wahai hati, bersabarlah



Wahai hati, bersabarlah
Kuncup bunga pasti mekar pada musimnya
Dan air,
Tak kan salah memilih jalannya
Ia hanya akan mengalir ke muara

Wahai hati, bersabarlah
Allah sudah menuliskannya
Bahkan jauh sebelum kita terlahir ke dunia
Maka,
Masih adakah sangsi dilangkahmu pada-Nya?

Wahai kamu, penyimpan rindu
Bahkan rindupun bukan milikmu
Allah lebih berhak akan itu
Maka tatkala rindu semakin deras menghujanimu
Kamu tak perlu payung untuk berlindung
Biarkan setiap tetesnya menjadi nikmat menuju taat
Kepada Allah kamu semakin dekat

Maka ketika itu,
Bisikkan setiap bait-bait cintamu
Agar Allah mencabut reda hujan rindu

Untukmu, penyimpan cinta
Jangan lalai terhadap rasa
Bahkan cinta itu lebih pantas bersanding dengan-Nya
Bukan aku, yang hanya seorang hamba

Namun ketika tertulis namaku
Disela-sela cintamu untuk-Nya
Maka diamlah dulu kamu disana, sementara
Sedangkan aku akan tetap disini
Biarlah jarak menjadi prosa kita dalam berbenah diri
Tak perlu ada sapa, tak perlu
Bagiku, lewat doa suaramu terdengar merdu

Aku akan tetap disini, tak akan kemana
Sedang kamu, disitu saja
Biarkan air tetap mengalir,
dan kuncup bunga mekar pada musimnya

Jangan terlena pada cinta yang prematur
Bahkan Allah tak menyukai tergesa-gesa
Maka ketika waktu membuka tabir lembaran langit
Tak ada kata terluka yang menyesaki hati
Hanyalah syukur yang berlipat berkali-kali

Maka tetaplah kamu disana,
dan aku disini

Wahai hati.


oleh Brianzenict
menunggu pagi.


#Rindu23092016


Kunci Hati

Serial cerita berkelanjutan, puzzle ke dua
Seri pertama : Wajah Hujan

Di sebuah kedai kampus berlantai dua, menghampar biru danau tepat di sisinya. Kedai itu sangat sejuk, semilir angin tepian danau bebas keluar masuk. Berisik desau angin menggesek dedaunan dan kicau burung saut menyahut riang bertengger di ranting-ranting, dedahanan. Aku menghela nafas panjang. Sudah hampir sejam aku bertahan di pojok kedai itu, menunggu. Jus apel di depanku sekarang tersisa setengah, aku mulai lelah. Kuletakkan bukuku di meja, meski belum selesai seluruhnya kubaca. Aku melempar pandang ke sisi danau. Angin sore membelai lembut memainkan khimarku. Aku mulai menyerah, sebal. Kurasa tidak seorangpun yang bersahabat dengan kata “menunggu”, termasuk aku.

Kedai sore ini semakin sepi. Hanya ada sepasang muda mudi duduk berhadapan di sudut ruangan. Saling bercengkerama tiada bosan. Apa seperti itu orang yang terbakar api asmara, ketika dua hati bertemu, seolah mereka lupa waktu. Sedangkan di sudut yang lain ada dua anak muda berhadapan menghadap papan catur, satu diantaranya memasang wajah senyum penuh kemenangan. Satunya lagi berwajah serius setengah pucat, menatap tajam bidak catur di depannya, terlihat berpikir keras tergambar dari raut wajahnya. Kurasa dia bukan tipe orang yang cepat mengalah oleh keadaan. Dan satu lagi pendatang yang sangat kukenal. Berdiri di anak tangga, mengedar pandang. Tidak sengaja tatapan kami bertemu, matanya masih sama seperti dulu, dingin. Aku segera menunduk, mengambil buku yang tergeletak di meja, pura-pura membaca.

“Assalamu’alaikum, Zy. Maaf membuatmu lama menunggu.”
Aku menurunkan sedikit buku bacaan dari wajahku,”Wa’alaikum…salam.” Aku tergagap, sama seperti sebelum-sebelumnya saat berjumpa. Lidahku selalu kelu saat bertemu dengannya.

Dia duduk di depanku. Tersenyum, seperti biasanya. Senyuman khas miliknya, dan mungkin hanya dia yang punya senyum seperti itu. Aku perlahan menurunkan buku dari wajahku dan meletakkannya dipangkuanku. Aku mencoba tersenyum, sedikit kupaksa,”tidak apa.”

