serial cerita berkelanjutan kembali lagi nih.
Cerita kali ini dibuka oleh goresan pena sahabat saya, Widad
-selamat membaca-
“Bolehkah aku menerjemahkan hatimu? Sembunyi, meluruhkan keraguan
yang menjadi bayang-bayang keheningan.
Tak sempurna kumeniti, sebab suaramu begitu lirih. Kini di salah satu potongan
episode, aku telah memahami, bagaimana cara terbaik tuk menanti dan menerima.
Episode cerita, tentang cinta cita.”
Tingklung, Handphoneku bergetar. Kulihat
pesan dari Lahfah, ternyata dia mengajak kembali ke kota pukul dua siang.
Setengah dua aku sudah siap di rumahnya, hanya butuh waktu setengah jam untuk
sampai di sana. Lahfah, dialah sahabatku yang selalu siap menasehati dan
melengkapi. Tak masalah dengan kejailanku dan akan tetap seperti itu.
Zoya namaku, “ceria dan
penuh semangat, setidaknya itu yang mereka katakan tentangku.”
Aku dan Lahfah,
mahasiswi tingkat akhir menuju mimpi yang menjadi cita. Perjalanan ini sudah
biasa bagi kami, bertemu dengan kendaraan-kendaraan besar dan jalanan yang tak
bersahabat. Tak jarang kami mendapati
keberuntungan, entah itu karena kesalahan sendiri ataupun pengendara lain,
bersyukur.
Dalam satu bulan kami
bisa pulang sekali bahkan lebih, membuat iri teman-teman yang berada jauh dari
kota asal.
“ Sudah jam dua lebih Lahfah, ayo buruan,” ajakku yang mulai
bosan menunggu sebab semakin membuatku ngantuk.
“Iya, selesai kok.”
Pukul
dua seperempat kami berangkat, kulihat langit yang mulai menata rapi awan-awan
kelabu membentuk warna hitam pekat. “Rasanya mau hujan, bagaimana nanti
menghindarinya?” aku mulai khawatir karena tak membawa jas hujan.
“Kamu tidak membawa jas hujan Zy? Bukannya kamu baru beli.”
“Hehehe, ada di Hana. Minggu kemarin dia terjebak di kosku.”
“Belum kamu ambil? Yasudahlah, nanti kalok hujan berteduh.”
“Setuju.”
Benar saja, belum jauh kami meninggalkan rumah gerimis
menyambut. Awalnya aku meminta Lahfah untuk terus melanjutkan perjalanan,
sampai akhirnya kami memilih untuk berteduh. Hujan turun sangat deras, angin
pun tak mau kalah. Basah sudah meski kami berteduh, karena harus melindungi leptop
yang jelas penting untuk tugas akhir kami.
Selama menunggu, pandangku tertuju pada ibu muda yang
menggendong anak kecil dan disampingnya berdiri laki-laki tinggi tegap.
“Apakah dia ibunya,
ataukah kakaknya?” timbul tanya dalam diriku hingga kutahu jika mereka adalah
suami istri. Satu jam setengah kami menunggu, sepertinya langit mulai lelah
menangis.
“Sudah aman semua kan?” tanyaku pada Lahfah.
“Sudah, serius ini berangkat?” Lahfah meyakinkan.
“Tentu, akan semakin gelap kalau kita terus menunggu.”
“Tapi Zy, kamu tidak pakek
jas hujan.”
“Tenang, jaketku tebal kok. Ya nanti kalok deras kita berteduh lagi.”
“Baiklah.”
Kami
memberanikan diri melanjutkan perjalanan. Begitupun dengan pasangan suami istri
yang sedari tadi kuamati. Kulihat sang suami mencoba mengenakan jas hujan untuk
istri dan buah hatinya. Sedangkan dirinya sendiri hanya memakai jaket biasa
untuk melawan rintikan hujan yang tak sepenuhnya reda.
“MasyaaAllah, suami
akan selalu berusaha melindungi istri dan buah hatinya.,” bisikku dalam hati
dengan senyum mengembang.
“Lihatlah Lahfah, bijaksana dan penuh tanggung jawab.”
“Hahaha… iya Zy. Membuat iri saja mereka.”
“Kamu Fah, Hahaha..”
Lahfah bercerita banyak hal untuk mengusir dingin, karena
tangis langit belum benar-benar berhenti. Terlihat banyak orang yang masih
berteduh di emperan-emperan toko. Aku hanya diam, Lahfah yang sedari tadi
bercerita seakan bicara dengan batu. Bisu.
“Zoya…..Zoya….Zy. “
“eh iya, apa Fah?”
“Kamu ngantuk?” Lahfah sangat hafal jika aku sering mengantuk
ketika perjalanan.
“Tidak Fah.”
“Kenapa diam saja?”
“Aku melihatnya kedinginan Fah.”
“Siapa yang kedinginan Zy?”
“Dia."
“Adnan?"
“Iya, dia berteduh tak jauh dari tempat kita tadi Fah, berdiri
dan menatap langit.”
Tak terasa hujan semakin deras, dan langit kembali menangis.
Seakan ia mengerti jika hatiku sama.
“Bagaimana Zy, kita berteduh?”
“Aku sudah basah kuyup, lanjut saja Fah.”
Tetasan air jatuh di telapak tangan, menyenangkan. Memang, tak
selalu ada pelangi setelah hujan, tapi yakin jika esok kan ada mentari yang
menghangatkan. Dan belum tentu esok akan hujan. Pada potongan episode, langit
sore tak hadirkan senja. Bukan tuk sembunyi, hanya menumbuhkan rindu
teruntukku. Sebab saat aku berdiri di sana, dia terlihat indah.
“Dan menurutmu, apakah
senja itu menghilang?”
4 Juli 2016
ditulis oleh -Widad-
#spesial Ramadhan
Sourcephoto: http://haiineola.com/kehidupan/mengapa-menunggu-hujan-reda-biarlah-hujan-yang-lelah-dan-putus-asa/