanan. Alhamdulillah, momen paling menyenangkan ketika Ramadhan adalah detik – detik menjelang tiba waktunya berbuka. Aku segera ambil wudhu, kemudian merapat ke barisan jamaah untuk sholat maghrib.

Tut….tut..tut..kereta Bima rute Jakarta – Jombang akhirnya tiba. Tiketku menunjukkan gerbong nomer dua kursi 13A. Segerombolan orang mulai antri memasuki gerbong. Aku ambil jarak, menunggu reda situasi desak-desakan yang sangat tidak ku suka. Aku mengedarkan pandangan, mengeja satu per satu ke pintu masuk gerbong kereta. Tak ku temukan gadis UI yang tadi mengantri tepat di belakangku saat beli tiket. Aku seolah menerka bahwa dialah yang membayar tiketku. Aku berharap bisa mengucapkan terima kasih padanya. Karena bagiku tiket ini harganya tidak bisa dikatakan murah jika diukur dari kantong seorang mahasiswa biasa, entah kalau memang dia anak orang kaya. Namun di kota besar seperti Jakarta ini jarang kutemui ada orang-orang yang sangat peduli dengan orang asing. Kecuali kalau dia memang seorang muslim sejati yang mengikuti sunah-sunah nabi.

Pintu gerbong nomer dua mulai sepi, aku bergegas masuk. Ternyata di gerbong dua tidak banyak penumpangnya. Hanya beberapa dan masih banyak kursi yang tak berpenghuni. Kali ini aku harus mencari tempat duduk sesuai tiketku. Ketemu, kursi nomer 13A dan gadis itu?

Ku rasa dia tidak memperhatikanku. Aku duduk di sampingnya. Dia lagi sibuk baca buku, ‘Ayat-ayat Cinta 2’. Ku letakkan tas ranselku dibawah kursi. Aku menghadap jendela. Hem, kurasa perjalanan ini cukup lama. Kondisi seperti ini apakah tidak apa-apa. Seat itu hanya diisi oleh aku dan dia.

Semenit kemudian kereta mulai bergerak pelan, menambah kecepatan dan akhirnya meninggalkan stasiun Gambir dan beberapa kenangan. Waktu menunjukkan pukul 18.30 WIB. Sepertinya aku harus sholat traweh sendirian. Untung tadi sudah menjamak sholat isya’ di waktu maghrib. Ku taksir akan tiba di Jombang pukul 6.30, itu artinya aku harus sholat subuh di kereta. Atau beruntung kalau tiba waktunya subuh, kereta berhenti di salah satu stasiun.

Keheningan tercipta cukup lama. Dia masih fokus dengan bacaannya.
“Assalamu’alaikum,”ucapku padanya memecah sepi.

Dia agak kaget. Dilepaskannya pandangan itu dari bukunya.
”wa’alaikumussalam,”ucapnya datar.

Ku lihat sekilas wajahnya yang ayu itu, beberapa detik pandangan kami bertemu. Segera ku tundukkan kepala. Ku rasa dia juga.

“Mbak sudah berbuka?”tanyaku sekedar basa basi. Karena tentu jawabannya ‘sudah’.

“Sudah,”prediksiku tepat.

“saya ada air mineral, kalau mbak mau”

“terima kasih. Saya juga sudah ada. Maaf sambil baca buku tidak apa ya”

“oh iya silahkan.”

Hening kembali menguasai percakapan kami. Aku kembali terdiam. Ku rasa dia lebih menikmati dialog – dialog bukunya dari pada berbincang denganku. Atau mungkin dia mencoba menjaga, toh aku disini memang lelaki yang bukan muhrimnya. Aku maklumi itu, karena aku pun sama. Tiba-tiba ada perasaan aneh menyusup ke relung hati. aku coba menguasai diri.

“mbak, terima kasih tiketnya ya,” ucapku tiba-tiba. Entah, sepertinya aku menjadi orang sok tahu saat itu. Karena bisa jadi yang membelikan tiket keretaku itu perempuan lain, bukan dia.

“tiket apa ya?” ucapnya dengan nada tidak mengerti.

Tiket khitbah mbak, ucapku dalam hati.

“Eh maaf, saya kira mbak yang tadi membelikan tiket kereta saya. Soalnya saat mengantri beli tiket tadi, mbak berada tepat di belakang saya.”

“Oh itu,” ucapnya seperti mengingat sesuatu.
“Iya, sesama muslim harus saling bantu. Maaf, sepertinya saya kog sok tau. Mas seorang muslim kan?”

‘Luar biasa’ pikirku.
“Eh iya, saya muslim tulen dari Jombang,”ucapku sedikit mencairkan suasana.

“Wah sepertinya tujuan kereta kita sama,”ucapnya.

“Oh iya?”ucapku hampir tak percaya. Ku rasa jodoh sangatlah dekat.
“Tiketnya ini apa perlu saya ganti.”

“Tidak perlu.”

“Boleh minta nomernya?”

“Nomer rekening?”

“Bukan. Nomer rumahnya. Sekalian alamat lengkapnya.”

“Buat apa?”

“Saya mau bertemu orang tua anda,”

“Mau melunasi tiket itu? Tidak perlu Mas.”

“Bukan. Saya mau mengkhitbah putrinya.”


Suasana kembali hening. Sehening hatiku yang tak lagi punya kata. Kereta masih terus melaju membawa berbagai rasa. Dan kejutan – kejutan lainnya…



selesai ditullis 13 Juni 2016
*fiktif
Spesial Ramadhan


Sourcephoto: https://banibacan.wordpress.com/2012/08/20/wanita-pengejar-kereta/

5 komentar:

  1. Buset dah, baru kenal lgsg khitbah wgwgwgw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Melihat aklaqnya sudah ok, langsung eksekusi Bro. Daripada keduluan ikhwan lain. wkwkwk

      Hapus