Kami diam sesaat. Aku mencoba menyibukkan diri membolak balik buku, bukan untuk membaca, melainkan menunggu dia memulai bicara. Entah, aku selalu enggan untuk memulai, dan lebih nyaman menunggu. Setidaknya itu adab yang aku pelajari dari Ibuku. Meski menunggu terlalu lama membuatku kesal dan sebal.

“Lahfah dimana Zy?”akhirnya dia mulai memecah sepi.

“Oh…, tadi dia ada. Balik ke kos sebentar katanya,”jawabku.

“Oh,” balasnya singkat.
“Tadi malam tidur dimana?”

“Eh? Kenapa?”sedikit kaget, tidak biasanya dia bertanya hal-hal yang pribadi seperti itu. Kullihat raut wajahnya sesaat, dia tersenyum. Dengan cepat kuatur lensa mataku agar back focus, terlihat dua pemuda di pojok ruangan menyudahi permaianan caturnya, beranjak meninggalkan kedai.

“hehehe tidak apa, kirain tidur di emperan toko,”jawabnya, sedikit ganjil.

“saya numpang tidur di kos Lahfah. Ada apa sebenarnya Adnan?” tanyaku masih penasaran.

Nggak ada, saya hanya ingin mengembalikan buku kamu,”dia menyodorkan buku, meletakkannya di atas meja, di depanku.

“Makasih sudah mau minjemi buku catatannya,”lanjutnya.

“sama-sama,”balasku.

“seminggu lagi wisuda, jadi saya harus mengembalikan buku-buku yang pernah saya pinjam. Bukankah pinjam itu sama aja dengan hutang, dan hutang harus dibayar sebelum ditagih kelak di akhirat. Mumpung masih diberi kesempatan untuk kita bertemu,”ucapannya menyadarkanku, seolah menamparku. Masih ada beberapa tanggungan buku yang belum kukembalikan.

“iya benar Adnan, terimakasih,”pandanganku ke wajahnya, namun fokus kepada sepasang muda mudi yang tadi duduk di belakangnya. Mereka mulai beranjak meninggalkan ruangan. Bahaya! tinggal aku dan Adnan, berdua di kedai ini.

“Adnan…,”

“Iya, saya pikir cuman itu keperluanku. Saya pamit dulu. Assalamu’alaikum,”ucapnya sambil tersenyum, lantas beranjak meninggalkan ruangan. Dan mungkin itu senyum terakhirnya untukku. Punggungnya lenyap di pintu. Kini aku seorang diri masih menunggu. Betanya-tanya,”Hanya itu?”

***

Adnan. Dia yang selalu tahu maksud isyaratku meski tak pernah terucap kata. Dia yang sangat paham bahwa berdua dengan yang bukan mahramnya itu larangan agama. Dia yang lebih mengerti arti dari sikapku selama ini yang selalu menundukkan pandangan saat bertemu adalah semata untuk menjaga diri. Dan bahkan baru aku sadari maksud dari pertanyaannya saat itu. Dia tahu kalau kunci kamar kosku hilang, pantas dia senyum-senyum saat menanyakannya, aku tidur dimana.

Ternyata dia yang menemukannya. Dia selipkan sebuah kunci di tengah-tengah lembar buku yang dikembalikannya. Kenapa kamu seolah tahu tentangku Adnan?

Mungkin sore itu, di kedai lantai dua, saat senja merah saga, saat angin berhembus syahdu, saat-saat terakhir kita bertemu. Menjadi akhir dari senyumanmu padaku. Dan mungkin akhir dari perasaan aneh yang selalu sukses membuat lidahku kelu saat bertemu denganmu.

Adnan, apakah hanya kunci kosku yang kamu temukan? Apakah ada kunci lain yang hendak kamu sembunyikan?

***

Tiga tahun berlalu, sekarang musim semi di Turki. Kupu-kupu berkejaran menari. Bunga-bunga merekah indah. Burung-burung bercericit di dedahanan. Aku duduk hening menikmati panorama Danau Van. Ditengah keramaian para wisatawan, seolah ada suara yang sangat kukenal. Tepat dibelakang dari tempat dudukku, aku berbalik menoleh dan membalas salam,”Wa’alaikumussa…lam.”


Adnan?



11 September 2016
ditulis oleh Brianzenict

#Special Dhullhijjah


Sourcephoto: https://id.advisor.travel/poi/Danau-Van-642#photo_ex_77090

Potongan yang usang



Setiap kali pulang,
potongan-potongan kenangan itu kembali membayang
di jalanan yang berlubang,
pada setapak jalan di pematang,
bangku-bangku sekolah yang usang,
di tepian tanah yang lapang,
beringin yang lebat menjulang,
aku biasa bersandar disana, saat siang.
menunggu bel masuk kelas berdentang.
lagi dan lagi,
kulewati jalanan yang dulu pernah kuberlari
terlambat sekolah sesekali
dan selalu beruntung guru tidak mengetahui
menyelinap, masuk, saat kelas sedang sepi
sekali lagi potongan itu kembali
aku selalu tersenyum, sendiri
hingga aku sampai dititik ini, berdiri
Bukankah terlalu naif dan dusta besar bila semua ini
kuanggap sebagai kebetulan yang memabukkan
kita boleh mabuk, asal selalu sadar bahwa
Allah selalu punya cerita untuk kita
Allah selalu ada, melihat, mendengarkan

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?

#Saat pulang
#SebuahPerjalanan

Wajah Hujan

serial cerita berkelanjutan kembali lagi nih. 
Cerita kali ini dibuka oleh goresan pena sahabat saya, Widad
-selamat membaca-


Bolehkah aku menerjemahkan hatimu? Sembunyi, meluruhkan keraguan yang  menjadi bayang-bayang keheningan. Tak sempurna kumeniti, sebab suaramu begitu lirih. Kini di salah satu potongan episode, aku telah memahami, bagaimana cara terbaik tuk menanti dan menerima. Episode cerita, tentang cinta cita.” 

Tingklung, Handphoneku bergetar. Kulihat pesan dari Lahfah, ternyata dia mengajak kembali ke kota pukul dua siang. Setengah dua aku sudah siap di rumahnya, hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana. Lahfah, dialah sahabatku yang selalu siap menasehati dan melengkapi. Tak masalah dengan kejailanku dan akan tetap seperti itu.

Zoya namaku, “ceria dan penuh semangat, setidaknya itu yang mereka katakan tentangku.”

Aku dan Lahfah, mahasiswi tingkat akhir menuju mimpi yang menjadi cita. Perjalanan ini sudah biasa bagi kami, bertemu dengan kendaraan-kendaraan besar dan jalanan yang tak bersahabat. Tak jarang  kami mendapati keberuntungan, entah itu karena kesalahan sendiri ataupun pengendara lain, bersyukur.

Dalam satu bulan kami bisa pulang sekali bahkan lebih, membuat iri teman-teman yang berada jauh dari kota asal.
“ Sudah jam dua lebih Lahfah, ayo buruan,” ajakku yang mulai bosan menunggu sebab semakin membuatku ngantuk.
“Iya, selesai kok.”
Pukul dua seperempat kami berangkat, kulihat langit yang mulai menata rapi awan-awan kelabu membentuk warna hitam pekat. “Rasanya mau hujan, bagaimana nanti menghindarinya?” aku mulai khawatir karena tak membawa jas hujan.

“Kamu tidak membawa jas hujan Zy? Bukannya kamu baru beli.”
“Hehehe, ada di Hana. Minggu kemarin dia terjebak di kosku.”
“Belum kamu ambil? Yasudahlah, nanti kalok hujan berteduh.”
“Setuju.”

Benar saja, belum jauh kami meninggalkan rumah gerimis menyambut. Awalnya aku meminta Lahfah untuk terus melanjutkan perjalanan, sampai akhirnya kami memilih untuk berteduh. Hujan turun sangat deras, angin pun tak mau kalah. Basah sudah meski kami berteduh, karena harus melindungi leptop  yang jelas penting untuk tugas akhir kami.

Selama menunggu, pandangku tertuju pada ibu muda yang menggendong anak kecil dan disampingnya berdiri laki-laki tinggi tegap.
 “Apakah dia ibunya, ataukah kakaknya?” timbul tanya dalam diriku hingga kutahu jika mereka adalah suami istri. Satu jam setengah kami menunggu, sepertinya langit mulai lelah menangis.
“Sudah aman semua kan?” tanyaku pada Lahfah.
“Sudah, serius ini berangkat?” Lahfah meyakinkan.
“Tentu, akan semakin gelap kalau kita terus menunggu.”
“Tapi Zy, kamu tidak pakek jas hujan.”
“Tenang, jaketku tebal kok. Ya nanti kalok deras kita berteduh lagi.”
“Baiklah.”

Kami memberanikan diri melanjutkan perjalanan. Begitupun dengan pasangan suami istri yang sedari tadi kuamati. Kulihat sang suami mencoba mengenakan jas hujan untuk istri dan buah hatinya. Sedangkan dirinya sendiri hanya memakai jaket biasa untuk melawan rintikan hujan yang tak sepenuhnya reda.
 “MasyaaAllah, suami akan selalu berusaha melindungi istri dan buah hatinya.,” bisikku dalam hati dengan senyum mengembang.
“Lihatlah Lahfah, bijaksana dan penuh tanggung jawab.”
“Hahaha… iya Zy. Membuat iri saja mereka.”
“Kamu Fah, Hahaha..”

Lahfah bercerita banyak hal untuk mengusir dingin, karena tangis langit belum benar-benar berhenti. Terlihat banyak orang yang masih berteduh di emperan-emperan toko. Aku hanya diam, Lahfah yang sedari tadi bercerita seakan bicara dengan batu. Bisu.
“Zoya…..Zoya….Zy. “
“eh iya, apa Fah?”
“Kamu ngantuk?” Lahfah sangat hafal jika aku sering mengantuk ketika perjalanan.
“Tidak Fah.”
“Kenapa diam saja?”
“Aku melihatnya kedinginan Fah.”
“Siapa yang kedinginan Zy?”
“Dia."
“Adnan?"
“Iya, dia berteduh tak jauh dari tempat kita tadi Fah, berdiri dan menatap langit.”
Tak terasa hujan semakin deras, dan langit kembali menangis. Seakan ia mengerti jika hatiku sama.
“Bagaimana Zy, kita berteduh?”
“Aku sudah basah kuyup, lanjut saja Fah.”

Terpaan angin membawa rasa. Dingin. Aku merasakannya, “inikah yang kau rasakan sekarang? lantas apa yang membuatmu bertahan disana? apakah kau pun tak mampu menghindarinya? hingga kau hanya menunggu. Ataukah perasaanmu sedingin ini sehingga langit turut menangis tiada henti.”

Tetasan air jatuh di telapak tangan, menyenangkan. Memang, tak selalu ada pelangi setelah hujan, tapi yakin jika esok kan ada mentari yang menghangatkan. Dan belum tentu esok akan hujan. Pada potongan episode, langit sore tak hadirkan senja. Bukan tuk sembunyi, hanya menumbuhkan rindu teruntukku. Sebab saat aku berdiri di sana, dia terlihat indah.

“Dan menurutmu, apakah senja itu menghilang?”





4 Juli 2016
ditulis oleh -Widad-

#spesial Ramadhan


Sourcephoto: http://haiineola.com/kehidupan/mengapa-menunggu-hujan-reda-biarlah-hujan-yang-lelah-dan-putus-asa/


Pertemuan



Sesi terakhir dari sebuah cerita berkelanjutan
Episode pertama : Catatan Masa Lalu
Episode kedua : Dialog Malam
Episode ketiga : Pertemuan

Happy Reading !

Parkiran masih sepi, terhitung ada 4 motor bertengger disana dijaga oleh pak Jukir (Juru parkir). Kami memasuki ruangan dan disambut oleh sederetan buku – buku dengan berbagai katalog membujur memanjang. Togamas disini tak sebesar ketika kudapati di pusat kota Surabaya. Namun ku rasa koleksi bukunya cukup lengkap untuk ukuran toko buku di kota kecil tempatku berada. Total ada 30 rak buku terbagi menjadi 3 baris berada di pusat ruangan. Ditambah setiap dinding juga dipasang rak untuk memajang buku – buku dengan berbagai kategori. Aku langsung menuju rak bertuliskan kategori pendidikan. Aku membutuhkan beberapa buku untuk bahan ajar esok hari.

“Neng, aku ke rak parenting aja ya,”ucap Fitri. Kalau keluar rumah aku selalu mencari teman karena itu merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan izin Ibu. Entahlah, sebagai seorang perempuan, Ibu menjaga benar anaknya yang satu ini yaitu aku. Beliau selalu berpesan,” tidak baik anak perempuan keluar rumah sendirian tanpa ada mahramnya. Apa kata orang nanti.” Hari ini bapak sedang ke rumah Budhe, Kak Rahmat dan Mbak Yayuk pergi ke pasar. Akhirnya ku seret aja Fitri untuk menemani.

“Ok Fit. Nanti aku menyusul kesana,”balasku.

Cukup banyak koleksi buku – buku pendidikan disini, akhirnya ku temukan buku yang ku cari. Harganya lumayan, aku mengambil dua buku kemudian menuju rak Agama. Koleksi buku – buku karya penulis besar juga lumayan banyak. Ingin rasanya ku beli semua, sayang uang yang tersisa hanya mensyaratkan memilih satu saja. Setelah menimbang dan berbagai perhitungan ku putuskan membeli buku ‘Menjadi Wanita Paling Bahagia’ yang tertulis secara gamblang di atas cover bersampul merah menyala. Buku itu merupakan buku kedua best seller yang ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni, setelah karya pertamanya bertajuk ‘La Tahzan’. Siapa yang tidak ingin menjadi wanita paling bahagia?  

Berikutnya ke rak parenting, aku penasaran buku yang akan dibelli Fitri. “Buku parenting?” gumamku dalam hati tersenyum geli. Sudah siap nikah dia rupanya.

“Hai Fit, beli buku a… pa?” kata-kataku tertahan. Bibirku kelu, bisu. Tubuhku seketika membeku.

“Assalamu’alaikum Wulan, gimana kabar?”kata-katanya mengalun pelan, tenang. Suaranya meruntuhkan dinding hati yang dengan susah payah ku bangun sampai detik ini. Bendungan itu akhirnya jebol, arusnya begitu deras membasahi hati yang kering oleh rindu. Melihat mu saat ini seperti hujan di padang gersang seketika menumbuhkan berbagai warna bunga mengharum wangi. Tumbuh pula disana bunga melati yang lama ku nanti. ‘Apa kabarmu Fahmi?’ gumamku dalam hati.

“Ehm, “

“Eh iya, wa’alaikumussalam,” suara Fitri membuyarkan lamunanku.
“Alhamdulillah sae, Fahmi sendiri?” lanjutku.

“Iya sendiri. Sekarang jadinya bertiga,” ucapmu dengan senyuman khas milikmu itu.

“Eh maksudnya kabar Fahmi gimana?” balasku agak kesal, leluconmu masih sama, tidak berubah. Selalu bermain dengan kata-kata.

“hahaha alhamdulillah seperti yang terlihat,”ucapmu kemudian.

“terlihat makin kurus Mi,”kali ini balas Fitri.

“hehehe iya, lagi banyak pikiran.”

“hayoo memikirkan siapa?” goda Fitri.

“Memikirkan calon istri, hahaha” candamu kali ini membuat nadiku berhenti.

“Mau menikah?”spontan keluar dari mulutku begitu saja.

“iya,”balasmu singkat. Tajam. Seolah menghujam ulu hati. Mataku mengerjap tak percaya. Kenapa kamu masih memahat wajah senyum saat mengatakannya? Tidakkah kamu tengok hatiku yang berwajah muram durja?

“dengan siapa?” balas Fitri cepat.

“dengan muslimah tentunya,” jawabmu tenang. Sedangkan hatiku berisik. Entah perasaan apa kali ini yang mengusikku. Aku semakin tenggelam dalam diam.

Fitri menoleh ke arahku. Aku tetap diam.
“kapan? Cepat sekali ya, seperti baru kemarin kita wisuda bersama. Dan kali ini sudah mau berkeluarga.”

“Cepat atau lambat kita juga akan mulai berkeluarga, pertanyaannya sejauh mana persiapan kita untuk memulainya. Fitri dan Neng Wulan kapan?”

“Aku? masih nunggu pangeran berkuda putih turun dari kayangan,” ucap Fitri sambil terkekeh. Kamu pun ikut tertawa. Seketika suaramu redam, kamu menoleh kepadaku.

“Neng Wulan?” ucapmu.

“Eh iya. Kalau aku masih perlu banyak persiapan. Sambil menunggu Allah yang mempersatukan, aku memilih untuk memperbaiki diri dulu saja,”ucapku tergagap dengan hati tak karuan.

“sampai kapan persiapannya?”balasmu serius. Tak pernah ku lihat raut wajahmu seserius ini sebelumnya. Kamu selalu mengundang tanya.

“sampai ada yang mengkhitbah toh Mi,”suara Fitri memecah ketegangan. Dan kamu kembali tersenyum. Akhirnya kamu undur diri, kembali pergi dengan segudang tanda tanya yang selalu tak ku mengerti. Aku masih tak memahami sikapmu, atau mungkin aku sendiri yang tak mengerti dengan perasaan yang bersemayam selama ini. Seketika bayanganmu berangsur hilang membawa cahaya-cahaya harapan yang pernah menerangi hati.

Apakah kamu sungguh – sungguh dengan ucapanmu itu, Fahmi?



Selesai ditulis 22 Juni 2016, dini hari 1.03 am
oleh Brianzenict

*fiktif
Spesial Ramadhan


Sourcephoto: https://new.vk.com/club67430076